article

saniscara prana

saniscara prana

May 16, 2025

169

cerita ini fiktif belaka. apabila ada kesamaan nama tokoh, kejadian dan cerita hanya kebetulan yang tidak disengaja. selamat membaca

images

Sabtu sore pukul enam kurang lima, sesosok pria memasuki taman rindang dengan iringan pepohonan yang menjadi titian teduh langit menjulang diatasnya. Tirta Juliansyah, pemuda dua puluh enam tahun, berkacamata, datang dengan kaos hitam vintage kebanggaannya bertulis Broken Rose . Ia menerabas semakin ke tengah taman. Ia duduk di bangku taman yang sangat ia kenali, di tengah-tengah hamparan hijau yang sama, seperti tidak ada yang pernah benar-benar berubah, sebagaimana nuansa itu dipotret dalam lukisan dan ditempelkan di dinding, besar sekali seperti tanpa pembatas. Sabtu sore, tepat pada jam yang sama, sabtu ke 1.825, mungkin lebih atau kurang . Tidak ada yang istimewa, kecuali bahwa ia akan bertemu dengan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Waktu berhenti saat ia duduk di sana, menunggu di tengah taman, dan  mulai sepi. Ia menatap jam tangan dengan pucat. Seperti biasa, hari ini, jam yang sama, ia kembali ke sini, ia seperti dituntun oleh sesuatu yang membuatnya berulang pada kejadian ini. Ada sesuatu yang berbeda. Awan mulai bergantungan di langit, menjadikan jingga menjadi hitam, sore berubah menjadi gelap nan muram. Mungkin hujan, mungkin hanya mendung. Tirta merasa seolah sesuatu telah hilang.

Kemarin, tahun-tahun yang lalu, di tempat sama, ia bertemu dengan Alena untuk pertama kalinya. Mereka hanya berpapasan, sekejap kemudian terlibat dalam percakapan ringan, berlanjut menjadi sebuah pertemuan yang tak terduga. Mereka menghabiskan waktu sore itu, di taman ini, berdua, berbincang mimpi, harapan, dan rencana masa depan. Sinar matahari mulai terbenam, mereka tetap saling berbagi cerita. Ada janji di sana, janji yang mereka buat tanpa banyak berpikir.

“Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama,” kata Alena, dengan tatapan penuh keyakinan. Tirta ingat benar, kalimat itu adalah janji yang tak bisa dibatalkan, sesuatu yang akan mengikat mereka berdua, selamanya. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan, bagi Tirta, bagi Alena. Yang Mereka tahu, apa pun yang terjadi, mereka akan selalu bertemu di sini, di taman ini, sabtu sore pada saat yang sama.

**Mereka terus bertemu di taman itu, sabtu sore, minggu ke minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Waktu melintas terlalu cepat, dalam sekejap, mereka pasangan yang hampir tidak terpisahkan. Taman itu merekam setiap kebahagiaan mereka—dari tawa pertama yang mereka bagi hingga rencana masa depan yang mereka buat bersama. Sabtu sore, selalu di tempat yang sama, dengan langit yang berubah dari keemasan ke merah muda, mereka duduk menikmati senja. Cerita nyaman Tirta di samping Alena. Bahwa janji yang mereka buat adalah janji yang kuat, yang akan membawa mereka melewati segala tantangan hidup.

Namun, garis hidup selalu penuh kejutan, ada belokan tajam pena yang menulisnya. Jarak tumbuh antara mereka, pelan namun konstan. Tidak ada perpisahan, tidak ada pertengkaran, tiba-tiba nahkoda hidup mengarahkan pemisahan. Mereka masih dengan kesibukan masing-masing yang sama, dengan pekerjaannya, dengan kariernya yang terus berkembang, yang mereka dahulu janjikan untuk dihadapi Bersama. Toh itulah mimpi mereka, Bersatu dengan jalan karir. Waktu yang dulu mereka habiskan bersama di taman, seperti barisan album perangko kuno yang terpajang. Menjadi memori tanpa terulangi.

Tirta datang ke taman ini, entah sabtu yang kapan, seperti biasa, bertemu dengan Alena. Tetapi yang datang hanya kesendirian. Tidak ada Alena di sana, tidak ada senyum yang biasa. Hanya bangku kosong yang menunggu, seperti dirinya. Tirta duduk di bangku itu, merasakan sunyi yang tidak pernah ia rasa. Berharap Alena akan datang, seperti dulu, tetapi sabtu itu, sebagaimana sabtu berikutnya, ia datang tanpa berjumpa siapa pun. Pesan-pesan yang dikirimkan tidak dijawab, dan telepon yang ia coba berbunyi kosong.

