nayanika virama
Mar 12, 2024
336
ketika senja mengungkap cerita
*cerita ini fiktif belaka, kesamaan nama tokoh dan cerita dapat mungkin terjadi
Wanita itu duduk di bangku panjang berseberangan dengan pintu masuk barista berwarna coklat tua. Siang itu, ia dikenali oleh dandanan kemeja warna pastel, celana warna hitam bercorak garis dan sepatu kets kesayangan warna rose pink sedang menunggu seseorang datang. Kafe Kopstel, jam 14.30, adalah waktu dan tempat yang disepakati untuk menjadi titik temu. Ia sengaja memilih tempat duduk yang berhadapan langsung dengan pintu masuk, sehingga siapapun yang akan masuk dengan mudah dapat mengarahkan pandangan pertama pada lokasi itu. “Hai Nay, disitu rupanya. sudah lama?” tanya seseorang yang baru saja beranjak masuk setelah membuka gagang pintu kafe itu. Nayanika, sebuah nama yang rasanya tidak akan dipilih oleh orang kebanyakan sebagai nama seorang gadis pada masa kini. Namun, bagaimanapun nama adalah gambaran dan harapan. Nayanika, rambut lurus warna hitam, wajah oval, kulit kecoklatan, dan tubuh yang proporsional, semua orang setuju bahwa pusat perhatian terhadapnya adalah mata indah dengan alis tipis yang menjadi pagarnya.
“hai Rama. Lumayan-lah 20 menitan” jawab Naya kepada sesosok pria muda yang menuju kearahnya setelah sempat melihat jam tangan kecil di pergelangan. Kafe Kopstel di jam tanggung seperti ini adalah tempat yang tidak pernah salah menjadi rujukan bagi orang untuk bertemu, sekedar minum dan makan ringan, dan berbincang. Menu andalan utamanya adalah pisang goreng cinnamon serta salt caramel macchiato. Hampir setiap orang yang pertama kali datang akan disarankan menu itu dan kemudian jatuh cinta, meskipun ada menu lainnya seperti croissant, crème brulle, salad, dan fusion cuisine lainnya. Ia adalah jenis slow bar coffee shop dengan interior soft industrialis dan tempat duduk cubical masing-masing yang dipisahkan oleh pagar tanaman indoor, terletak dibelakang gedung-gedung pencakar langit dengan pemandangan danau taman kota. Maka jadilah ia oase bagi para pekerja kantor untuk istirahat siang atas kabur dari kejenuhan bekerja.
Virama, berbaju flannel biru tua dengan kaos hitam bertuliskan DARE, celana jins dan sport sneaker hitam, adalah yang menyapa Naya. Ini bukanlah pertemuan pertama mereka. Naya dan Rama saling mengenal sejak mereka sama-sama mengambil jurusan desain interior di sebuah sekolah bisnis yang terletak di kota ini. Setelah masing-masing lulus dan tenggelam dalam kesibukan pekerjaan selama delapan tahun, sebuah pertemuan tidak disengaja pada suatu siang di pameran, membuat mereka sepakat untuk melanjutkan nostalgia kecil-nya di Kopstel.
“Pesan apa?” Tanya Rama seraya merapikan rambutnya yang basah dan berantakan dihajar air dan angin. Rama bergerak menuju meja tempat dimana Naya sudah duduk dengan sajian snack dan cangkir teh di depan. Siang itu sedikit gerimis sehingga bisa menurunkan suhu udara diluar menjadi kisaran 31 derajat Celcius, meskipun meninggalkan gerah di badan. Beruntungnya, suhu ruangan cafe yang selalu di-setting pada suhu 24 derajat, menghancurkan gerah yang tersisa di badan. “Andalan tempat ini, Pisgor Kayu Manis sama Teh Matcha.” Jawab Naya. Ini kali pertama Naya disini. Naya tergolong anak rumahan sehingga dia tidak begitu familier dengan berbagai tempat nongkrong jaman sekarang, kecuali dipaksa teman kantornya untuk ikut bersosialisasi. “Oh Wow. Cinnamon dan Matcha. Petualang sekali. Randy, biasa ya”. Dalam satu waktu Rama menimpali Naya sembari memberitahu barista pesanan favoritnya, Salted Caramel Macchiatodengan Almond Milk. Rama sudah beberapa kali kesini, dan secara tidak sengaja menemukan menu minuman favorit sejak pertama kali mendatangi kafe ini.
