article

matahari tiara

matahari tiara

Jan 15, 2025

329

cerita fiktif. kesamaan nama tempat, karakter dan kejadian adalah hal tidak disengaja dan tidak bermaksud apapun

images

Tiiing...! suara notifikasi handphone membubarkan konsentrasi perempuan yang sedang bersandar di kursi malas dengan piyama dan teh cammomile hangatnya. Ia masih belum beranjak dari kursi yang mengarah ke jendela luar rumahnya yang saat ini berlatar belakang hujan deras yang airnya beradu dengan genting dan dedaunan. Tiiing…! Tiiing…! Suara notifikasi kembali muncul lagi. Ia bergegas beranjak menuju meja televisi di belakangnya, mencoba menggapai handphone yang layarnya berpendar biru karena notifikasi itu. DIbaca pesan singkat tersebut. 

“Shine…” 

“Halo....Shine…” 

“Lagi sibuk ya, kok aku didiemin aja 

Sesaat kemudian jemarinya menari diantara keyboard handphone, memberikan respon dari si pengirim pesan. Sesekali terlihat ekspresi senyum kecilnya. 

Maaf ya Sun…” 

“Tiara lagi masak nih, buat suami kesayangan…” 

berapa menit lagi pulang? Lama banget! (Emoticon kesal) 

Sesaat setelah pesan terkirim, balasan yang ditunggu akhirnya tiba. 

Berangkaat! Tunggu ya, suamimu sebentar lagi pulang 

Perempuan itu kemudian memeluk handphone, dekat ke dadanya sambil tersipu. Seolah ia sedang memeluk seseorang yang sangat dicintainya. Sun-Shine, nickname mereka. Sun untuk sang suami, sang pekerja, hangat dan terang. Shine untuk sang istri, ceria, periang, tempat nyaman untuk pulang dan melepas penat. 

Tiara Meira Rahayu, nama perempuan itu. Kulitnya putih, tubuhnya ramping dengan rambut ikal kemerahan, hasil kebiasaan diikat ekor kuda. Usianya 28 tahun November nanti. Perempuan mapan dengan karir freelance copywriting yang telah dijalaninya lima tahun terakhir, juga seorang istri. Tahun ini adalah tahun ke-delapan nya "berkarir" menjadi seorang istri dari Chandra Resma Wijaya, junior manager sebuah perusahaan ekspedisi. Mereka masih hidup berdua setelah hampir sepuluh tahun pernikahan. 

 

Pertemuan keduanya hingga akhirnya berpacaran kemudian menikah adalah bagian cerita kehidupan tersendiri babak percintaan dua insan. Tiara dan Chandra sama-sama pendatang di kota besar ini. Keduanya berjuang menapaki kerasnya karir dan kehidupan. Pertemuan pertama mereka selayaknya drama korea. Bermula dari sebuah pesan singkat yang dikirim dari kios laundry ke handphone masing-masing. Entah mungkin sudah digariskan, Chandra dan Tiara tiba di kios pada waktu yang tidak tepat. Hujan deras tiba-tiba jatuh di siang yang terang, membuat kepanikan pengunjung laundry untuk segera meminta "jatahcucian bersih mereka sehingga bisa bergegas pulang. Begitupun Chandra dan Tiara. Paket telah diterima masing-masing. Setelah sedikit reda, keduanya bergerak menjauh dari kios tersebut. Setibanya di kos masing-masing, keduanya terkejut oleh bungkusan laundry yang disadari bukan milik mereka. Mereka kembali ke kios segera, hampir bersamaan. Setelah lama berlalu, mereka tersadar, rupanya mereka memang ditakdirkan untuk dipertemukan dari satu kebiasaan yang kecil. Mereka selalu datang dan pergi dari laundry itu di hari dan jam yang sama, hanya selisih 5 menit, selalu. Dari "kebetulan" yang sengaja diciptakan semesta, kisah romantis mereka berlaku seperti jatuh cinta di sinetron-sinetron itu hingga akhirnya masuk di tahun kedelapan pernikahan. 

Senja turun tepat di pukul setengah enam sore. Mungkin karena hari ini langit dikelilingi mendung sejak siang tadi. Temaram sore ini menjadi terlalu teduh. Suara rintik gerimis mulai membuyarkan suasana sore itu. Tetes demi tetes air yang jatuh dari langit menimpa lembaran daundaun monstera yang dipajang di teras rumah. Seketika bunyinya menjadi semakin sering dan nyaring. Gerimis telah berubah menjadi hujan deras.  Dhuarrr! Tiara terperanjat dari sofa di depan meja yang menghadap jendela teras rumah. Petir itu terlalu kebetulan, berbunyi dengan kencangnya, menyadarkan diri Tiara dari lamunannya sejak siang tadi. 