*** Ia ingat, ini sabtu tahun ke-lima sejak hari terakhir mereka bertemu. Lima tahun yang penuh dengan perubahan, penuh dengan perjalanan hidup yang membawa mereka jauh dari satu sama lain. Tirta tidak tahu apa yang terjadi pada Alena, apakah Alena masih mengingat janji mereka. Apapun, ia tidak melupakan Alena. Sabtu sore, ia selalu kembali ke taman ini, harapan yang tak pernah pudar. Ia menunggu, seperti dulu, dengan keyakinan, Alena akan datang kembali.

Setiap kali ia datang, ia hanya menemukan dirinya sendiri, duduk di bangku yang sama. Ia tidak pernah merasa bodoh, menunggu sesuatu yang tidak akan pernah datang. Tapi toh, ia terus tetap datang. Hatinya terus berharap, rasa semakin berat. Hari yang sama, minggu berikutnya, Tirta duduk di bangku taman, menatap langit yang semakin gelap. Hujan turun perlahan, membasahi wajahnya. Hujan yang selalu datang di waktu yang sama, di tempat yang sama.

Tirta menatap langit, mendung mendekat cepat. Ia merasa ada yang berbeda. Taman hari ini lebih sepi. Tidak ada langkah kaki, tidak ada tawa mengisi udara. Hanya angin yang berbisik pelan dan rintik air hujan yang mulai menetes perlahan. Apakah ini pertanda ia harus melepaskan semua harapan. Apakah ini saat untuk berhenti menunggu sesuatu yang tak pasti. Hanya sebuah tanda tanya, tanpa jawaban, tanpa harapan dijawab.

****Tirta berdiri dari bangku. Langit semakin gelap, dan air dari langit semakin menghujam turun dengan deras. Ia berjalan pelan, menuju pintu taman, merasakan tetesan air semakin banyak membasahi tubuh. Setiap langkah menjelma berat, mengingatkan diri, hidup harus terus berjalan, meskipun banyak yang tidak ia mengerti. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Alena, atau mengapa mereka seperti ini. Yang ia tahu dan hanya tahu, ia selalu mencoba. Menunggu, tetapi hari ini, di bawah hujan yang semakin lebat, ia ragu, haruskah melepaskan semua itu.

Tirta melangkah keluar dari taman, ia berhenti sejenak. Di kejauhan, tawa Alena terdengar samar. Ia menoleh, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya hujan yang turun, tirai yang menutup suasana sekitar. Ia merasa ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa ia capai meskipun ia sudah mencoba, selama itu.

Akhirnya, ia pergi, membiarkan hujan menghapus semua yang ada. Tetapi di dalam hatinya, keyakinannya tetap menyala. Suatu saat nanti, entah kapan, ia akan kembali ke taman ini. Mungkin tidak akan ada Alena yang menunggunya, tetapi ia tahu, hujan ini akan selalu datang pada sabtu sore, membawa kembali kenangan seseorang yang pernah berjanji untuk selalu bersama.

Tirta berjalan perlahan di siram hujan, membiarkan setiap tetesan air menghapus rasa kesendirian. Mungkin inilah yang disebut dengan melepaskan. Tetapi ia tahu, tentang Alena tidak akan pernah hilang. Seperti hujan yang selalu turun sabtu sore, ia akan selalu ada, mengisi ruang kosong hatinya. Meskipun Alena tidak datang lagi, meskipun janji itu tidak tertuntaskan, Tirta merasa suatu hari, di tempat yang sama, di bawah langit yang sama, ia akan kembali. Dan mungkin, hanya berharap mungkin, sekedar kenangan itu akan membuatnya tersenyum, seperti senja yang selalu mereka nikmati Bersama. Kala itu

Quotes.

"santai tidak lagi jadi santai ketika santaimu terlalu santai."- dzawin nur

"i can be fast, but to be arrived first doesn't become my priority now."- myself

"ketika anda hidup untuk opini orang lain, anda sudah mati. saya tidakingin hidup hanya memikirkan bagaimana saya akan dikenang."- carlos slim helu

"tidak penting jadi orang penting, lebih penting usaha untuk tetap jadi orang baik."- myself

"kesabaran adalah tentang mengambil hikmah dari mengalah, bukan pernyataan menyerah."- myself

images

loading ...