kupu-kupu arjuna
Aug 05, 2024
349
cerita ini fiktif belaka. kesamaan nama tempat, tokoh dan alur cerita yang disajikan adalah hal yang tidak disengaja dan tidak bermaksud apapun. selamat membaca
“Hai Jun, gimana? Mendingan?” Suara lembut seorang gadis menyapa pasien rawat inap Kamar 5006 lantai lima RS Salma Medika, rumah sakit kecil di sebuah kota di lereng gunung. Ia yang menyapa, Kaylila Sendranaki, 20 tahun, berkerudung, putih dan kurus dengan tinggi 156cm, menggunakan cardigan navy dan celana khaki-nya. Di seberang sapaannya, sedang terbaring di brankar dengan selang infus terpasang di lengan kiri dan selang oksigen masih menggantung di hidungnya, Arjuna Mandalawangi, pemuda usia yang sama, bertubuh sedikit gempal, rambut ikal, berkacamata dan kini ada balutan perban dikepalanya.
“Ehm, ee…iya, mending..an…” Balas Arjuna tergagap malu. Ia gugup, kaget sekaligus senang, gadis yang diidolakannya tiba-tiba tanpa berkabar kini dihadapannya. “Maafin anak-anak ya, udah tua konyolnya kayak anak TK” sahut Kay, yang tiba-tiba duduk disamping ranjang Arjuna. Dekat sekali. Arjuna panik. Dadanya berdegup kencang.
“Trus gimana? Ada keluhan?” Kay terus mencecar Juna sembari jarinya menyapu wajah dan rambut pria yang kepalanya sedang terbebat perban kassa, persis seperti di sinetron. Tapi kali ini sakitnya sungguhan, bahkan bagi Juna yang hampir saja kehilangan nyawa. “Eee…ngg…gakk…kok” Juna semakin gugup menimpali. Sebenarnya ia saat ini masih merasakan pusing hebat dan sakit di pelipisnya, hasil benturan dengan lantai keramik warna gading dan dinding warna pastel selama ia terguling jatuh di tangga kampusnya. Peristiwa itu sangat heboh. Tetapi lebih dari rasa sakitnya, ada perasaan janggal yang dialami Juna, dadanya sesak, jantungnya berdebar, pandangannya silau, kepalanya seperti dikelilingi puluhan lebah yang sedang patroli di sekitar mahkota bunga, bibirnya-pun melebar tipis di masing-masing sisi pipi yang merona. Ia jatuh cinta, tapi ia hanya punya keberanian level minus 3.007 kepada gadis yang saat ini satu ruangan dengannya, yang sedang menjenguknya, duduk disampingnya, dan mengusap wajahnya. Film romantis manapun tidak akan bisa menggambarkan romansa saat itu, setidaknya bagi Juna.
“Kenapa salting begitu sih? Aneh!” Ujar Kay dengan santai. Ia gadis periang, mudah bergaul namun terbiasa ceplas-ceplos. Bukan suatu sifat yang tepat, tapi setidaknya itu membuat ia terfilter, berteman dengan mereka yang se-frekuensi. Hasilnya, temannya tidak banyak, bersahabat akrab dan bisa diandalkan. Juna mematung.
##
Siang itu, Rabu kedua di bulan Februari. Kay, Juna, dan berpuluh teman lainnya baru saja selesai dari kelas Metodologi Penelitian, lantai 3 kampus mereka. Setelah semester ini, di semester depan, mereka dijadwalkan akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata, baru kemudian menyusun skripsi semester berikutnya. Kelelahan menerima pelajaran, beberapa teman-teman Juna, memilih nongkrong di selasar kelas untuk beristirahat, sisanya memilih langsung menjauh, barangkali ke kantin, atau ke masjid kampus, atau bahkan mungkin menyerah dan pulang kerumah.
