article

rindu angkasa

rindu angkasa

May 24, 2024

295

seluruh cerita dan tokoh merupakan karangan belaka, apabila terdapat kesamaan hal demikian murni ketidaksengajaan dan tidak bermaksud menyinggung

images

Pukul setengah empat sore, Kamis 26 Mei. Kapal Muara Suma telah sepenuhnya bersandar, jangkar selesai dilepas ke dasar laut, buritan diturunkan, puluhan kendaraan bermesin saling bersahutan menyalakan mesin mereka satu persatu merambat bergerak keluar, para penumpang pun mulai mengantri berbaris satu persatu di depan geladak pintu keluar. Sore itu laut tenang, udara sedikit teduh sisa hujan sejak siang tadi. Cuaca belakangan sulit ditebak, sebentar panas, sebentar hujan, para pekerja pelabuhan sedang diuji ketahanan tubuhnya. Sosok dengan kemeja flanel pendek warna maroon, celana panjang jeans dan ransel minimalis warna khaki menjejakkan sepatunya di daratan. Ada nuansa sejuk namun sekaligus haru. Ia sempat menyibakkan rambutnya yang sedikit basah terpecik gerimis, merapikan sekena-nya, menghirup udara sembari matanya menyapu sekeliling kawasan pelabuhan. Wajahnya haru namun sendu, dengan sekejap melihat, kita akan tahu betapa ia sangat terikat dengan daerah ini, bahwa ia merindukan kota Tanjung Pesona. Kini ia telah kembali, berdiri di tanah tempat kelahirannya, menghirup udara yang sangat dikenalnya, tiga tahun berlalu sejak kepergiannya.

**Kakinya melangkah menjauhi kawasan pelabuhan, sesekali sneaker Converse-nya menginjak genangan yang dilewati. Sepertinya hujan turun cukup lebat siang tadi sehingga meskipun cuaca sedang menyengat, matahari masih menyisakan spot genangan kecil di beberapa tempat sebagai pemanis nuansa sore itu.

Ia menoleh ke kiri dan kanan seperti mencari sesuatu. Ah itu dia disana!. Tampak di kejauhan, sebelah kiri dibawah rindangnya pohon angsana besar, sebuah angkot tua warna hijau dengan beberapa karat di badannya sedang berteduh tenang, menunggu para pengunjung setianya, siap membawa mereka ke tengah pulau, ke arah kota. Ke sanalah kira2 tujuan para penumpang kapal tadi. Ia mendekat ke arah angkutan tua itu, melewati berpasang-pasang penjaja makanan kiri kanan yang saling bersahutan, berlomba perhatian dompet para penumpang kapal yang baru saja turun. Barangkali diantara mereka lapar, sekedar ingin mengganjal perut atau bernostalgia dengan menu-menu tradisional setempat yang entah sudah berapa lama tidak dirasakan kembali. Bau semerbak kacang dan jagung rebus, kuah bakso dan kepulan asap satai ayam serta makanan lainnya tidak menggoyahkan pemuda ini untuk mampir berkunjung. Ia hanya ingin bergegas meninggalkan pelabuhan ini. Pun ia memilih tidak menggunakan ojek online yang sedang berkerumun.  Ya, kota itu telah lebih modern sejak terakhir kali ia memutuskan pergi untuk mencari masa depan yang lebih baik di negeri seberang. Modernisasi jaman telah mengantarkan aplikasi pemesanan ojek online telah menjadi sesuatu yang familier bagi masyarakat sekitar.

**Angkasa, pria 26 tahun, tinggi sedang sekitar 165cm dengan perawakan kurus dan kulit berwarna cokelat itu, sejak lahir hingga sekolah menengah atas tidak pernah meninggalkan kota Tanjung Pesona. Hidup hanya bertiga dengan ibu dan adik perempuan kecilnya sejak ayahnya meninggal tepat di hari ulang tahun kedelapan seorang Angkasa kecil, membuat ia memupuk mimpi yang besar untuk menjadi orang yang sukses yang dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga kecil itu, menepis segala iba dan cemooh orang atas nasib mereka sekeluarga. Itu jika tidak bisa disebut ambisi. Ayahnya meninggal karena sakit klinis yang tidak mereka mengerti istilah dan mempunyai kemampuan untuk mengobatinya, akibat kelemahan ekonomi mereka. Pergi ditinggalkan oleh kepala keluarga dan penopang ekonomi sejak kecil, terlebih di hari ulang tahun, membuat Angkasa sangat membenci segala yang berkaitan dengan perayaan hari lahirnya. Jika dimungkinkan, ia lebih memilih tidak pernah menuliskan dan mengucapkan hari lahirnya kepada siapapun. Hal yang tidak mungkin dapat dihindari. Betapa menuliskan hari lahir akan selalu tercipta di hampir setiap dokumen yang diperlukan Angkasa dalam merintis karir dan pendidikannya, dan sejumlah itu pula rasa sakit dan dendam tercipta di mata dan pikiran. Badai yang lebih dahsyat dari badai manapun yang tercipta, di daratan maupun lautan.

