article

menebak strategi kampanye terhadap millenia

menebak strategi kampanye terhadap millenia

Oct 27, 2023

397

bagaimana pemilih muda akan diperlakukan dan strategi apa yang akan diluncurkan

images

Pesta demokrasi sebentar lagi, hanya sepelemparan batu jika yang melempar adalah yang mempunyai kemampuan pengendali waktu. Gegap gempitanya sudah dirasakan sejak 2 tahun kebelakang. Dramanya semakin menjadi belakangan ini, apalagi jika bukan seputaran calon presiden dan wakilnya. Tidak ada yang bisa menebak, apakah drama ini sudah mencapai klimaks, anti klimaks atau justru baru di prolog. 

Komisi Pemilihan Umum baru saja merilis Daftar Pemilih Tetap Pemilu 2024. Sebanyak 204 juta jiwa lebih memiliki kesempatan untuk menggunakan hak pilihnya untuk menentukan pemimpin bangsa beserta programnya yang akan dijalankan pada saat memimpin Indonesia nanti. Disampaikan secara statistik oleh Ketua Divisi Data dan Teknologi Informasi bahwa total rekapitulasi nasional pemilih dalam dan luar negeri sebanyak 514 Kab/Kota, 128 negara perwakilan, 7.277 kecamatan, 83.731 Desa/Kelurahan, 823.220 TPS dan terdiri dari 102,2 juta lebih pemilih laki-laki serta 102,5 juta jiwa pemilih perempuan. Bagaimana? Megah sekali terlihat. Yang menarik adalah bila melihat dari satu sisi bahwa lebih dari 50 persen pemilih adalah generasi muda atau sebanyak 106,3 juta jiwa. Pemilih pemula sebanyak 6 ribu jiwa, Gen-Z atau mereka yang berada di rentang usia 17-30 tahun sebanyak 31 persen, rentang usia 31-40 tahun sebesar 20,7 persen dan diatas 40 tahun sebanyak 48 persen. 

Kita cukupkan sajian data yang bagi sebagian orang menjadi momok, sementara di seberang lainnya justru menjadi bahan menjanjikan untuk dianalisa. Pada beberapa waktu lalu, saya sudah mencoret-coret yang berkaitan dengan pemilu seperti https://ringga.id/articles/popularity-acceptability-and-electability atau https://ringga.id/articles/political-visual-identity Katakan ini adalah sekuel lanjutan dari kedua coretan itu,atau barangkali berbeda, atau mungkin juga suatu yang sia-sia. Tapi biarkan saya lanjut bercerita. Pasca Reformasi 1998, gegap gempita pesta demokrasi layaknya menonton ajang balap. Selalu ada keseruan didalamnya, dibumbui kejutan dan manuver-manuver cantik ataupun berbahaya. Sebuah dinamika yang tidak monoton. Namun mulai pemilu  9 tahun yang lalu, segala sesuatu terlihat berbeda. Baik pencalonan, strategi pemenangan, maupun jalan cerita yang dibangun oleh masing-masing karakter sungguh mencerminkan betapa berwarna-nya kontestasi ini. Dilihat dari sosok yang dicalonkan, betapa narasi membangun karakter masing-masing memperlihatkan effort yang tidak mudah, terlebih bagi mereka yang selama ini berada di daerah dan tidak sering terpantau radar nasional. Jargon-jargon di-delivery dengan lebih dahsyat. Bagaimana slogan dan pandangan tersebut diejawantahkan menjadi aksi fisik yang lebih menegaskan secara simbolik tentang sosok tersebut. Aksi turun ke jalan, bercengkerama dengan masyarakat yang katanya "akar rumput" serta berbagai upaya mendekatkan diri dengan mereka seakan berevolusi lebih jauh lagi dengan aksi seperti turun ke ladang, ke pasar, ke gorong-gorong, daerah kumuh, mendatangi kerumunan dan lain sebagainya. Sayangnya strategi "old school" seperti baliho, stiker poster, spanduk dan berbagai alat peraga kampanye lainnya juga masih menjadi jualan yang tidak bisa dianggap utama namun juga mendapatkan porsi yang besar. Pemasangan secara eksplosif dan sporadis seakan hanya menggambarkan gegap gempita pemilu namun kurang menggambarkan siapa sosok dan apa ide "orisinil-segar" mereka. Setidaknya yang terlihat hanyalah poster, baliho dan spanduk yang saling bertumpuk, berdampingan dan berseberangan serta berlomba untuk lebih besar dan lebih mencolok dibanding yang lain. Terkadang, slogan dan ide yang ditawarkan juga terkesan sama. Yang penting "berbeda", dengan kata kunci "lebih baik", "melanjutkan" dan "menyempurnakan". Kadang juga satu slogan digunakan untuk ribuan kontestan (dalam konteks legislatif baik pusat dan daerah serta eksekutif di daerah), dengan titik koma yang sama, padahal barangkali kondisi yang dihadapi berbeda. Terlalu banyak tanda baca titik dua, pada bahasan ini. 