Juna, berbaju hem warna biru bermotif kotak garis putih dan celana panjang green olive, baru saja melewati pintu ruang kelas bersama Kay. Mereka asyik dalam diskusi, baru saja mereka presentasi tugas kuliah dan tergabung dalam satu kelompok. Juna adalah seorang orator yang analitis dan mendalam, sedangkan Kay terbiasa logis dan singkat. Kombinasi keduanya dalam satu kelompok, rupanya menimbulkan ketidakpuasan satu dengan yang lainnya, mereka merasa paparan hari ini tidak sesuai dengan style msing-masing sehingga karakter dan pemikiran mereka kurang keluar. Ah, sebuah pemandangan yang ganjil akhir-akhir ini, semangat mahasiswa “pertengahan” yang tetap terjaga membara.
“Kamu tadi harusnya jangan potong aku dulu, ada keyword yang bisa dipake buat jawab argumentasi kelompok Cyntia” ucap Juna sedikit datar. “Abis, kamu kebanyakan buang waktu buat ngejelasin teori Pollock jadi ngasi mereka celah buat nge-counter” jawab Kay agak kesal. “Coba kamu kasih ke aku, pasti aku arahin ke simpulan kita langsung. Ga akan ada jeda, case closed!” lanjut Kay sambil mengumpulkan lengannya bersilang di dada. Melihat gestur Kay, Juna jadi ciut. “Okay Sorry, We’ll fix it later” bujuk Juna. “Next time, my rule! Just listen and believe in me” sahut kay sambil jari telunjuknya mengarah ke hidungnya sendiri. Juna tersenyum tipis melihat tingkah Kay sambil bergumam dalam hati. Cantik. Ia segera mengubah ekspresinya, khawatir terbaca Kay.
Terlalu asyik diskusi sambil berjalan menjauhi pintu kelas, perhatian mereka teralihkan oleh Sam yang datang mendekat dengan kedua tangan tertelungkup, seperti ada yang tersembunyi dibalik jari-jarinya. “Udah..udah..jangan diributin. Jun ini buat kamu” ujar Sam sambil menyerahkan benda yang ada digenggamannya, dibuka dan ditunjukkan ke muka Juna. Dekat sekali. Juna berteriak terkejut sekaligus ketakutan “Aargh!!”. Gubrak!. Adegan selanjutnya, Juna terjatuh dan berguling di sepanjang tangga lantai tiga, mengarah kebawah, kepala dan badannya terantuk sana-sini. Entah karena kekagetannya, atau karena posisinya yang ada di ujung tangga tersebut sehingga ia terpental menghujam lantai ber-undak itu. Kay berteriak sembari tangannya menjulur mencoba menangkap Juna “Junaaaa!!!”. 10 detik kemudian tubuh Juna berhenti menggelinding di lantai dua, ia berdiri sebentar sambil berucap “Gapapaaa….”. Kemudian dia terhuyung jatuh, tersungkur terkulai lemah di lantai. Ia pingsan, dengan darah mengucur dari pelipis kanannya dan beberapa goresan luka di lengan kiri dan kanannya. Sejurus kemudian adegan berubah menjadi dramatis dan mencekam. Sam dan teman-temannya mengejar tubuh Juna di lantai dua dan segera mencari bantuan. Sambil menggotong tubuh Juna, Sam ketakutan berucap” Maaf Jun, aku pikir kamu bercanda”. Tubuh Juna dilarikan ke rumah sakit.
Kupu-Kupu!
Itulah yang digenggam Sam, yang ditunjukkan kepada Juna. Ketakutan Juna!. Terlihay konyol memang, namun jika saja Sam dan teman2nya tahu cerita lengkap dibalik itu, mereka akan sangat menyesal telah melakukan hal konyol itu.
###
Juna adalah lelaki tertua dari 3 bersaudara pasangan Andi dan Astri. Andi, ayah Juna, pegawai sebuah bank pemerintah, bertubuh tegap, atletis dan seorang yang gemar beladiri. Astri, dulu adalah rekan kerja Andi di kantor yang sama, memilih untuk men-darmakan diri menjadi ibu rumah tangga seutuhnya setelah mengandung Juna.
