pengakuan dante
Apr 23, 2024
364
semua cerita, tokoh dan tempat yang dituliskan hanya fiktif. apabila terdapat kemiripan, adalah hal yang tidak disengaja.
Gemericik air masih terdengar membentur kaca jendela warna biru di lantai 16 sore itu. Waktu menunjukkan pukul 15.42, namun hujan yang turun sejak siang belum menunjukkan tanda akan berakhir. Terkadang ia turun dengan lirih, gerimis kecil yang menghadirkan kesejukan. Kemudian berubah dengan derasnya, menghujam setiap permukaan kaca, meninggalkan suara gemuruh yang saling bersahutan dengan lagu yang sedang dimainkan di ujung headphone dengan efek volume level 40%. Saat ini terdengar lagu Cold Sweat dari Axel Mansoor. Dante sedang terpaku, sudah setengah jam berlalu namun gugup itu masih enggan pergi. Draf tulisan yang telah ia letakkan di aplikasi perpesanan sejak siang itu belum juga dikirim kepada nomor yang dituju. Entah apa yang terjadi, ia merasa sangat berantakan. Telah lebih dari 5 kali ia melakukan koreksi, atas kata dan kalimat yang tertulis, takut seolah kalimat itu akan menyinggung siapapun yang membacanya. Namun akhirnya pesan itu terkirim, mungkin karena secara tidak sengaja, mungkin juga karena terlalu penasaran.
Klink! Suara notif handphone mengalihkan perhatian Ratih dari layar yang berisi laporan dengan spreadsheet dan angka yang membingungkan. “Hai Ratih. Tolong jangan berpikir aneh ya. Sore ini sibuk kah? Aku barusan nemu ramen yang lumayan enak di Centrepoint. Kita nge-coba yuk :)”. Seketika Ratih mengernyitkan dahi, orang mana yang tidak berpikir aneh ketika orang lain meminta dia tidak berpikir aneh. Weird. Awalnya ia akan mengacuhkan pesan itu, sebagaimana pesan serupa yang sering ia terima dari lawan jenis. Ia terlalu sibuk tenggelam dalam pekerjaan, sebuah alasan yang menggambarkan bahwa ia tidak terlalu interest dengan sebuah hubungan. Namun sesuatu membuat Ratih berpikir lain, lagipula ia perlu rehat dari timbunan pekerjaan yang saat ini mengepungnya. Toh deadline masih 3 hari lagi, pikirnya.
“Aneh kamu. Anyway about ramen, i’ll take it! After office ya. Meet you @lobby 5PM”. Pesan itu berbalas 5 menit kemudian. Dante senyum dan tersipu membaca balasan itu. Satu jam lagi tidak akan terasa. Toh ia sudah menunggu 3 tahun sebelumnya. Hujan tiba-tiba pun telah berhenti, entah kapan itu, Dante tidak menyadari. Tidak terlihat ada jejak pelangi di langit sore itu. Biarlah. Pelangi itu sudah hinggap di mata dan pikiran pria 25 tahun itu setelah ia terkejut bahwa pesan itu berbalas. Dante dan Ratih adalah dua pekerja dalam kantor yang sama di gedung yang sama. Bahkan mereka ada dalam satu batch yang sama sebagai pegawai baru kantor itu, 3 tahun lalu. Waktu yang sama bagi Dante merasa penasaran dan terkesan dengan gadis pendiam dan misterius bernama Ratih. Penasaran yang tidak pernah dituntaskan hingga hari ini tiba. Susah dijelaskan apa yang membuat ia pada akhirnya tergerak untuk membuat ajakan makan di sore itu.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Dante bergegas menuju lobby, tempat ia akan bertemu dengan Sang puncak penasaran hatinya, Ratih. Dalam waktu 5 menit ia telah berhasil tiba dari lantai 16 tempatnya bekerja. Ratih sendiri ada di lantai 7. Semesta benar-benar mendukung, pikirnya. Langit telah cerah dan ia dengan cepat mendapat tempat di lift yang kosong yang akan mengantarnya ke lobby dibawah sana, biasanya tidak mungkin se-ganjil itu. 10 menit berlalu, Ratih terlihat di seberang mata baru saja keluar dari lift bersama dengan 4 orang rekan seruangannya, dengan senyum yang merekah memperlihatkan sedikit gigi putihnya, tentu ditujukan kepada teman satu liftnya dan bukan kepada Dante. Setelah mengucapkan perpisahan, ia bergerak menuju Dante. “Ah syukurlah” pikir Dante setelah ia melihat pemandangan bahwa teman -teman Ratih, yang pasti juga mengenal Dante, segera berlalu tanpa sempat melihatnya di sudut lobby itu. Selalu, sore selepas hujan, para pekerja akan segera bergegas pulang menuju rumah masing-masing. Kelelahan, kepayahan dan ketakutan akan macet yang menumpuk di jalan. Ah, pemandangan ironi yang selalu dirindukan.
