article

komedi: getir, satir, riil, nyindir?

komedi: getir, satir, riil, nyindir?

Jan 30, 2026

16

ketika tawa diperdebatkan. *image are generated from craiyon

images

Beberapa waktu terakhir, ruang publik kita dipenuhi perbincangan hangat, bahkan panas, mengenai pertunjukan stand-up comedy Pandji Pragiwaksono berjudul “Mens Rea”. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan biasa. Ia dibangun dengan hype panjang hampir setahun, ditonton oleh sekitar 10.000 penonton yang hadir secara langsung dan lebih dari 7.000 penonton daring, lalu mencapai audiens yang jauh lebih luas setelah tayang di Netflix. Cobalah tonton, utuh, bukan potongan, apalagi jangan dari medsos.

Pandji Pragiwaksono adalah presenter, aktor, sutradara, sekaligus stand-up comedian yang memiliki legitimasi kultural sebagai pendiri komunitas Stand Up Indo bersama dengan keempat seniman lainnya (Ernest Prakasa, Raditya Dika, Isman HS dan Ryan Adriandhy) yang telah eksis kurang lebih 15 tahun. Dalam lanskap seni pertunjukan Indonesia, ia dapat diposisikan sebagai seniman yang secara konsisten menjadikan komedi sebagai medium kritik sosial dan politik. Yang membuat Mens Rea menjadi sorotan bukan semata materinya yang politis, melainkan momentum kemunculannya, ditayangkan ketika Indonesia tengah berada dalam suasana sosial-politik yang oleh banyak orang dirasakan “tidak baik-baik saja”. Dalam konteks inilah, komedi tidak lagi hanya memancing tawa, tetapi juga memantik ketersinggungan, kemarahan, dan perdebatan publik.

Secara historis, keterkaitan antara komedi dan politik bukanlah fenomena baru. Dalam tradisi Yunani Kuno, Aristophanes, kerap disebut sebagai bapak komedi politik, menggunakan panggung teater untuk menyindir elit penguasa, kebijakan perang, dan kemunafikan publik. Dalam karyanya Lysistrata dan The Clouds, kritik terhadap negara disampaikan melalui satire tajam, ironi, dan absurditas. Filsuf Aristoteles dalam Poetics menyebut komedi sebagai tiruan dari perilaku manusia yang “lebih rendah”, bukan dalam arti moral, melainkan sebagai cara untuk menertawakan kelemahan manusia. Sementara itu, Henri Bergson dalam esainya Laughter (1900) memandang komedi sebagai mekanisme sosial untuk “mengoreksi kekakuan perilaku” melalui tawa. Dengan kata lain, tawa berfungsi sebagai alat refleksi kolektif. Dalam konteks modern, satire politik berkembang pesat melalui media populer dari late night show di Amerika Serikat hingga stand-up comedy di berbagai negara demokratis. Riset dari Pew Research Center menunjukkan bahwa generasi muda justru banyak memperoleh literasi politik dari komedi satir dibandingkan media berita konvensional. Komedi, dalam hal ini, berfungsi sebagai pendidikan politik non-formal.

Mens Rea sendiri diambil dari istilah hukum pidana yang berarti “niat jahat” atau kesalahan batin seseorang. Pandji menggunakan konsep ini untuk mengajak penonton bercermin: bahwa keresahan sosial dan politik yang dialami bangsa ini bukan sekadar kesalahan elite, tetapi juga merupakan konsekuensi dari pilihan politik warga negara itu sendiri. Melalui narasi personal, data elektoral, dan satire tajam, Mens Rea menyampaikan pesan yang tidak nyaman: hak pilih bukan hanya terkait hak, namun juga tanggung jawab. Ketika hasil politik mengecewakan, publik tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari tanggung jawab kolektif tersebut. Di sinilah letak kehebohannya. Komedi yang biasanya menjadi ruang pelarian justru berubah menjadi ruang refleksi. Bagi sebagian orang, ini adalah pencerahan. Bagi sebagian lainnya, ini adalah penghinaan, penghakiman, bahkan dianggap melampaui batas.