Saat itu Juna kelas 1 SMA, disuatu siang dihari Sabtu, ibunya meminta tolong sang Ayah untuk membetulkan lampu di ruang tengah rumah mereka. Sore nanti akan ada acara, mereka berbenah. Andi mengambil tangga rapuhnya dari belakang rumah, menyeretnya mendekat ruang tengah. “Juna bantu Pah!” Juna menawarkan diri. “Ga usah, gini doang. Udah kamu bantu Mama ambil tikar di belakang” Jawab Andi. Baru beranjak sebentar, Juna dikejutkan dengan suara gaduh. Brakkk! “Jun, Papah!” teriak mama dari dapur. “Kupu-kupu…” Andi berucap sebentar kemudian pingsan. Juna memanggil adik-adiknya untuk membantu ayah mereka, sedangkan Astri menyambar telepon memanggil ambulan. 15 menit kemudian ambulan datang, petugas masuk ke ruang tengah dan segera membawa Andi ke dalam mobil menuju rumah sakit. Juna, sambil menenangkan adiknya yang menangis, sekilas melihat kupu-kupu hinggap di lengan Ayahnya. Sebentar, kemudian terbang kembali keluar. Andi, sang ayah, terjatuh karena kaget sewaktu membetulkan lampu. Tiba-tiba saat ia asyik membetulkan lampu, datang kupu-kupu yang terbang mengarah ke mata Andi. Terkejut oleh kedatangan kupu-kupu itu dihadapan mukanya, Andi kehilangan keseimbangan dan terjatuh, dengan punggung terlebih dahulu mendarat di lantai.
Dua tahun berlalu sejak kejadian itu, hari-hari Juna dan ibunya diwarnai dengan saling bergantian bolak-balik rumah sakit. Jatuhnya Andi memicu sel kanker untuk hidup dan berkembang, menggerogoti tubuh Andi yang kemudian semakin kurus akibat kemoterapi yang dijalaninya. Pertahanan Juna, adik-adik dan Ibunya goyah. Sang kepala keluarga akhirnya dipanggil pulang menghadap Tuhan. Mereka yang ditinggalkan semakin rapuh. Bagaimanapun hidup harus berjalan. Astri, Juna dan adik-adiknya harus melanjutkan garis hidup mereka. Astri mengambil alih peran nahkoda rumah tangga dengan membuka usaha catering. Keahlian yang dimilikinya sejak lama. Juna, dengan segenap rasa kehilangan dan sedihnya, membantu usaha Ibunya dengan sungguh-sungguh. “Tahan sebentar pengorbananmu Mah, setelah ini biar Juna yang tanggung semua bebannya” Janji Juna dalam hati.
Di hari penguburan Andi, sesaat sebelum dimakamkan, kupu-kupu tiba-tiba hinggap ke jasad Andi, sebentar kemudian berpindah ke pundak Juna. Sejak saat itu Juna hidup dengan trauma atas kupu-kupu. Sebuah trauma yang lahir dari rasa dendam dan kehilangan ayah yang diandalkan sekaligus ketakutan atas binatang yang menjadi sebab kehilangannya. Trauma yang akhirnya menghantui dirinya, dan dijadikan bahan lelucon bagi siapapun yang mendengarnya, tidak terkecuali Sam dan teman-teman Juna.