Tanpa disadari, diluar kafe gerimis seketika berubah menjadi hujan. Suara air hujan yang berjatuhan di atap kafe kemudian mengalir ke bawah dan melewati daun-daun pepohonan, bersahutan dengan alunan musik kafe memberikan suasana hangat dan teduh diantara interaksi pengunjung kafe siang itu. Kali ini musik yang sedang dimainkan adalah It’s Always Ben You dari Caleb Hearn. Naya dan Rama juga larut dalam suasana itu, mereka bercerita satu sama lain tentang apa yang telah dan sedang dihadapi setelah pertemuan terakhir kalinya pada saat wisuda sarjana dahulu. Ada sedikit canggung dan malu yang dirasakan oleh Rama. Bagaimanapun, wanita yang saat ini berada di hadapannya adalah jatuh cinta pertamanya pada masa kuliah dulu, bahkan seumur hidupnya. Perasaan itu tidak sempat diungkapkan Rama kepada Naya bahkan hingga terakhir kali mereka bertemu. Perasaan itu dipendam dan dipelihara cukup dengan memperhatikan mimik dan senyum Naya dari kejauhan, entah di dalam kelas ataupun saat mereka berkumpul dengan rekan sekelasnya. Pemuja Rahasia. Kini saat mereka bertemu kembali, Rama masih menjaga perasaan itu dan tidak pernah tergantikan oleh orang lain, meskipun delapan tahun berlalu. Maka penggalan lirik lagu yang terdengar dari speaker yang menggantung di setiap sudut kafe tersebut “It’s always been you. So let the doors just open Wide” memberikan tambahan dorongan kebahagiaan Rama bertemu dengan Naya, layaknya bongkahan kayu yang terhempas ombak menuju pantai setelah terhuyung di lautan. Rama mencoba bertahan dari perasaan itu, berjuang tetap menjadi pemuja rahasia Naya. Ekspresi itu terlihat jelas oleh Naya, namun hal itu didiamkan dia. Akan sangat canggung bagi Naya dan bahkan bagi pengunjung lainnya, jika tingkah dan ekspresi Rama dikonfirmasikan langsung. Naya khawatir Rama akan terkejut dan justru bisa jadi memberikan ekspresi aneh lainnya yang akan terlihat awkward bagi Naya dan pengunjung lainnya. Bagaimanapun ini perjumpaan pertama mereka kembali setelah bertahun-tahun. Meskipun sebenarnya Naya sudah tahu sejak lama kekaguman Rama terhadapnya. Rama adalah pria yang hanya melihat ekspresi dan tingkahnya, sudah terbaca emosinya tanpa harus bertanya. Naya sebenarnya juga memiliki perasaan yang hampir sama kepada Rama, tapi sebagaimana Rama, ia juga menyembunyikan perasaan itu. Satu sama lain tidak berani saling memberi tahu perasaan mereka dan akhirnya hanya bisa memendamnya selama ini tanpa pernah tergantikan atau terisi oleh orang yang lain.
Naya dan Rama adalah dua jenis manusia yang sama namun berbeda. Membingungkan memang, namun jika mendalami karakter mereka satu sama lain, orang akan mengambil kesimpulan bahwa mereka memang ditakdirkan untuk disatukan meskipun akan menghadapi berbagai cobaan atas pribadi masing-masing. Satu yang akan terlihat dari Naya dan Rama oleh orang lain adalah mereka sama-sama pintar. Naya tidak pernah secara jelas memperlihatkan kepintarannya pada masa kuliah dulu. Dia terlihat sebagai mahasiswi yang malas belajar dan memperhatikan pembelajaran saat di kelas. Kerjanya setip hari hanya selalu datang terlambat, dan langsung segera pulang setelah kelas berakhir, sesi diskusi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh dosen pun dilalui tanpa semangat yang menggebu. Sejak sekolah dasar, ia selalu menjadi raja kelas, rangking satu selalu menghiasi setiap halaman rapor. Naya hanya terlihat sebagai pribadi riang, sedikit ramai dan banyak senyum tipis. Rama adalah pribadi lain di seberang jalan. Ia selalu terlihat sebagai sosok serius, pengamat dan pemikir serta selalu bersuara aktif di setiap kelas, dengan kacamata minus dua list hitamnya. Diluar kelas ia ingin dikesankan sebagai orang yang supel dan kocak dengan tingkah laku konyol serta candaan cringe-nya. Namun ia adalah pria yang penuh misteri, kekontrasan pemikiran dan candaan adalah kepura-puraan untuk menutupi pahit hidupnya. Kepintaran yang dimilikinya adalah hasil dari dendam kekecewaan atas apa yang terjadi di hidup dia dan keluarganya. Kondisi yang mati-matian dia ingin tutupi dari orang lain karena satu hal yang dia benci meskipun itu hanya ada dalam pikirannya, dikasihani orang. Dan begitulah karakter mereka berdua terpelihara sejak masa kuliah hingga mereka berpisah dan membangun karir masing-masing.