**Mobil telah bergerak pelan, dengan Angkasa dan empat orang lainnya di dalamnya. Akhirnya, setelah sekitar lima menit sejak Angkasa masuk. Ia duduk di dekat pintu menghadap jendela kanan. Mungkin sang pengendali angkutan itu merasa bahwa jumlah itu sudah cukup untuk menggerakkan kendaraannya secara pelan ke tengah kota, toh semakin lama ditunggu tidak akan menjamin bahwa jumlah mereka akan bertambah. Mungkin nanti akan bertambah saat dijalan, biarlah setidaknya tidak membuat para penumpang terhormatnya merundung kesal kepadanya.  Sebuah keikhlasan level 28 dari seorang sopir tua dengan angkutan tua hijau bututnya, ditengah modernisasi dan gempuran transportasi online yang tidak dapat dielakkan.

Dengan kecepatan yang sekenanya, diperlukan waktu empat puluh menit untuk tiba di depan gang menuju rumah masa kecilnya. Waktu yang cukup untuk menangkap seisi kota sepanjang perjalanan, dengan gambaran perbandingan masa lalu sebelum ia meninggalkan kota itu. Tidak banyak yang berubah, hanya polesan kekinian di setiap rumah, bangunan dan beberapa landmark lainnya di kota itu. Nampaknya bupati daerah ini bijak dalam mengembangkan kota, pikir Angkasa. Mencoba untuk mengimbangi arus modern tanpa meninggalkan ciri2 yang mudah menjadi penanda setiap pejuang perantau saat kembali ke kampung halamannya. Beberapa pohon angsana tua di pinggir jalan pun masih ia kenali, sebagai penanda jalan atas jarak dan waktu tempuh menuju rumahnya.
**Pulau ini kecil, hanya butuh tiga jam untuk mengelilingi penuh daerah ini dari jalan keluar di sekitar pelabuhan. Ia hanya terdiri dari lima belas persimpangan empat besarnya, mudah untuk mencari alamat atau memberi patokan saat berjanjian bertemu. Maka hampir setiap penduduk pulau ini saling familier satu sama lain, baik mereka yang tinggal di atas bukit, di tengah kota, ataupun yang ada di sekitar pelabuhan.

Angkasa sengaja tidak memberitahukan kepulangannya, tidak apalah sesekali memberi kejutan kepada ibu dan adik perempuannya yang kelas dua SMA. Ratih, ibu Angkasa, saat ini telah berumur 54 tahun, memilih untuk hanya setia pada mendiang suaminya hingga saat ini, berjuang hidup bersama kedua anaknya dengan menjajakan jasa jahit yang telah ia geluti sejak masa muda dahulu sembari menjual nasi kuning lauk seadanya pagi hari di depan gang. Alasan sederhana, sambil mengumpulkan uang, dagangannya bisa menjadi bekal kedua anaknya berangkat mencari ilmu di sekolah masing-masing. Prisa, adik Angkasa telah berdamai dengan kerasnya hidup, merasa bahwa badai yang dihadapinya pasti akan berlalu, suatu saat, entah kapan. Dan apabila saat itu tiba, suasana pasti akan menjadi tenang, berubah senang dan mungkin menghadirkan tambahan riang, tanda bahwa ia telah lulus menjalani ujian dari Tuhan, menjadi pribadi yang naik derajat. Pikirnya.