“hai Ratih, makasih ya” Dante mengawali, segera setelah Ratih sampai di depannya. “Makasih apanya? Aneh.” Jawaban Rati mungkin terdengar tidak bersahabat, namun begitulah ia, perempuan yang tidak mudah ekspresif sebenarnya. “Eh enggak, maksudnya makasih udah mau terima ajakanku” Buru-buru Dante menjelaskan. “Hmm okelah, trus kita sama siapa lagi?nunggu apalagi?” Ratih membalas. “Hem, cuma kita aja. Masalah kah? Kamu kalau mau ajak teman oke saja kok kalau nggak nyaman?” Dante meralat dengan pasrah. “Bener nih? Nanti kamu sedih. Yuk ah, jangan kelamaan! Aku sudah lapar”. Ratih menggoda dengan datar. Di dalam hati Dante merasa lega Ratih hanya menggodanya, tapi seketika berpikir bahwa berarti “modus”nya terbaca dengan jelas, duh gimana nih. Belum selesai pikirannya mencerna, datang sebuah mobil abu-abu di depan mereka, kemudian sambil menurunkan kaca penumpang depan berkata “Kak Dante?” Untuk mengkonfirmasi kepada dua makhluk yang sedang berdiri di lobby. “Iya, saya mas. Yuk” jawab Dante sambil ia menawarkan tangannya kepada Ratih. Sepersekian detik kemudian buru-buru ia turunkan, berharap Ratih tidak melihatnya. Terlalu cepat Mas…pikirnya. Celaka, Ratih sudah menangkap momen itu, senyum bibirnya menjelaskan pikirannya. Mereka masuk ke dalam mobil di kursi belakang berdampingan, kemudian mobil itu bergerak. 30 menit berlalu tanpa satu kata pun keluar, entah dari sang driver, pun juga dari kedua penumpang di belakang. Hanya suara musik yang terdengar dari headunit dashboard pengemudi. Lagu yang terdengar saat itu Piknik 72-nya Naif. Entah kenapa, pas sekali dengan momen saat ini, setidaknya di pikiran Dante. Mobil terlihat berbelok ke kiri memasuki lobby Hotel megah. Rupanya Ratih telah sadar bahwa kendaraan mereka tidak mengarah ke Centrepoint, arahnya berbeda sejak keluar dari lingkungan kantor, tapi ya sudahlah kemanapun asal segera makan pikir Ratih. Ia sudah sangat lapar. Ratih melirik Dante. Sadar bahwa kebohongannya telah terungkap, ia hanya membalas dengan senyum aneh sambil menggaruk kepala plontosnya.