####
“Halooo, ada orang dirumah?” suara itu membangunkan Juna. Juna kepergok mematung setelah kepalanya diusap Kay. “Ee..anu..aku..enggak kok” sambil gugup Juna kesulitan merangkai jawabannya. “Grogi ya dijenguk cewek cantik?”Kay meledek. “Seneng ya, dirawat sama ditemeni orang yang kamu suka?”. DhuaRRR! Kalimat itu mengagetkan Juna. Sekilas ia seperti kesetrum tersambar petir. Juna salah tingkah, wajahnya memerah, badannya bergerak sedikit, seperti sedang membetulkan sandarannya. “Udah, ga usah tambah salting begitu. Aku tahu kok. Selama ini kamu selalu colong-colongan ngelirik aku. Caper-mu setiap presentasi di kelas, wajahmu ketika kita se-kelompok, puisi-puisimu yang kata-mu asal buat, itu untuk aku kan?” ucap Kay memojokkan Juna. Juna semakin diam, bibirnya mengulum, ia terlihat seperti kena Skak-Mat. Bull’s Eye!. “Terus, gimana?” Kay berucap sambil memandang wajah Juna, berharap respon. “Ee..Iya..Itu semua aku memang suka kamu”. Juna menjawab sekenanya. “Teruuuus…” Kay mencecar. “ Teee…ruuus…Eee…akkkuu” Juna seperti kesulitan berkata. “Tuh kan, kamu mah lama, bertele-tele!” Kay kesal. Ia beranjak ke pojok kamar dekat jendela, mengambil air untuk minum, kemudian sambil menggenggam sebuah apel mendekati Juna kembali. Saat itu Juna satu-satunya pasien di dalam kamar yang seharusnya muat tiga orang pasien. “Aku ambil alih". Kay menggerutu.
“Dengerin!” Kay memulai pembicaraan dengan mode serius, tetap dengan apel di genggaman. “Ee..Iya” Jawab Juna singkat. Ia menyingkirkan rasa sakit dan pusing dikepalanya yang saat ini sedang menyerang, entah itu memang sakit atau berdebar karena ini akhirnya momen yang ditungu-tunggu. Tapi seharusnya momen yang dibangun bisa lebih baik, harusnya aku, Juna, cowok yang memulai lebih dulu, dengan cara yang lebih romantis, ditempat yang romantis, membawa buket bunga yang tersembunyi dibelakang, disebuah restoran steak saat senja. “Iiih, kamu tuh merhati’in aku ga sih!” suara Kay mengagetkan Juna, membuyarkan sejenak lamunannya. Ah sudahlah, bubur sudah terhidang, tidak mungkin jadi nasi kembali.
“Aku tahu kamu suka aku sejak lama, ga perlu memastikan lebih dalam lagi, tingkah polahmu itu kebaca. Biar aja!, meskipun aku cewek dan harusnya kamu yang nembak, tapi karena kamu itu bertele-tele, aku saja yang mulai.” “Aku juga suka kamu! Seterusnya kita gimana, itu keputusan kamu! Tapi harus kamu jawab sekarang! Dan gausah muter-muter! Singkat! Padat! Jelas!” Kay bersungut serius. Teringat apel digenggamannya, kemudian ia menggigit apel itu. Seperti sedang meluapkan kekesalannya. “Ya aku maunya kita jadian, pacaran, sama-sama seterusnya, sampai kita nikah nanti.” Juna tiba-tiba menjawab, singkat, padat dan jelas, sesuai instruksi Kay. Entah ia dapat kekuatan darimana. Kekuatan level 14.001.
“Stop, pelan-pelan pak sopir. Jangan ngebut. Tiba-tiba sampai nikah, kamu aja masih pesakitan disini”. Kay menimpali dengan gestur aneh, kedua tangannya mengangkat terbuka mengarah ke Juna, seolah-olah polisi lalu lintas yang akan memberi sinyal berhenti. “Ya tapi aku serius Kay. Aku ingin dekat kamu selalu, sampai kita nikah nanti. Kamu selalu aku sebut di doaku setiap waktu. Bukan buat jadi pacar, tapi jadi istriku Kay. Mau ya?” Juna menjawab gestur aneh Kay dengan pertanyaan yang juga tidak kalah anehnya. Ia sendiri pun terheran dalam hati. Tapi biarlah, ini kesempatan satu-satunya, peluru terakhir!.