Lelaki itu sedang berjalan di suatu sore hari Selasa. Lalu lintas disampingnya sedang ramai dengan suara klakson dan teriakan pengendara jalan, tergesa-gesa ingin segera sampai rumah. Tidak sengaja matanya menangkap sebuah peristiwa yang terjadi di sebuah bangunan berpagar hitam tinggi di sebelah kiri. Sebuah taksi masuk ke halaman, dari pintu kiri belakang turun seorang perempuan berbaju gaun putih dan rok hitam, terlihat anggun dengan kaki jenjang dan flat shoe hitamnya. Menyusul kemudian makhluk kecil dengan setelan jas hitam putih yang kepayahan berusaha turun dari taksi tersebut. Disebelah depan, gadis kecil dengan gaya busana yang sama dengan perempuan itu juga ikut keluar dari taksi tersebut. Teras bangunan tersebut berundak ke atas.untuk mencapai pintu masuk, mereka harus menaiki anak tangga yang cukup tinggi. Seluruh penumpang telah turun, taksi berlalu, mereka bertiga bergandengan menaiki tangga. Di penghabisan tangga tersebut, menunggu sang tuan rumah menyambut mereka bertiga. Dibelakangnya tanda salib terpampang terang oleh siluet lampu LED kuning yang terpasang ditemani pohon cemara berhias pernak-pernik. Bangunan itu sebuah gererja. Cukup lama lelaki itu mematung menyaksikan rangkaian kejadian itu sampai akhirnya terhenti karena sang tuan rumah dan tamunya berlalu masuk. Selama itu pula, dunia seakan hening dan sendu, mendukung ia untuk fokus merekam apa yang sedang dilihatnya. Ketika ia berhenti mematung, seketika itu pula suara klakson dan teriakan meraung bersahutan kembali menjadi latar suara. Ia melanjutkan jalannya, menuju halte tempatnya menunggu bus. 

 

Bus berhenti, satu per satu penumpang naik dan turun. Ada lebih banyak mereka yang akan naik dari yang turun. Lelaki berjaket navy, topi hitam dan tas punggung nya mengantri naik. Ia berdesak sesak dengan para penumpang lain, berdiri, bus telah penuh sejak pemberhentian sebelumnya. Hujan perlahan turun, semua teduh sejak siang hari bertambah sendu. Sambil memperbaiki posisi jari nya di pegangan bus yang tersedia, matanya menerawang menembus kaca bus yang dialiri rintik hujan. Angan-nya mengolah momen yang terjadi saat ini, penumpang taksi yang turun dari taksi menuju gereja yang dilihatnya tadi, dan sayup-sayup pernak pernik yang terpasang di gedung-gedung sepanjang jalan.  

Hari ini tanggal 24 Desember, Malam Natal. Ingatannya melayang jauh. Atas kejadian yang tidak bisa dimengerti dari mana mulainya, obrolan yang seharusnya terjadi sebgaimana hari-hari biasanya berubah menjadi penghakiman masing-masing atas seluruh kesalahan dan kekesalan yang selama ini dipendam. Adu mulut tidak terelakkan akibat ego masing-masing. Semua kekesalan dan kesalahan saling tertumpah, saling teriak dalam lirih, hingga akhirnya pertahanan itu runtuh. Lelaki itu mengemasi baju dalam ransel, kemudian pergi berharap untuk dicegah. Ia tidak benar-benar pergi, menggertak, ingin ditahan. Tidak terjadi. Ia benar-benar pergi, tanpa ditahan. 

Perjalanan pulang masih panjang, bus semakin sesak. Sambil membunuh waktu, lelaki itu mengambil handphone dari saku, membuka layar menuju aplikasi chat. Matanya fokus menuju kontak bertuliskan Shine. Ia membaca pesan dalam tampilan layarnya sesekali senyum tipis. 

“Tiara lagi masak nih, buat suami kesayangan…” 

berapa menit lagi pulang? Lama banget! (Emoticon kesal)” 

Lelaki itu menulis balasan: 

Berangkaat! Tunggu ya, suamimu sebentar lagi pulang 

Akhir pesan.  

Setetes air mata keluar. Pesan tertanggal 20 Desember, 5 tahun lalu. Lelaki itu memasukkan kembali handphone ke dalam sakunya, kembali larut dalam perjalanan pulang, memeluk kesendirian. 

Quotes.

"makanan enak pasti tidak sehat, makanan sehat pasti tidak enak."- disarikan dari berbagai sumber

"mengutuk kegelapan baik, menyalakan cahaya jauh lebih baik."- anies baswedan

"it is better to be warrior in the garden than a gardener in the war."- chinese proverb

"orang paling bijak adalah yang paling banyak rasa khawatir."- yusril fahriza

"saya tidak pernah melihat apa yang telah dilakukan. saya hanya melihat apa yang masih harus dilakukan."- marie curie

images

loading ...