Dalam tiga tahun perantauan, hal yang dilakukan Angkasa hanya bekerja dan menabung. Bekerja lebih keras dan menyisihkan uang lebih banyak. Belajar lebih banyak dan bertanggung jawab lebih sungguh. Ia hanya fokus pada upayanya untuk mengangkat derajat keluarganya. Lima belas jam dalam sehari, enam hari dalam seminggu Angkasa bekerja. Tentu karena ia menjalani dua mata pencaharian, sebagai staf engineering sebuah perusahaan pembuat suku cadang truk dengan jam kerja sepuluh jam dalam sehari dari pagi, dilanjutkan menjadi penjaga sekaligus pelayan sebuah warung kopi di kawasan industri tempat ia bekerja, menggantikan si empu pemilik warung kopi yang berjualan di pagi hingga tiba pergantian shift karyawan, tanda bahwa saatnya ia pulang. Sedang hari Minggu digunakannya untuk melepaskan lelah dan mengisi energi kembali dengan beristirahat sebagai bekal mengarungi minggu-minggu berikutnya untuk bekerja kembali. Maka perantauan ini dan tabungan yang dihasilkan dari dua macam pekerjaan dalam seharinya dirasakan cukup untuk dibawa pulang dan diberikan kepada ibu dan adiknya sebagai pengganti kerinduan dan rasa cemas mereka akan nasib Angkasa di perantauan. Ia sengaja tidak pernah memberi kabar untuk menghilangkan cemas, sesekali ia hanya akan berkirim surat menerangkan bahwa ia sedang baik-baik saja, dan akan segera pulang untuk menemui mereka.

**Angkasa menikmati rute menuju ke rumah sepanjang perjalanan. Ia mengintip jarum jam dibalik pergelangan tangan kiri kemeja flanelnya. Dua belas menit lagi. Mata Angkasa menjelajah pemandangan dibalik jendela yang terhampar di depan matanya. Baru saja ia melewati Sekolah Menengah Atas tempatnya menimba ilmu dahulu. Seketika ia teringat masa-masa dimana ia berjalan kaki dari rumah menuju sekolahnya. Dahulu dibutuhkan waktu tiga puluh menit berjalan kaki, sebenarnya hanya sepuluh menit jika menggunakan angkutan, namun ongkos selalu menjadi persoalan. Toh ia selalu pergi bersama Prisa setiap hari. Rute mereka searah, biarlah ia sekalian mengantar adik perempuannya ke Sekolah Dasar yang hanya berjarak sepuluh menit lebih awal dari sekolahnya. Maka sesekali Angkasa akan menggendong Prisa saat adiknya mengeluh kelelahan, baik saat pergi ataupun pulang dari sekolah. Angkasa tidak keberatan, bahkan ia senang bisa menjadi kakak yang berguna dan bisa diandalkan adiknya. Mereka tidak pernah sekalipun terlihat bertengkar. Keduanya sama-sama kalem, tidak banyak bicara, tertawa-pun hanya terlihat dari senyuman tipis di bibir mereka, berbicara-pun pelan, benar-benar tenang.

Siluet masjid berwarna biru mulai terlihat jelas, Angkasa menepuk pundak sopir angkutan sebagai penanda ia ingin menepi. Di sebelah kiri masjid itulah terdapat gang selebar dua meter setengah, jalan menuju rumah Angkasa yang berjarak dua puluh meter dari mulut gang. Angkutan hijau tua berhenti, menunggu Angkasa beranjak keluar, berdiri kemudian menjulurkan selembar uang kepada sang sopir sambil memberikan isyarat bahwa ia tidak mengharapkan uang kembalian, biarlah itu menjadi bonus atas kegigihan sang sopir yang memilih untuk bergegas jalan, tidak menghabiskan waktu menunggu ruang kerjanya penuh dengan penumpang agar mereka tidak kehilangan gairah untuk segera pulang ke rumah. Angkutan itu kemudian berlalu, Angkasa dan sopir berbalas senyum. Setelah melihat kiri dan kanan, Angkasa menyeberang. Ia tidak langsung mengarah ke mulut gang, melainkan berbelok sebentar masuk ke halaman masjid. Inilah tujuan utamanya selepas dari kawasan pelabuhan, menggugurkan kewajiban bersembahyang Ashar di masjid masa kecilnya. Itu pula alasan Angkasa tidak mau berlama-lama di pelabuhan, gayung bersambut, angkot yang ia tumpangi pun tidak berlama-lama di pelabuhan. Lepas mengambil air wudu, ia masuk ke dalam masjid dan segera bersembahyang. Selesai melaksanakan ibadah, ia melihat sekeliling, ruangan itu tidak jauh berubah, ia masih mengenali beberapa sudut yang ada, masih sama seperti sebelum ia merantau. Satu yang membuat Angkasa sedikit mengangkat dahinya, rupanya sejak ia masuk ke halaman masjid, ia tidak bertemu satu orang pun, bahkan penjaga masjidnya juga tidak terlihat. Biasanya sore hari masjid ini juga selalu dihiasi dengan suara anak kecil bersahutan mengaji dibimbing para ustaz. Hari ini benar-benar sepi, seperti tidak ada kehidupan. Angkasa tidak mau ambil pusing mengapa hari ini begitu berbeda, ia segera beranjak keluar dari masjid menuju gang yang dituju melewati pintu samping masjid. Hatinya berdebar, inilah saat yang dinantikan. Pulang ke rumah masa kecilnya, menemui sang ibu dan adik yang dibayangkan akan berteriak kegirangan dan berlari menghampiri Angkasa dari dalam rumah. Sebuah pemandangan yang pasti sangat ganjil bagi mereka sekeluarga. Tapi ia sangat mengharapkan skenario itu. Sebuah rindu yang teramat.