Disamping strategi diatas, mengambil kesempatan atas kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta besarnya jumlah pemilih generasi muda (yang dipersepsikan lebih melek teknologi), maka diseminasi dan sosialiasi juga gencar dilakukan di ranah dunia maya. Ini juga yang menyimpan potensi permasalahan. Strategi ini dapat dipahami menjadi lebih efektif dan efisien dengan daya jangkau yang makin meluas, namun juga dapat menjadi jurus mematikan bagi harmonisasi masyarakat yang saat ini dipelihara dengan kepayahan. Telah banyak pengalaman perselisihan, pelabelan kubu dan bahkan perpecahan akibat strategi digital ini. Kemajuan dunia teknologi dan arus informasi yang semakin cepat serta mudah dijangkau belum diimbangi dengan kemampuan pemahaman atau barangkali penalaran individu secara utuh. Disinilah potensi dis-integrasi terjadi, bahkan hingga pada level di dalam rumah di satu keluarga. 

Dengan banyaknya jumlah pemilih muda yang mendominasi, maka dapat diperkirakan strategi digital kembali memainkan peran yang lebih besar dibandingkan dengan strategi konvensional lainnya. Melihat masih besarnya kondisi dimana orang sangat mudah melabeli sesuatu tanpa klarifikasi, cepat mengambil persepsi pribadi tanpa konfirmasi serta maraknya disrupsi informasi (dalam hal ini dikenal dengan fenomena -hoax), maka potensi perpecahan masih akan menjadi kerawanan dan hal yang sangat diwaspadai. Bagaimanapun pesta demokrasi sebaiknya tidak dimaknai sebagai pertempuran untuk memenangkan kandidat, namun kepada usaha untuk mengawal dan memastikan agar kepentingan dan kebutuhan masyarakat tetap menjadi panglima, siapapun pemenangnya. Kita pernah (dan masih) mengalami masa dimana arus informasi yang disajikan mengarah pada politik identitas dan serangan negatif hanya untuk menghancurkan karakter seseorang. Kita terkadang juga masih bias, diantara kampanye hitam (black campaign) atau kampanye negatif (negative campaign). Ironi memang, sebuah hal negatif yang diwajarkan. Hal ini karena diantara para pengatur serangan dan penyusun strategi, tidak bisa move-on dan sering terjebak dari hal yang mudah dikerjakan dan didapatkan serta dianggap jitu, sebuah strategi yang merupakan twist dari jargon "Serang Ide-nya, bukan Orang-nya". 