Setelah turun di lobby dan mengucapkan perpisahan dengan driver, Dante memandu Ratih bergegas masuk ke dalam hotel tersebut menuju Lynch Resto. “Atas nama Dante Mbak, 2 orang” Dante mengkonfirmasi kepada waiter yang berdiri di depan pintu resto. Ia membalas dengan senyum kemudian mempersilahkan keduanya menuju kursi di sudut ruangan bergaya European Classic dengan kaca besar yang menghadap jalan raya. Tidak banyak pengunjung saat itu. Dante dan Ratih duduk di kursi yang ditunjukkan, kemudian waiter berlalu tanda bahwa sebentar lagi makanan akan dihidangkan. Setelah agak lama, Dante memecah kesunyian mereka.” Aku minta maaf ya,kamu jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Ini juga pengalaman pertamaku, jadi semoga kamu nggak tersinggung”. “Aku mikir apa? Sok tau. Aku ga komen apapun sejak mobil tadi nggak mengarah ke Centrepoint. Yang jelas aku lapar, semoga Ramennya enak” Ratih membalas dengan godaan. “Eh anu, soal Ramen, emm, nanti kita ke sana setelah ini. Disini katanya makanannya enak kok, dia package gitu, aku juga belum tahu sih. Nanti mereka served ke kita” Dante menjawab dengan ekspresi kebingungan dan meninggalkan senyum di wajah Ratih. “Ya udah, aku hargai kok effortmu. Kalau ada lain kali, ga perlu segininya. Aku kan juga ga perlu tahu kamu sudah pernah kesini atau belum, sama siapa saja waktu itu. Santai saja” Ratih menimpali. Dante tersentak dengan ucapan Ratih, namun teralihkan oleh datangnya Quiche dan Canape yang disajikan di depan mereka. Setelah appetizer tersaji dan disilakan oleh waiter, keduanya mencicip makanan aneh yang tersaji didepan, tentu dengan gestur dan mimik aneh, yang sama-sama terlihat masing-masing. Keduanya melahap dengan diakhiri tawa tipis, simbol bahwa mereka terkesan sekaligus merasa malu dengan pengalaman pertamanya yang mungkin akan terlihat konyol di pikiran masing-masing. Suasana telah sedikit lebih cair.
“Aku boleh klarifikasi semuanya nggak?” Kembali Dante membuka obrolan. “Soal apa?” Ratih menjawab. “ Soal ini dan semuanya. Aku berani sumpah ini kali pertama aku kesini, dan kali pertama juga ngajak cewek untuk dinner kayak gini. Dan ini karena ada yang aku ingin akui ke kamu”. Dante klarifikasi. “Loh, kamu bukannya pitching ke semua cewek dikantor ya? Masak ini yang pertama” Ratih menyela. “Justru itu, makanya aku ingin klarifikasi semua. Sesaat kemudian, waiter mendekat. Setelah melihat appetizer plate mereka kosong, ia mengambilnya dan menggantikan dengan Pan Seared Salmon dengan Creamy Spinach Sauce serta Bratwurst Cream Pesto . “Silahkan, main course kami hari ini. Wine?” Waiter bertanya. “Ah nggak kak, Tea aja cukup kok” Dante menjawab. “Kakak?” Waiter mengkonfirmasi Ratih. ”gapapa kok kamu kalau wine. Aku coffe saja kak” Ratih membalas. “baik, tunggu sebentar” Waiter berlalu menyiapkan minuman mereka. “Aku nggak senakal itu” Dante berbisik lirih. “Sejak kapan minum wine nakal? Aku sih nggak minum itu, tapi kamu kalau mau ya nggak papa juga. Aku santai kok” Jawab Ratih sambil bersiap menyantap makanan yang tersedia. Melihat Ratih makan, Dante melanjutkan“Aku lanjut ya. Aku ga seperti yang kamu pikir. Ga pernah aku pitching-pitching begitu ke orang-orang. Yang aku lakukan ya biasa aja ga tau kenapa aku