Dua setengah jam berlalu, Naya dan Rama masih larut dalam obralan mereka, bercerita satu sama lain tentang kisah hidup yang dijalani selepas berpisah pada waktu wisuda. Kebetulan hujan diluar ruangan belum menunjukkan tanda-tanda akan reda. Hari itu keduanya mendapat jeda setelah mengerjakan meeting bersama klien pada pagi hari, sehingga tidak ada kewajiban bagi keduanya untuk diminta segera kembali ke kantor dan kembali sibuk dengan deadline masing-masing. Kopstel Kafe juga bukan tempat yang tidak ramah bagi mereka yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk nongkrong dan ngobrol, sekedar menghabiskan waktu bersama. Sepuluh cubical yang dipisahkan dengan partisi dan tanaman serta table-barpanjang yang bisa menampung tujuh orang berjejer membuat kafe ini dapat menampung antara 40-50 pengunjung dalam satu waktu. Itu belum ditambah dengan beberapa kursi dan garden bench yang tersedia di taman oleh karena letak kafe itu yang berada di dalam taman, dengan pohon-pohon yang rindang menjadikan suasana teduh dan sejuk untuk bercengkerama, tentu pada saat hari sedang tidak hujan.
Anderson Wijaya, 56 tahun, berperawakan sedang dengan kulit putih dan rambut abu-abu, pemilik Kopstel secara sengaja menemukan dan menyewa tempat ini dari pengelola taman. Ia sangat mengenal taman ini karena ia adalah salah satu pekerja pada gedung kantor disekitar taman pada saat ia masih aktif dulu. Setelah bertahun-tahun menabung dan berinvestasi, ia mengambil kesempatan untuk keluar dari pekerjaan yang menyita hampir sebagian besar waktunya selama ini. Namun karena ia menjadi terbiasa dengan suasana kantor dan lalu lalang pegawai, ia tidak ingin beranjak sehingga memutuskan membuka kafe disekitar lingkungan kerjanya dahulu. Anderson sangat tahu keresahan dan beban berat yang dialami para pekerja di kompleks perkantoran tersebut, sehingga ia membiarkan pengunjung untuk larut dan bersama-lama menghabiskan waktu di kafenya dengan bermodal secangkir minuman dan pisang goreng cinnamon. Jika tidak bisa menghilangkan beban, setidaknya kafe yang ia dirikan bisa menjadi tempat singgah dan beristirahat sementara, membuang sedikit keruwetan, mengumpulkan kembali tenaga dan pikiran untuk kembali berjuang, pikirnya. Kafe itu buka mulai pukul 11 siang dan berakhir pukul 10 malam dari hari Senin hingga Sabtu. Karena dikonsepkan menjadi tempat singgah, Anderson sengaja tidak menyediakan layar TV, WiFi maupun koran dan majalah di kafe tersebut. Biarlah para pekerja mencari hal tersebut dan dibanjiri informasi dikantor masng-masing, disini mereka tenang. Keuntungan maksimal bukan menjadi tujuan awal mendirikan kafe tersebut. Sekedar menutup biaya operasional dan sedikit sisa uang yang bisa ditabung sudah cukup baginya. Anderson sudah finansial freedom sejak usia 45 tahun berkat ketekunan menyisihkan penghasilan dan berinvestasi di saat ia masih berstatus pekerja. Jabatan terakhir yang ditinggalkannya sebelum berhenti di usia 54 tahun adalah senior executive manager. Kecintaannya terhadap lingkungan dan interaksi yang terjadi membuat Anderson tidak pernah berpikir untuk “pensiun dan menjauh ke desa”. Ini adalah dunianya.