Sebelum lebih jauh, kita perlu tahu perbedaan konteks diantara dua hal negatif ini, black campaign dan negative campaign. Mengutip dari artikel Kompas (Mengenal Perbedaan Kampanye Negatif dan Kampanye Hitam (kompas.com), Kampanye negatif bertujuan untuk memojokkan karakter seseorang, sedangkan kampanye hitam bertujuan untuk menghancurkan karakter seseorang dan mengarah kepada tindak pidana. Dari sisi kebenaran, kampanye negatif menggunakan data yang sahih, sementara kampanye hitam data yang ditampilkan cenderung tidak sahih atau mengada-ada. Kedua hal ini menjadi praktek yang lumrah dan mudah (karena barangkali murah) dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, lebih lagi dalam kontestasi demokrasi. Masyarakat akan digiring untuk meyakini salah satu opini dan mengaburkan deskripsi lainnya dalam perebutan simpati. Hal ini jamak tersedia di lingkungan digital, dimana generasi muda "bermukim". Merujuk data yang disebutkan diatas mengenai statistik pemilih di tahun 2024, mudah ditebak apabila kawasan digital akan menjadi kawah candradimuka (sebuah istilah yang sangat populer sebagai analogi peristiwa kontestasi ini) dan generasi milenial (baik Gen-Y maupun Gen-Z) akan menjadi korban utama yang dibidik dari strategi dimaksud. Kontestasi pemilu, utamanya dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, yang ditunjukkan pada dua pemilu terdahulu, telah mampu memberi warna baru atas bagaimana seseorang dipersepsikan. Kesederhanaan, kerendahan hati, ketenangan dan kerja nyata menjadi slogan sekaligus simbol yang nyata dilakukan dan secara jamak menjadi tauladan bagi kontestasi pemilhan lainnya. Tagline yang menggambarkan lebih banyak bekerja daripada berbicara mampu menyihir simpati pemilih, yang menjadikannya sangat berbeda dari calon lain. Sihir ini tetap dilanjutkan dan ditunjukkan bahkan pada saat menduduki jabatan. Hal ini memberikan dampak positif atas politik dan perilaku politik pada masa ini. Namun diantara geliat positif tersebut, narasi negatif dan bahkan narasi hitam atas profil pribadi seseorang masih dijadikan senjata bagi pesaing untuk merebut massa. Barangkali sasaran utamanya adalah kejatuhan profil orang tersebut, bukan gagasan untuk meraih simpati dan partisipasi yang dikonversi menjadi suara serta kursi. Fenomena ini tergambar pada pemilu pemilu terdahulu dan memperhatikan situasi yang ada, masih akan tetap terjadi pada pesta demokrasi nanti. Disemua platform digital, pada tiap timeline masing-masing akun hampir pasti isinya akan tidak jauh berbeda dari kampanye negatif dan kampanye hitam. Dunia digital lebih banyak dipenuhi informasi negatif ketimbang positif. Terlebih apabila strategi digital yang digunakan menggunakan rumus clickbait dan framing, maka pilihan kata dan atau kalimat yang diberikan cenderung lebih provokatif dan jugdging. 