dekat sama cewek-cewek itu, tapi ya cuma sekedar berteman aja”. Ratih tetap meneruskan makannya sambil mengangguk tanda ia menyimak. “Aku cuma sekedar basa-basi saja sambil belajar tahu soal…” Dante meneruskan. “Soal aku?” Ratih merespons. Dante tersedak, sedikit terbatuk kemudian mengambil gelas air putih di meja untuk menghilangkan gelagatnya. “Kamu tau?” Dante bertanya dengan mimik serius. “Hmm, nggak. Asal ngomong aja. Tapi kalau kamu pengen tau, teman-teman cewekmu itu toh juga biasa aja ke aku, ya memang sih mereka pernah cerita soal kamu” Ratih menjawab sambil tangan kirinya memegang garpu yang tertancap potongan salmon tanda ia akan mengunyah kembali. “Aku kenapa?” Dante penasaran. “Ya kamu dengan kelakuan dan tawa anehmu, bercandaan garingmu sama modusmu ke semua orang. Ya tapi aku mah ga ambil pusing. Santai aja ga sih?” Ratih membalas. Dante belum menyentuh main course itu sedikitpun, ia merasa harus menuntaskan penasaran dan klarifikasinya kepada perempuan di hadapannya saat ini. “Itu dia, aku nggak modus. Sumpah! Aku cuma nggak tau aja gimana cara deketin kamu. Eh maksudku, pokoknya gitulah. Makanya aku lewat teman-temanmu. Tapi kalau itu kamu liat as a modus, sumpah ga ada itu!”. “Ya kan aku cuma asal ngomong. Lagian kalau mau ngobrol sama aku, ya ngobrol saja” Ratih menjawab namun dengan perasaan kebingungan atas momen itu. Tapi Ratih adalah gadis pemalu dan kaku,ia coba menutupi perasaannya saat itu. “Makanya aku ngajak dinner kamu hari ini. Aku ingin sampaikan semuanya dan memulainya dengan benar ke kamu dari hari ini.” Dante mencecar dan memojokkan Ratih. Ratih membaca momen itu dan membalas “ Udah makan dulu itu, sayang kamu sudah pesan mahal2. Aku paham maksudmu dan aku terima itu, tapi apapun itu aku nggak mau buru-buru. Masih ada deadline yang harus aku submit Selasa depan”. Dante mengernyitkan dahinya,bingung, ia mencoba mencerna kalimat Ratih “emm, maksudnya?”. “Ya itu, kita mulai dengan wajar aja, pelan-pelan. Aku kan ga tahu kamu, aku juga ga tahu gimana aku ke kamu. Tapi selalu ada nanti, selalu ada hari esok yang penuh misteri. Ya sudah kita jalani aja. Aku sekarang tau maksudmu,dan aku tau maumu. Biarkan aku cerna dulu dan entah kemana arahnya nanti”Ratih menjawab agak panjang dengan mimik yang serius. “Aku ga mau dipaksa atau terpaksa. Kalau memang takdir, mau gimanapun juga ga bisa dilawan. Yang penting jangan karena hari ini kita jadi berbeda, atau kamu juga berbeda. Aku sekarang bukan nolak atau mengiyakan. Kalau kamu sabar dan mau dengan itu, aku terima. Tapi kalau kamu berpikiran lain, itu hakmu. Toh kita belum jadi apa2 hari ini, akupun juga bukan milik siapa-siapa sampai saat ini. Udah sih, makan itu!” kembali Ratih memberikan argumennya sambil memaksa Dante untuk makan. Tapi Dante kepalang penasaran, “Kalau aku ga sabar, aku ga akan menunggu selama ini untuk bisa sampai di momen ini. 3 tahun sejak aku merasakan sesuatu soal kamu. Yang penting aku sudah sampaikan semua dan aku setuju dengan apa yang kamu omongkan tadi. Akhirnya aku lega sekarang” Dante mengambil garpu dan pisau untuk menyantap makanan yang ada di meja. waiter datang membawakan teh dan kopi pesanan Dante dan Ratih kemudian berlalu menuju meja resepsionis didepan.
