profesionalisme dan dilemma moral
Dec 12, 2024
416
kolaborasi profesionalisme dan moral dalam dunia organisasi
Profesionalisme! Tentu kita sudah tidak asing lagi mendengar, melihat dan membaca kata tersebut. Baik dalam sebuah tagline, kalimat yang disusun oleh para copywriter, dan tulisan-tulisan para ahli teori serta jurnal-jurnal yang telah terbit, profesionalisme selalu mendapat tempat “terhormat” untuk disebut. Terlebih bagi para akademisi bidang manajemen dan organisasi, profesionalisme seolah harus diperas habis, dikuliti dan diteliti untuk mendapatkan inti dari definisi professional.
Dalam pandangan saya, profesionalisme tidak hanya sekedar statement, sebuah pernyataan. Ia adalah sebuah harapan, ekspektasi, ekspresi, nilai diri, watak, perilaku, sifat, dan tanggungjawab. Oleh karena sebuah kata profesionalisme, seseorang mendapatkan judgement atas dirinya, menjadi sebuah nilai jual yang dipresentasikan kepada orang lain. Tentu ia mendapatkan akselerasi makna manakala dihubungkan dengan dunia kerja, sebuah aktivitas individu dalam organisasi, bahkan menjadi cerminan organisasi itu sendiri. Terdapat sebuah adagium dimana “jika ingin menilai organisasi, lihat saja individu di dalamnya”. Pernyataan ini terasa kuat daya magisnya sehingga memerlukan perhatian dan penilitan mengenai perilaku dan sifat profesionalisme seorang individu.
Menjadi lebih menarik apabila konsep profesionalisme, baik yang dilekatkan kepada individu maupun organisasi, dibenturkan dan atau dikolaborasikan dengan konsep moral serta dilemma moral. Moral dan profesionalisme menjadi perpaduan karakter yang bisa jadi saling menguatkan atau saling berseberangan. Seperti medan kutub sebuah magnet. Maka mendiskusikan dilemma moral dan profesionalisme bukanlah sebuah konsep mencari pembenaran bahwa akar masalah akan selalu ada tanpa pernah ditemukan konsep jawaban dan solusinya. Bagi sebuah organisasi, masalah dan konflik dapat menjadi sebuah amunisi perbaikan, penyempurnaan dan keberlanjutan, memperkaya ide dan wawasan untuk lebih berkembang.
Untuk memulainya, tentu kita perlu lebih mengenal konsep profesionalisme. Profesionalisme berasal dari kata profession. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia, Profesionalisme adalah mutu, kualitas yang merupakan ciri suatu profesi. Profesionalisme adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan komitmen terhadap suatu bidang pekerjaan. Seseorang dianggap professional tidak hanya memiliki keahlian teknis mumpuni yang dibutuhkan, namun juga sikap dan nilai yang mendukung keberhasilan menjalankan tugas.
Profesionalisme memiliki peran yang penting dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam dunia kerja. Beberapa alasan yang mendasari pentingnya profesionalisme adalah bahwa profesionalisme dapat meningkatkan kualitas kerja, membangun kepercayaan, membuka peluang karir, serta dapat memberikan kontribusi yang positif bagi dunia organisasi. Karakteristik seseorang dianggap professional diantaranya dapat dilihat dari ciri sebagai berikut: menguasai keterampilan atau pengetahuan yang dibutuhkan, bertanggungjawab atas tindakan dan Keputusan yang diambil, yakin atas kemampuan diri, disiplin, berorientasi pada hasil, terbuka terhadap ide-ide baru dan mau mengembangkan diri, serta memegang teguh prinsip moral yang kuat dan bertindak sesuai kode etik. Tidak dapat dipungkiri bahwa profesionalisme adalah salah satu kunci keberhasilan atas posisi dan pekerjaan. Melalui sikap profesionalisme, keberhasilan dan kesuksesan dapat dikolaborasikan menuju kearah kontribusi positif bagi pihak eksternal.
Terdapat beberapa teori yang dapat didalami untuk mempertajam profesionalisme kita. Etika utilitarianisme, deontology dan keadilan menjadi kerangka kerja dalam memahami dasar moral sebuah profesi. Maslow dikenal atas jasanya mempelajari dan mengembangkan teori motivasi. Motivasi dapat mempengaruhi profesionalisme seseorang. Hipotesa yang dapat diusulkan adalah seorang individu akan semakin meningkatkan profesionalisme apabila motivasi yang dimiliki semakin tinggi. Tentu motivasi ini beragam jenis dan standarnya, bergantung kepada preferensi dan subyektivitas masing-masing. Teori pembelajaran dan sosial dan konstruksivisme menjelaskan bagaimana seorang individu belajar dan mengembangkan kompetensi professional.