Smartwatch di pergelangan tangan kiri Rama bergetar. Sebuah tulisan kecil muncul di layar, Rama mengacuhkan-nya namun sapuan matanya menuju pergelangan tangan tersebut tertangkap mata Naya. Telah menjadi kebiasaan lama bahwa dia sangat peka atas hal sekecil apapun yang tertangkap mata. Seketika itu juga Naya melihat penanda waktu di layar Hp dengan backcase berwarna rosegold, warna yang menjadi favoritnya beberapa tahun belakang ini. Saat itu pukul setengah enam sore, hujan telah bertransformasi menjadi gerimis kecil kembali. Cuaca memang sedikit tidak beraturan bulan ini, kadang pagi hari sangat terik, kemudian berganti hujan deras di siang hari dan ditutup dengan gerimis hingga menjelang senja. Seperti saat ini, senja sedang bertolak, siluet matahari terbenam tertangkap di dinding kaca gedung biru laut berlantai 35 segaris dengan pintu masuk kafe. Siluet senja berwarna oranye itu terpantul hingga sinarnya sedikit menembus kedalam kafe, dan berakhir diatas meja Naya dan Virama. Dengan latar pepohonan disekitar bangunan dan kabut hasil hujan tadi, tidak akan ada yang protes bahwa itu adalah sore paling romantis bagi semua orang. Terlebih bagi dua insan yang sama-sama memendam kekaguman tanpa pernah saling mengungkapkan.
Keduanya saling menangkap isyarat, entah itu oleh gerak kecil mereka atau itu hanya pesan semesta. Pertemuan ini sangat menyenangkan, memberikan kelegaan karena akhirnya mereka bisa bertemu kembali untuk sekedar tahu bahwa masing-masing baik-baik saja. Sebetulnya mereka tidak ingin mengakhiri hari ini dengan berpisah satu sama lain, namun hari telah beranjak menuju malam, masih ada puluhan menit yang harus mereka habiskan untuk menuju ke rumah masing-masing. Esok hari dan begitupun hari-hari berikutnya masih banyak pertempuran dan beban kerja yang akan dihadapi. Mereka perlu segera istirahat . “Rama”-“Nay”, serempak mereka memanggil satu sama lain. Rama memberi jeda lama, menunggu Naya berkata. Bukankah seharusnya begitu, menyilahkan sang wanita berkata terlebih dahulu. “Hari ini berkesan sekali. Diawali dengan hectic, ditutup dengan hangat” ujar Naya setelah meneguk Matcha Tea kedua di kafe itu. Memang benar kata orang, apapun pilihan menu yang dipesan pada kunjungan pertama di Kafe Kopstel, akan selalu ada pesanan yang sama berikutnya. Seenak itu, se-menyenangkan itu. Tegukan itu terdengar oleh Rama. Tegukan yang menghadirkan desiran perasaan yang hanya bisa dipahami oleh Rama sendiri. Namun ia tetap terdiam, tidak memberikan balasan. Hanya anggukan lirih kepala sebagai tanda persetujuan. “Mau nggak kita ketemu lagi dalam waktu dekat? Masih banyak cerita yang aku belum dengar dari kamu.” Ucap Naya kembali. Di dalam hatinya, Naya merasakan kenyamanan sekaligus kerinduan pada Rama. Namun ia wanita, pun jika ia pada akhirnya akan mengaku lebih dulu kepada Rama, bahwa sebetulnya ia menaruh rasa, maka itu sebaiknya tidak hari ini, tidak pada perjumpaan pertama mereka setelah bertahun-tahun. Pemikiran yang sama tersusun di hati Rama, ia juga tidak berani mengungkapkannya saat ini. Mereka belum menceritakan semua, atas perasaan masing-masing, atas kenyamanan yang tercipta dari pertemuan ini, bahwa mereka ingin bertemu kembali, bahwa jangan-jangan masing-masing telah hidup bahagia dengan pasangannya kini. Kembali Rama hanya memberikan anggukan tanda setuju, kali ini diiringi dengan senyuman di wajahnya yang kemerahan setelah melihat ekspresi Naya saat mengungkapkan keinginannya. “Dan aku ingin lihat lagi coretanmu itu tentang aku. Sampai jumpa lagi. Bye!” Naya mengucapkan perpisahan sembari beranjak dari kursi. Wajah Rama seketika berubah, senyuman tadi belum sempat beranjak, berganti menjadi keterkejutan. Bagaimana dia bisa tahu bahwa aku pernah menuliskan bait puisi tentangnya saat itu dan masih tersimpan rapih bahkan aku simpan secara digital di galeri Hp. Perasaannya sedang campur aduk saat itu, ia membeku, tidak sempat berucap satu kata pun dan hanya melihat Naya berlalu darinya. Pintu terbuka, Naya pergi. Sesaat pantulan senja sempat jatuh di wajahnya, mengantar ia berlalu meninggalkan kafe. Rama menangkap momen itu. Cantik!