“Aku simpel. Aku akan melakukan apa yang kamu lakukan ke aku. Tapi nggak berlebihan kayak gini, aku nggak mampu. Masih ada prioritas lain buatku. Dan juga jangan kayak waktu itu, kita satu lift cuma berdua dan ga ada obrolan apapun. Gimanapun kita satu batch loh, tapi aku kayak orang asing di matamu. Makanya aku juga ga ada kebutuhan ngomong sama kamu” Ratih menyampaikan argumennya setelah menyelesaikan makanan di hadapannya dan meneguk kopi yang dipegang tangan kanannya. Dante tersentak sekali lagi namun segera mengakui kesalahannnya “Soal itu, aku minta maaf atas kekakuan dan keanehanku. Mungkin aku lagi bingung mencerna perasaan dan momen kita ketemu hanya berdua di lift waktu itu. Aku janji…” Ratih menyela Dante sebelum Dante menyelesaikan ucapannya. “Kita belum jadi apa-apa, jadi nggak perlu janji apapun ke aku. Intinya apa yang kamu lakukan ke aku, pasti yang akan aku juga lakukan ke kamu. Itu aja cukup.” “Emm, baik kalau begitu. Maaf ya” Dante membalas kemudian menyeruput teh di cangkirnya. Entah karena terlalu gugup atau barangkali ia juga terlalu lapar, kedua makanan di depannya rupanya telah ia santap habis. Waktunya waiter mendekat, mengambil piring kosong masing-masing dan bersiap menggantikannya dengan dessert. “Sudah selesai makan-nya kak?. Malam ini pilihan dessert kita ada Cinnamon Gelato atau Tarta de Santiago, bolu cake dengan almond dan stroberi.” Terlihat bingung Dante menawarkan Ratih untuk memilih “Kamu duluan mau yang mana?”. Merasa ditembak Ratih menjawab cuek“Gelato aja kak yang jelas paham”. “Saya sama aja kak. Kami masih mau ngobrol lagi, ga harus buru-buru boleh kan kak?” Dante menimpali. “ Silahkan kak, take your time” Waiter tersenyum sambil berlalu.
“Makasih ya” terlihat mereka kompak menyahut setelah melihat waiter menjauh. Agak canggung tapi lebih cair. Menit selanjutnya mereka terlihat ngobrol dengan lebih santai tanpa kekakuan didalamnya. Dante dan Ratih lebih lepas dan bebas memperlihatkan ekspresi mereka satu sama lain. Cinnamon gelato tiba di meja, mereka menyantap dengan lahap seolah tidak ingin menyiakan pengalaman mahal ini yang entah apakah suatu hari akan dapat terulang kembali. Diseberang jendela, senja telah berlalu dan malam telah hadir, menjadi latar diantara barisan kendaraan yang mengantri dengan lampu-lampu kecilnya seolah seperti kunang-kunang dihiasi rintik gerimis di kebun jalanan. Sebuah penutup hari yang romantis di ibukota. Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya, biarlah waktu yang bercerita. Tamat.
Quotes.
"tidak ada tindakan tanpa resiko."- anhar gonggong
"puncak kebajikan adalah ketika dua orang bijak bertemu untuksaling mengagumi lawan bicara dan merendahkan diri sendiri."- myself
"dunia itu seimbang, apa yang baik mungkin akan buruk, dan apa yang buruk mungkin juga baik."- myself
"tidak semua masalah harus diselesaikan, jika tidak ada solusi yang tersedia. yang perlu kita lakukan hanya bertahan sampai masalah itu berlalu."- pandji pragiwaksono
"bakat tidak dibentuk dan diciptakan, ia hanya bisa digali dan ditemukan, seperti air menembus tanah untuk bertemu udara."- myself
loading ...