Tanpa berlama-lama ia telah tiba di depan gerbang rumah warna hijau setinggi pinggangnya. Angkasa sedikit kecewa, apa yang ia bayangkan beberapa detik sebelumnya tidak terjadi. Pintu rumah tertutup, sehingga tidak akan ada gambaran dimana ibu ataupun adiknya akan berteriak dan berlari menuju Angkasa di luar gerbang, memeluknya dengan haru dan berlinang air mata. Setelah beberapa kali menyampaikan salam dan memastikan tidak ada balasan, ia mencoba membuka gerbang. Gerbang terbuka, langsung ia menuju pintu rumah, mengetuk kayu pintu dan jendela nako beberapa kali. Si empunya rumah tidak muncul. Ia mencoba membuka gagang pintu. Klik! Pintu terbuka. Angkasa bernafas lega. Ini berarti Ibu dan adiknya sedang pergi sebentar dan tidak jauh. Sudah menjadi kebiasaan di kampung ini, pemilik rumah berani meninggalkan rumah tanpa terkunci, dan tidak seorang pun akan berani berbuat jahat atas kesempatan itu. pun sebenarnya apabila ada orang yang akan jahat, ia segera mengurungkan niatnya setelah memasuki rumah Angkasa. Hampir tidak ada barang berharga di dalam rumahnya.

**Angkasa masuk ke dalam rumahnya. Suasananya, baunya, khas sekali. Inilah alasan ia pulang dari perantauan. Inilah tujuan ia bekerja sangat keras, mati-matian setiap hari. Rumah inilah saksi bisu atas seluruh kisah Angkasa sekeluarga, saat mendiang Ayahnya masih hidup, saat mereka hanya tinggal bertiga, saat ia dan Prisa tumbuh berkembang hanya dibimbing oleh sang ibu dengan dinamika yang dialami untuk berjuang hidup dan membiayai pendidikan anak-anaknya. Ruang tamu kecilnya tetap dihiasi kursi penjalin jadul, sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Sekat rotan di belakang kursi adalah pemisah antara ruang tamu dengan ruang keluarga yang hanya berupa satu bangku panjang warung dan meja kayu tua. Di tengahnya terdapat tudung saji, terbayang bahwa yang ada di dalamnya adalah harta karun paling berharga yang sangat dirindukan, masakan ibu, meskipun sederhana saja. Ia melewatkan sementara harta karun itu. Pandangannya menyapu ke mesin jahit tua yang teronggok di pojok ruangan yang bersebelahan dengan kamar yang dahulu dihuni oleh ayah dan ibunya. Nanti kita beli yang baru di pasar kota, ucapan yang sudah disiapkan Angkasa saat ia bertemu ibunya nanti, sebagai balas budi atas kelelahan dan pengorbanan ibu. Di sebelah kamar ibu, terletak kamar Angkasa, saat ini pasti telah menjadi kamar Prisa. Dahulu saat ayahnya telah berpulang, Prisa tidur berdua dengan Ibunya. Angkasa merasa menang karena memiliki ruang privasinya sendiri. Ia hanya mengintip sedikit masing-masing kamar. Sejurus kemudian ia melangkah ke arah belakang rumah, menuju tempat  dimana dapur dan kamar mandi saling beradu seberang. Meskipun mereka sudah memiliki kompor modern bertenaga gas, di sebelah bawah dekat dinding masih terdapat tungku kayu bakar. Kompor tradisional tersebut masih digunakan sesekali. Nikmat rasa dan harumnya nasi yang dimasak pada tungku kayu, tidak bisa digantikan oleh alat masak secanggih apapun. Kenikmatan dunia nomor sembilan di dalam rumahnya.