Selasa, beberapa hari kemudian, Naya telah kembali duduk pada tempat yang sama saat pertama kali datang ke Kafe Kopstel. Kali ini ia memesan Pasta Carbonara namun tetap teh Matcha yang menjadi andalan minumnya. Naya cukup lapar sore itu, ia sengaja melewatkan jam makan siang di kantor untuk memenuhi janji bertemu dengan Rama menjelang senja. Pertemuan pertama setelah lebih dari delapan tahun berlalu meninggalkan kesan bagi keduanya, sehingga tidak butuh waktu yang lama mereka mengatur janji untuk bertemu kembali. Tentang apa yang mereka bicarakan saat keduanya bertemu minggu lalu, biarlah menjadi memori manis mereka satu sama lain. Satu yang pasti, alasan Rama untuk mengatur waktu bertemu di sore hari adalah untuk kembali memotret pantulan senja yang mendatangi wajah Naya dengan matanya sendiri. Ia tersihir oleh suasana itu. Naya terlihat sebagai sosok bahagia dengan pilihan kemeja warna pink, kerudung dan rok panjang berwarna light white-nya. Namun tidak dengan ekspresi wajah yang tergambar saat itu. Berbunga-bunga namun penuh kekesalan sekaligus ketidaksabaran. Naya tidak suka diingkari janjinya. Beberapa chat dan panggilan yang ia tinggalkan ke Hp Rama tidak berbalas sama sekali, sedang ia telah hampir satu jam di sana. Jatuh hati dan jatuh ekspektasi secara bersamaan. Rama tidak berubah, selalu misterius, mempesona saat berbicara namun mengesalkan soal waktu. Pikiran Naya dipenuhi dengan judgement tersebut. Rama tidak pernah begitu, jika Naya tahu yang sebenarnya. Ia adalah bagian dari mereka yang morning person dan well planned, sedikit OCD apabila diperhatikan lebih dalam. Jika dibedah, maka yang ia kerjakan dan pikirkan, dihitung per menitnya, efektif dan efisien. Rama adalah orang yang datang lebih awal dan tidak segan menunggu, saat mempunyai janji bertemu dengan orang lain. Namun lalu lintas belakangan laksana badai di tengah lautan, ia mencipta ombak yang memporak poranda jalanan, menjelma simpul keruwetan yang menjadi momok mereka yang terjebak djalan.
Senja telah lewat, pantulan sinar warna oranye yang menakjubkan telah beranjak menghilang, temaramnya telah tergantikan dengan lampu-lampu yang berpijar. Naya masih menunggu dengan kesalnya, kali ini dengan ekspresi muka yang tidak dapat ditutupi lagi kekecewaaannya. Sudah diputuskan lima menit adalah batas waktu perpanjangan yang bisa diberikan. Ini sudah teh Matcha kedua Naya, bersama dengan pergantian plate dari pasta carbonara menjadi nanas madu bakar cinnamon gelato. Perasaan Naya jauh lebih asam dari sensasi yang dihadirkan oleh buah nanas, sedang manis dan uniknya rasa gelato cinnamon adalah penolong kegetiran yang hinggap di hati Naya. Benar-benar perasaan yang tidak keruan. Sepuluh menit kemudian, hanya tersisa gelas Matcha dan plate kosong di meja yang berhadapan dengan pintu masuk kafe tersebut. Naya telah berlalu, meninggalkan meja tersebut, membawa kekecewaan yang harus dijelaskan dengan meyakinkan oleh Rama sendiri, dan harus sesegera mungkin. Namun penjelasan yang diinginkan tidak pernah datang.