Dunia kerja hari ini, hadir dengan kompleksitas dan dinamika yang tinggi. Kondisi ini menjadikan profesionalisme dan sikap professional semakin mendapat tantangan ke depan. Perkembangan teknologi yang semakin berkembang pesat menuntut kita untuk terus belajar dan beradaptasi. Kurangnya respon untuk mengikuti perkembangan teknologi menghambat kinerja dan profesionalisme seseorang. Lingkungan bekerja yang seringkali berubah menjadikan seseorang kesulitan mempertahankan fokus dan produktivitas. Tuntutan kerja yang tinggi, dengan beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang pendek akan semakin memojokkan orang dalam posisi tekanan yang tinggi. Hal ini dapat diperparah dengan harapan untuk dapat mengerjakan beberapan tugas sekaligus, berpotensi mengurangi kualitas pekerjaan dan menyebabkan frekuensi kesalahan yang semakin tinggi. Perbedaan generasi dengan nilai-nilai yang dipegang teguh, dapat menimbulkan konflik dan kesalahan persepsi dalam berkomunikasi, menjadi tantangan dalam bekerjasama. Gangguan digital seperti smartphone dan media sosial semakin menjauhkan konsentrasi dan produktivitas. Hal lain yang dapat mengganggu konsentrasi dan profesionalisme adalah situasi dimana kepentingan pribadi bertentangan dengan organisasi, yang dapat menimbulkan dilemma etika. Tantangan tersebut dapat dihilangkan dan diminimalisir melalui beberapa langkah berikut seperti pembelajaran berkelanjutan, manajemen waktu yang optimal, membangun jaringan dan etika kerja yang kuat, komunikasi efektif dan membatasi distraksi. Dengan memahami tantangan dan menerapkan strategi yang tepat, kita diharapkan dapat mempertahankan profesionalisme.
Disisi lain, moral adalah seperangkat nilai, keyakinan dan prinsip yang membedakan benar dan salah, baik dan buruk dalam kehidupan manusia. Moral adalah guru yang mengingatkan murid agar berpikir, bertindak dan berbicara dengan baik dan benar. Moral dapat diidentifikasikan menjadi beberapa ciri sebagai berikut: cenderung berlaku universal, berubah seiring dengan waktu dan lingkungan, subyektif, dan seringkali menjadi dasar bagi seseorang dalam mengambil keputusan. Moral dapat diwujudkan melalui sifat dan sikap seperti keadilan, kebenaran, kejujuran dan kasih sayang. Sebagaimana dua sisi mata uang, moral dapat menghadirkan sebuah dilemma. Dilemma moral didefinisikan sebagai sebuah situasi dimana seseorang dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, dimana diantara pilihan tersebut memiliki konsekuensi moral yang sama-sama tidak menyenangkan. Moral menjadi dilemma apabila terdapat dua atau lebih pilihan yang sulit dan konsekuensi negatif yang signifikan, bertentangan dengan norma-norma yang dianut, serta tidak ada jawaban yang benar-benar tepat.
Konflik kepentingan, sharing informasi dan tekanan atas target dapat menjadi studi kasus nyata atas dilema moral dalam menegakkan profesionalitas. Dalam menghadapi dilemma, profesionalitas berhadapan dengan nilai-nilai pribadi, nilai-nilai organisasi, hukum dan norma-norma yang berlaku, dan dampak jangka panjang yang dapat ditimbulkan dari tindakan yang akan diambil. Profesionalisme dan dilemma moral adalah peristiwa yang tidak mungkin dihindari, terlebih bagi dunia kerja. Professional dengan integritas moral diharapkan mampu mengambil Keputusan dengan tepat pada situasi yang sulit. Pemahaman mengenai konsep profesionalisme dan moralitas dapat membantu mengenali dilemma moral dan mendefinisikan potensi kendala dan alternatif solusi yang akan dihadapi, sehingga diharapkan dapat menerapkan strategi yang tepat, menjadi professional yang tangguh dan berintegritas. beberapa strategi yang dapat diambil untuk mengatasi dilemma moral adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, mengidentifikasi semua pilihan yang memungkinkan dan terakhir, apapun keputusan yang diambil harus mampu dipertanggungjawabkan sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip moral yang diyakini.
Melalui pemahaman mengenai profesionalisme dan moral serta dilemma moral yang mungkin akan dihadapi, dipandu dengan keinginan untuk terus mengembangkan diri, memperkaya wawasan dan meneguhkan nilai diri, individu dapat mengarungi dunia organisasi dengan lebih professional, berintegritas serta memegang erat moralitas. Semangat berlayar.
Quotes.
"damaikan diri tanpa bergantung pada kepedulian dan penilaian orang lain."- noname
"leader is the one who more risk taker than charm hunter. followers always take the safer and easier zone."- myself
"don't just work hard or even work smart, but work hard in smart way."- helmi yahya
"in child we find form, at teenager we ask freedom, and adult expect wisdom."- myself
"kebajikan timbul dari haus akan ketidaktahuan, kesombongan lahir atas kekenyangan sok tahu."- myself
loading ...