Puas berkeliling dan melihat suasana di dalam rumah, seketika Angkasa tersadar. Kamis sore lepas Ashar, pukul setengah lima. Pantas rumah sepi. Ibu dan Prisa pasti sedang ke pemakaman kampung sepuluh menit berjalan kaki ke arah lebih dalam dari gang sejurus rumahnya. Itulah tempat peristirahatan terakhir ayahnya. Ke situlah mereka selalu menghabiskan waktu Kamis sore, menengok makam sang ayah untuk melepas rindu dan mengantarkan doa kepadanya.

Setelah meletakkan ransel dan berganti sendal, Angkasa bergegas keluar rumah menyusul ibu dan Prisa ke pemakaman. Skenario yang lebih indah dibanding dengan apa yang dibayangkan beberapa saat sebelumnya. Berkumpul bersama dengan ibu dan Prisa di depan pusara sang ayah, akhir yang lebih romantis. Angkasa mempercepat langkahnya agar masih mendapat momen berkumpul bersama di depan pusara sang ayah. Jalanan dihiasi dedaunan kersen yang jatuh dari barisan pohon rindang di kiri dan kanan gang. mereka pasti terhempas oleh hujan dan angin siang tadi. Selangkah lagi ia akan tiba di area pemakaman.

**Angkasa telah sampai dan memasuki area pemakaman. Sedikit cemas, khawatir jika tebakannya ternyata salah. Bahwa sang ibu dan adiknya tidak pergi ke makam sang ayah sore ini. Namun jika ia tidak berhasil menemui ibu dan adiknya di tempat tersebut, ke mana lagi tujuan mereka pergi dengan meninggalkan rumah yang tidak terkunci?. Matanya menyapu ke sekeliling area. Beberapa orang terlihat di kawasan ini. Hal ini berarti kebiasaan ziarah kubur di hari Kamis sore masih terpelihara dengan baik. Angkasa sedikit memicingkan mata tanda ia masuk dalam mode yang lebih fokus, menyapu lingkungan sekitar untuk mencari keberadaan ibu dan adiknya. Setelah beberapa kali menoleh, ia menemukan sosok 2 wanita berkerudung yang dari tubuhnya ia kenali sebagai sang ibu dan Prisa, adiknya. Alhamdulillah, akhirnya! Ia mempercepat langkahnya menuju ke arah dua wanita berkerudung yang sedang bersimpuh ke tanah didepannya.

Hanya tersisa kurang dari dua puluh langkah, tiba-tiba kaki Angkasa terhenti. Ia terhentak atas kejanggalan yang terpotret di matanya. Dari yang awalnya yakin, ia mendadak menjadi ragu atas dua sosok wanita di depannya. Jika mereka memang adalah bu Ratih dan Prisa, mengapa ada yang pemandangan ganjil didepan mereka. Kedua wanita itu bersimpuh menghadap dua pusara yang bersebelahan. Sekali lagi, jika benar itu ibu dan adiknya, maka pusara siapa yang ada di sebelah kanan pusara sang ayah? Apakah itu pusara tetangganya, penghuni baru yang barangkali mereka kenal atau justru asing? Angkasa sekeluarga tidak mempunyai saudara dekat di kota ini, sehingga bisa dipastikan itu bukan keluarga mereka. Jika itu bukan ibu dan adiknya, tetapi tubuh kedua wanita itu sangat Angkasa kenali. Dan mengapa mereka menabur bunga kepada pusara lain tersebut? milik siapa itu? Dengan seluruh tanda tanya besar dan keresahannya, Angkasa mendekat. Sengaja ia belum bersuara dan menyapa kedua wanita yang sedang bersimpuh tersebut. Barangkali pula karena keingintahuannya yang penuh itu, ia lupa menyapa. Setelah semakin dekat, ia yakin sosok kedua wanita di depannya adalah ibu dan adiknya. sampailah Angkasa di belakang kedua wanita tersebut, ia memfokuskan mata, sesaat kemudian terperanjat.