Menurut kajian sosiologi seni, Pierre Bourdieu, seni selalu beroperasi dalam medan kekuasaan dan selera. Setiap karya seni berpotensi menimbulkan resistensi karena ia berinteraksi dengan nilai, identitas, dan pengalaman personal audiens. Komedi, terlebih yang membahas politik, memiliki risiko yang lebih tinggi. Stand-up comedy secara inheren bersifat konfrontatif: satu orang berbicara, ribuan orang mendengar, dan kebenaran disampaikan dalam bentuk hiperbola. Ketersinggungan bukan anomali, melainkan dampak yang tidak terhindarkan. Namun, penting untuk dicatat bahwa Mens Rea tidak hadir sebagai serangan tiba-tiba. Pertunjukan ini dipromosikan secara terbuka sebagai komedi politik. Penonton datang dengan kesadaran dan persetujuan awal (informed consent). Dalam etika pertunjukan, consent ini menjadi kunci: ketika seseorang memilih menonton komedi, ia juga memilih untuk membuka diri terhadap kejutan, ketidaknyamanan, bahkan ketidaksepakatan. 

Sependek pemahaman saya, dan sejalan dengan semangat kebebasan berekspresi, komedi menuntut kedewasaan audiens. Tidak semua candaan harus disetujui. Tidak semua argumen harus diamini. Namun, ketidaksepakatan tidak serta-merta harus berujung pada kemarahan, pelabelan, atau tuntutan pembredelan.

Dalam masyarakat demokratis, ekspresi seni dilindungi justru karena kemampuannya mengusik. Jika setiap candaan harus disesuaikan dengan sensitivitas semua pihak, maka komedi akan kehilangan esensinya. Tawa tidak pernah netral, tetapi ia juga tidak selalu bermaksud melukai. Jika sebuah komedi tidak sesuai dengan nilai atau pandangan kita, sikap paling bijak sering kali adalah diam dan menjauh. Tidak semua hal harus dipertentangkan. Tidak semua opini harus dilawan, apalagi jika semangat awalnya adalah hiburan. 

Di tengah banjir informasi, polarisasi media sosial, dan tekanan hidup yang semakin kompleks, manusia membutuhkan ruang untuk bernapas. Tertawa adalah sebuah coping mechanism, sebuah strategi yang digunakan individu untuk mengatasi stres dan tekanan serta situasi sulit, sadar maupun tidak sadar. Psikologi positif menunjukkan bahwa tawa dapat menurunkan hormon stres, meningkatkan imunitas, dan memperbaiki suasana hati, meskipun hanya sesaat. Komedi, dalam konteks ini, adalah oase di tengah kebisingan, setidaknya itu yang saya percaya. Ia mungkin tidak menyelesaikan masalah struktural, tetapi memberi jedaagar kita tidak tenggelam dalam kemarahan kolektif. 

Mens Rea telah menjadi lebih dari sekadar pertunjukan komedi. Ia adalah cermin sosial, pemantik diskusi, sekaligus ujian kedewasaan publik kita. Polemik yang muncul seharusnya tidak berujung pada pembungkaman, melainkan pada refleksi tentang sejauh mana kita siap hidup dalam masyarakat yang plural, terbuka, dan demokratis. Komedi tidak perlu dibredeli. Ia tidak selalu harus diperdebatkan. Selama ia lahir dari ruang seni dan ditonton dengan kesadaran, komedi layak diperlakukan sebagai apa adanya: hiburan yang cerdas, kadang menyakitkan, namun tetap manusiawi. Pada akhirnya, kita memang sedang membutuhkan hiburan, yang menyenangkan, yang membuat kita tertawa meskipun hanya untuk sesaat agar kita mampu kembali menghadapi kenyataan dengan kepala yang lebih dingin.- Brrrrr

Quotes.

"mereka yang menyodorkan gagasan dengan mengomentari, merendahkan dan menyalahkan gagasan orang sebenarnya tidak punya gagasan."- margareth thatcher

"when you targeting to be the first, my focus is to always be the only one."- myself

"the most effective leadeship today isn't about technical expertise and having all the answer. it's about being human, showing vulnerability, connecting people and being able to unleash their potential."- hortense le gentil

"pertanyaan paling susah dijawab adalah apa kabar. berbohong menyenangkan orang tapi menyakitkan diri, jujur melegakan diri namun merepotkan orang."- disarikan dari berbagai sumber

"bicara tentang angka adalah tentang rasa, karena dia menciptakan nilai didalamnya."- myself

images

loading ...