“Oke, satu syarat!” Kay menantang Juna. “Apapun sayang!” Juna menimpali. “saaayaang…?” Jawab Kay keheranan. “Eh…anu..tapi kann..” Juna terkejut bingung, salah tingkah. “Kamu mah aneh! Syaratnya, kamu harus cepet sembuh, cepet keluar dari sini dan gimanapun caranya, kamu harus sembuh dari trauma kupu-kupu-mu itu, aku bantu! Janji?!!” Kay menagih Juna. “Siap bos!….Aduh!!” Juna menjawab tantangan itu dengan memberikan gestur seolah memberi hormat sehingga tanpa sengaja tangannya menekan sakit di pelipis wajahnya. Konyol sekali. Kay menyodorkan apel bekas gigitannya, Juna menerimanya dan menggigit apel tersebut.
Sejurus kemudian hari-hari Kay dan Juna dihabiskan bersama, pasangan yang tidak terpisahkan, meskipun dengan naik dan turun hubungan mereka tetap bertahan hingga jenjang pernikahan, karir yang mapan dan dua anak lucu buah hati mereka.
#####
Tok! Tok! Tok! “Permisi Mas Juna…” suara wanita mengejutkan Juna yang sedang terduduk menghadap jendela kamar. “Ya masuk aja” Juna menjawab lirih. “Mas Juna sudah siap?” tanya wanita itu. “Boleh…” jawab Juna. “Kita nanti lewat taman itu kan?” tanya Juna sambil menunjuk taman yang terlihat diseberang jendela, yang selama ini dilihatnya. “Boleh. Mas Juna mau ke taman itu dulu?” tanya wanita itu kembali. “Bisa kan saya diantar kesana? Saya pengen lihat kupu-kupu, siapa tau bisa pegang salah satunya” pinta Juna. “Baik, mari mas saya antar”. Wanita tersebut bergerak mendekat ke arah Juna, menawarkan diri mendorong kursi roda yang sedang diduduki Arjuna.
Juna, ditemani suster rumah sakit menuju ke arah taman yang ditunjuknya. Sesampainya ditaman tersebut, setelah sekilas menengok kiri dan kanan, ia menjulurkan tangan kanannya. Tiba-tiba kupu-kupu warna putih mendekat dan hinggap di telunjuk Juna. Juna mematung tersenyum sambil berkata dalam hati “Kay sayang…aku penuhi janjiku ke kamu. Harusnya kamu bisa lihat ini. Aku sudah tidak takut kupu-kupu, ini buktinya. Dimanapun kamu sekarang, semoga kamu bisa lebih bahagia dengan teman hidupmu. Karena kalau denganku, aku akan sangat membebanimu, aku tidak mau menderita melihatmu menderita”. Bayangan bahwa Juna dan Kay terus bersama hingga jenjang pernikahan dan punya dua anak kecil, itu semu, mimpi yang terkubur dan dijaga lama sekali di palung hati dan pikiran Juna, tanpa pernah terwujud.
Kupu-kupu putih itu pun tiba-tiba pergi seolah ia tahu. Sebelumnya ia hinggap menunggu sampai kata hati Juna selesai, kemudian ia berlalu. Barangkali ia terbang mencari Kay berada, menyampaikan isi hati Juna. “Sudah mas Juna? Mari kita ke ruang tindakan, supaya mas Juna bisa segera istirahat”. Pinta suster. Juna mengangguk, ia kemudian didorong suster itu menjauh dari taman menuju ruangan yang selama setahun ini selalu dikunjunginya. Kemoterapi.
~selesai~
Quotes.
"father is someone you hate for, but in quiet he love more."- myself
"lingkaran setan hanya dapat diakhiri dengan cara mengingkari-nya."- guru gembul
"selalu ada berkah di setiap masalah, untuk kita ambil hikmah."- roy ricardo
"hidup ini tugasnya hanya menjaga dan merawat kepercayaan orang."- butet kartaredjasa
"aib itu jika sudah tau salah, namun berhenti mencoba untuk memperbaiki."- coki anwar-cek toko sebelah the series 2022
loading ...