 

ANGKASA PUTRA WIBAWA

Wafat: 23-02-2020

 

Tulisan yang tercetak di pusara di sebelah pusara dengan tulisan MUALIMIN terbaca dengan sangat jelas. Nama yang terakhir adalah nama sang ayah. Lalu nama yang tadi dibacanya, apa yang terjadi?

Angkasa terpaku, ia tidak bergerak, badan, mata dan pikiran. Ia benar-benar membeku. Upaya apapun yang dilakukan tidak dapat membantunya mencerna pemandangan yang terlihat di depannya. Sekali lagi ia menguatkan diri, membaca kembali tulisan di pusara itu, mencoba meyakinkan diri bahwa ia salah membaca. Ini benar-benar meruntuhkan segalanya. Pikirannya berkecamuk. Adegan ini menggoyahkannya, membuat tubuh, pikiran dan pandangan Angkasa menjadi kabur dan berputar dengan cepat seolah ia tersedot dalam dimensi ruang dan waktu dengan berbagai pertanyaan yang menumpuk di pikirannya. Situasi aneh apa ini? Bagaimana mungkin? Aku ini apa? Hingga akhirnya adegan itu berhenti. Kehampaan. Pemandangan membingungkan itu seketika digantikan dengan adegan baru. Seperti film yang diputar mundur dengan kecepatan lambat, mengambil tempat di sekitar pelabuhan dan melibatkan angkutan hijau tua serta sopir yang sangat ia kenal. Angkutan dan sopir yang sama dengan yang ia naiki dari pelabuhan menuju ke rumah tadi. Ya, itulah jawabannya. Pagi hari pada tanggal, bulan dan tahun yang sama sebagaimana tertulis di pusara, sebuah kecelakaan tragis menimpa angkutan hijau tua tanpa menyisakan satu pun orang yang selamat. Akibat curah hujan yang cukup tinggi, jalanan menurun yang berliku dan kondisi mobil yang tidak layak menyebabkan mobil tersebut terpeleset di turunan dan terguling melaju tidak terkendali sebelum akhirnya terhenti di bawah pohon angsana rindang. Hari itu adalah hari dimana seharusnya Angkasa berangkat merantau. Tetapi ia tidak pernah benar-benar pergi. Tiga tahun berlalu sejak kejadian tersebut.

Angkasa terkulai, tubuhnya layu, seketika menjadi transparan, menyisakan pendaran tipis yang terangnya hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri. Angkasa mencoba memanggil ibu dan adiknya, dari pelan hingga berteriak. Sia-sia, teriakannya tidak akan pernah terdengar oleh ibu dan Prisa. Kedua wanita itu mengakhiri doanya.

Aamiin...Assalamualaikum...Ayah...Kakak...

kemudian mereka bangkit dari duduknya, berjalan pulang ke rumah bergandengan. Angkasa menangis, bingung dengan apa yang terjadi. Beberapa saaat kemudian muncul pendaran cahaya lain. Dari siluet tubuhnya, Angkasa sangat mengenalinya. Ia melihat uluran tangan sembari mendengar sebuah kalimat dari suara yang tidak asing.

"sudah nak, ikhlaskan. Waktumu di dunia sudah habis. Tinggal doa mereka yang menjadi tabungan kita. Pada saatnya di hari nanti, kita semua dikumpulkan kembali dan lebih bahagia di-Sana"

Angkasa akhirnya mengerti, ia mengangguk tanda setuju. Ia menjawab uluran tangan itu, tangan sang ayah. Angkasa beranjak pergi, tanpa sempat mengucap salam perpisahan dan tanpa pernah bisa menyampaikan rindunya kepada ibu dan adiknya. Namun, ia dan sang ayah yakin, mereka akan berkumpul kembali suatu hari nanti, di tempat yang lebih baik, di kondisi yang terbaik. ~selesai~

 

Quotes.

"leader is the one who more risk taker than charm hunter. followers always take the safer and easier zone."- myself

"world is awesome, but life is the greatest show."- arie dagienkz

"kesenangan berbeda dari kebahagiaan. senang bisa dibeli, bahagia diperjuangkan."- alit susanto

"pemimpin adalah orang yang berhasil dipimpin."- puthut ea

"kenyataan selalu menguji keyakinan."- firza falaza

images

loading ...