“Nak, hari sudah sore. Mari Ibu antar pulang” suara lembut itu terdengar lirih di telinga kanan Naya. Naya mengambil uluran tangan itu, sebuah isyarat sekaligus pertolongan untuk beranjak lalu berdiri. Cukup lama ia bersimpuh, menatap papan diseberang matanya. Setelah Naya berdiri, keduanya kemudian bergerak menjauh menuju tempat dimana mobil Naya terparkir. Naya sempat menengok ke belakang, isyarat perpisahan sekaligus janji untuk datang kembali pada sebuah papan nama dengan hiasan bunga di sekelilingnya. Dua wanita itu saing berangkulan dan bergandengan tangan menyusuri jalur sempit dipayungi pepohonan rindang di kiri dan kanan. Airmata menetes dari sudut mata Naya, mengalir menuju pipi dan menyapu dagu mungilnya. Puluhan langkah berikutnya menuju mobil, Naya tetap membiarkan airmata itu mengalir. Ia telah berjanji sebelumnya, tidak ada airmata yang akan tumpah sebelum ia berlalu dan beranjak dari tempat Rama. Ini airmata rindu sekaligus penyesalan, dan Naya tidak ingin airmata itu jatuh di pusara Rama dan membuatnya tidak tenang. Ya, Rama telah berpulang. Satu sore berhari-hari setelah pertemuan dengan Naya, Rama tersungkur dan tidak dapat bertahan dalam perjalanan ke rumah sakit. Tidak ada keluhan maupun gelagat yang ditunjukkan atau tertangkap oleh orang-orang di sekitarnya. Ia selalu seperti itu, menahan semuanya, apapun itu, sendiri. Misteri
Naya menggenggam buku biru kecil di tangan kirinya, bertautan dengan tali pouch kecil berwarna hitam. Langkah demi langkah menuju mobilnya ia jalani, ditemani dekapan Ibu Rama dan tetes airmata diwajahnya. Sengaja Ibu Rama tidak menyeka airmata itu. Ia pernah merasakannya dan masih merasakannya hingga saat ini. Kehilangan dan kerinduan. “Rama menepati janjinya. Ia menjaga dan menyimpan perasaannya pada satu wanita. Tidak pernah ada yang lain.” Ucap Ibu kepada Naya sebagai bekal perjalanan mereka menuju mobil. “Dia tidak pernah cerita, Ibu hanya merasakan. Ibu tidak pernah tahu siapa wanita beruntung itu sampai akhirnya hari ini tiba. Mungkin ini isyarat yang diberikan Rama dari atas sana. Ibu sekarang bersama dengan gadis cantik itu.” Naya tidak menjawab sepatah kata-pun. Ia hanya berbisik dalam hati ingin segera membaca coretan tulisan Rama sesampainya di rumah Ibu nanti.
Tiga puluh menit perjalanan menuju rumah, Ibu dan Naya tidak saling berkata. Mereka sama-sama masih terbawa kerinduan dan kehilangan. Tiba di rumah, Ibu menyuguhkan teh Matcha hangat kepada Naya. “Ini kesukaan Rama. Dia tahu ini dari orang lain. Sekarang Ibu tahu siapa orang itu.” Beberapa menit berlalu dalam obrolan hangat antara Ibu Rama dan Naya. Termasuk dengan keinginan dan janji Naya untuk selalu ada di samping Ibu. Ibu tidak membantah satu kata pun. Senja mendekat, sinar oranye itu menembus memasuki jendela rumah Ibu. Persis seperti hari itu. Bedanya hari ini tidak ada hujan, hanya ada sunyi dan temaram perasaan. Naya membuka buku kecil berwarna biru yang sedari tadi ada di genggamannya. Ia membuka lembaran buku satu persatu, menyapu tulisan yang ada halaman demi halaman ditemani temaram senja. Menutup hari dengan kenangan dari tulisan seseorang, seseorang yang kini telah beristirahat di-keabadian.
~~~ mata memancar indah. Nama yang megah
Mengambil ruang hati. Menyerupa senja menyambut malam
Senja selalu membiusku, mewarna hangat namun sunyi
Seperti rasaku padamu.
Apalah aku, tiada nyali menyuntingmu, bidadari purnama malam
Kubawa rasa padamu dari kejauhan dengan setia
Merapal doa, agar selalu dijaga. Merona abadi, Nayanika~~~
Quotes.
"kamu tidak dapat mengubah dunia seperti yang kamu mau, tapi kamu bisa mengubah dirimu seperti yang dunia mau."- dani aditya- komika
"jika ingin cepat, berangkatlah sendiri. jika ingin jauh pergilah bersama."- proverb
"if you don't see it, don't say it."- dr. stephanie (spesialis forensik)
"kebutuhan dibatasi oleh langit-langit. keinginan mengambil tempat di langit."- myself
"memeluk diri sendiri dengan kebohongan yang diciptakan kepala, tidak menyelesaikan apa-apa."- wisnu kumoro
loading ...