Lalu bagaimana respon dan reaksi kita seharusnya? Tidak ada rumus mutlak dan tanpa bermaksud menggurui, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Apakah kita akan melakukan penyaringan dengan ketat atau menerima dengan apa adanya seluruh informasi yang disajikan, terlebih jika ada upaya untuk membagikan atau meneruskan informasi tersebut kepada orang lain. Diantara semuanya, khususnya bagi adat Timur, terdapat jurus dengan nama: etika, sopan santun, adab dan berbagai norma positif lainnya yang membentuk pikiran, perbuatan dan ucapan pribadi masing-masing. Bahwa usia dan pendidikan dianggap mencerminkan sikap, cara berbicara dan menganalisa, tidak selalu berbanding lurus. Hal-hal yang ada pada tiap individu, yang menjadi deskripsi masing-masing dipengaruhi oleh keeluruhan konsep kehidupan, dimulai dari lingkungan, pendidikan, penghasilan dan pengalaman hidup yang telah-sedang-dan akan dihadapi. Kebijaksanaan dan etika adalah salah satu pelajaran yang harus dialami para generasi muda sebelum mengambil kesimpulan dan arah tindakan. Atas semua arus informasi dan upaya menggiring opini (dalam hal ini pada konteks pesta demokrasi), respon masing-masing orang akan berbeda. Kecuali bagi mereka yang tidak dapat mendefinisikan pendirian dan pandangan masing-masing. Namun apabila boleh berharap, maka diharapkan respon dan reaksi serta persepsi yang diberikan setidaknya tidak diejawantahkan dalam bentuk yang ekstrim dan merugikan, baik sebagai pribadi maupun terhadap lingkungan. Masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam menerima, membaca dan mengambil kesimpulan serta bersikap atas kesesatan dan pengaburan informasi yang diberikan. Disisi lain, kita tentu berharap para perumus serta eksekutor masing-masing kontestan pemilu dapat menggunakan strategi-strategi yang lebih membangun, bukan merusak atau bahkan menghancurkan. Bagaimana kampanye positif dapat lebih ditonjolkan dengan mengedepankan ide serta gagasan nyata para capres dan caleg ketimbang profil pribadi yang bersangkutan. Kita telah banyak melihat para politisi tersangkut masalah dan kasus, meskipun diawal pencalonannya selalu disertai dengan konsep pribadi yang baik dan dilengkapi foto senyum. Tanpa bermaksud menuduh dan generalisasi kepada tiap-tiap pribadi kontestan politik tersebut, alangkah lebih baik apabila hal-hal tersebut digantikan dengan ide yang lebih krusial, on point dan fokus pada penyelesaian kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pun begitu pendakatan dengan menggunakan metode digital dengan menyasar para generasi muda, dapat lebih terukur, terarah dan tidak serampangan. Anak muda lebih menyukai ide yang jelas, nyata, dan singkat serta yang terkoneksi dekat dengan mereka. Para muda ini sulit untuk menggantungkan sesuatu pada penokohan yang terlihat terlalu sempurna dengan gagasan yang tidak membumi dan berbelit serta berputar-putar. Persoalan ini yang harus lebih dielaborasi oleh para perumus strategi komunikasi politik. Disisi lain, salah satu analisa yang digunakan oleh para pemilih dalam menilai para kontestan politik adalah pada saat mereka berdiskusi atau debat terbuka. Seringkali terlihat pada setiap diskusi dan debat kontestan pesta demokrasi, masing-masing mengandalkan ramuan untuk saling menunggu (pasif di awal), memancing respon negatif, menyerang, menolak gagasan lawan dan menganggap gagasannya adalah yang paling baik dan sempurna yang akhirnya berujung pada perdebatan tanpa arah serta solusi. Hal ini tentu menjadi tontonan yang menjemukan bagi para pemilih, terutama para generasi muda. Apabila fenomena ini tidak dipecahkan, maka esensi diskusi dan adu gagasan yang diberikan tidak dapat di-delivery-kan kepada para pemilih potensial. Selalu ada loop-hole dan blind spot yang ditinggalkan apabila format diskusi tersebut dibiarkan dan tidak diperbaiki kedepan. Dalam hal ini, perlu dijaga adanya konsep devil's advocate yang berarti orang yang berpura-pura menentang ide yang didukung banyak orang untuk mendapatkan pertimbangan yang lebih baik. Peran ini sebaiknya tidak hanya dimainkan oleh moderator diskusi, namun bisa dijadikan strategi oleh masing-masing kontestan, untuk mendorong diskusi yang lebih komprehensif dan menghasilkan keunggulan atas lawan tanpa terlihat merendahkan atau menghancurkan. Strategi ini bukan tanpa masalah. Hal ini memerlukan keahlian seseorang untuk menempatkan diri dalam peran dimaksud dengan tetap menjaga ritme dan durasi diskusi. 

Kontestasi politik dalam pesta demokrasi dengan segala dinamika yang terjadi, seharusnya bukan medan pertempuran untuk dimenangkan dan merebut kekuasaan. Ia adalah skema yang harus dijalankan dengan lebih positif dan santun untuk memperjuangkan dan mewujudkan apa yang dibutuhkan oleh seluruh warga negara bangsa sehingga menghasilkan pemimpin yang mengarahkan pada pencapaian tujuan tersebut. Semoga pemilu kali ini riuhnya tetap tenang, gempita nya tetap damai, jalannya masih aman dan menghasilkan pemimpin yang sesuai kebutuhan serta nyaman kembali hidup berdampingan setelah semuanya berlalu.

Quotes.

"jika tidak bisa belajar dari kesalahan, bagaimana kita akan berjuang dalam kebenaran."- gus candra malik

"if life were predictable it would cease to be life, and be without flavor."- eleanor roosevelt

"ketenangan ditempuh melalui kegelisahan dan keresahan."- aming

"saya tidak pernah melihat apa yang telah dilakukan. saya hanya melihat apa yang masih harus dilakukan."- marie curie

"hasil luar biasa tidak didapat dari usaha yang biasa."- myself

images

loading ...