dilema pengambilan kebijakan berbasis ai
Sep 06, 2024
430
bagaimana membangun kepercayaan dan posisi kita terhadap ai. note: apabila terdapat kesalahan ketik, menunjukkan bahwa tulisan ini murni ketikan pribadi, tanpa bergantung pada ai
Teknologi Komunikasi dan Informasi mengalami perkembangan yang sangat masif, lebih jauh dari yang pernah dibayangkan sebelumnya. Perkembangan ini justru mengalami lompatan sejak 5 tahun terakhir, terutama pada masa pandemi Covid pada waktu lalu. Kita tentu tidak pernah membayangkan bahwa teknologi tersebut, terutama internet, membawa dampak yang sangat signifikan. Melalui internet, tidak hanya pekerjaan menjadi lebih cepat, komunikasi menjadi lebih lancar, sekat-sekat akibat ruang dan waktu semakin memudar, bahkan kita mulai bergantung pada hal tersebut. Bahkan kita dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa peradaban manusia semakin maju akibat internet. Tentu saja kesimpulan ini sifatnya masih lemah dan perlu pembuktian lebih lanjut. Namun setidaknya ini memberi gambaran mengenai peluang pemanfaatan AI kedepan, lengkap dengan mitigasi resikonya.
Di Indonesia, internet pertama kali dikenalkan pada tahun 1983 oleh PT. Indosat sebagai salah satu layanan telekomunikasi yang awalnya hanya dapat diakses oleh kalangan akademisi dan instansi pemerintah saja. Internet kemudian pertama kali masuk secara komersil dengan ditandai oleh operasionalisasi PT. IndoNet sebagai ISP komersial pertama pada tahun 1994. Perlu waktu beberapa lama, bahkan melalui peristiwa reformasi 1998 sebelum bisnis warung internet mulai tumbuh dan menjamur sekitar tahun 2005-2006. Beberapa diantara kita pasti sangat famillier dengan billing data simbol lumba-lumba biru (blue dolphin). Sejak itu, kita dimudahkan dalam mencari ilmu dan sumber informasi yang memperkaya wawasan dan pengalaman kita.
Beberapa waktu lalu, dunia dihebohkan dengan kemunculan CHAT-GPT, sebuah program yang dikembangkan untuk menjadi “yang paling tahu segalanya” di ekosistem internet. Ia adalah program yang dikembangkan melalui algoritma tertentu, dengan mengumpulkan seluruh informasi yang tersedia di internet, mempelajarinya, kemudian menyampaikan kembali kepada mereka yang bertanya kepadanya. Sebuah kemajuan yang telah diproyeksikan sejak lama. Tentu tidak seakurat wujudnya pada hari ini, namun memberikan gambaran akan potensi sekaligus ancaman didalamnya. Mengapa ancaman? Barangkali pandangan ini bagi sebagian orang diperoleh sebagai akibat dari film-film seperti Terminator, i-Robot, A.I. dan banyak lainnya. Saya sendiri sangat tersekesima oleh sajian tontonan tentang artificial intelligence dalam film Eagle Eye. Beberapa film tersebut, dan tentu saja banyak list film tentang artificial intelligence lainnya, berhasil menimbulkan kekhawatiran, barangkali ketakutan tentang betapa kemajuan teknologi dapat mengarah pada kehancuran. Ketik saja “movies list about artificial intelligence taking over”, anda akan terkejut bahkan dengan kata pencarian se-spefisifik itu, bahkan cenderung negatif, menghasilkan belasan, puluhan dan banyak judul. Lantas bagaimana kita menyikapinya?
Artificial Intelligence didefinisikan sebagai kemampuan program computer untuk meniru atau melakukan tugas yang membutuhkan kecerdasan manusia (Lintasarta Cloudeka). AI dibangun melalui matematika rumit yang melibatkan algoritma dan model kompleks yang membuat komputer mempunyai kemampuan belajar dari data dan mengambil keputusan atau melakukan tindakan berdasarkan pemahaman terhadap situasi tertentu melalui rangkaian pencarian informasi dari sumber yang tersedia di internet. Machine learning, deep learning, natural language processing, computer vision dan banyak lagi istilah pembelajaran mesin lainnya yang melingkupi suatu cara bagaimana AI belajar.
Istilah kecerdasan buatan itu sendiri bahkan muncul sejak 1956 pada konferensi Darmouth oleh John McCarthy dan sekelompok peneliti lainnya, meskipun konsep tersebut sebenarnya sudah ditanamkan jauh sebelum itu (Binus Graduate Program). Pada saat itu AI masih dalam tahap awal pengembangan dengan harapan dapat tercipta mesin yang dapat meniru kecerdasan manusia. Bagaimana Indonesia saat itu? Tahhun 1956 masuk dalam kalender kabisat, terdapat 29 hari dalam satu bulan di bulan Februari. Pada tahun tersebut, Olimpiade diselenggarakan di Melbourne, Provinsi Irian Jaya terbentuk, Mohammad Hatta melepaskan jabatan Wakil Presiden, Republik Maluku Selatan dan Negara Sumatera Timur setuju untuk tunduk dan menyatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, serta Presiden Soekarno mendirikan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri. Setelahnya, dalam beberapa periode, perkembangan AI mengalami fase naik dan turun. Hingga pada akhirnya pada periode tahun 2000-an AI mengalami kemajuan pesat sehubungan dengan perkembangan komputer yang kuat, ketersediaan data yang melimpah, dan kemajuan dalam algoritma AI yang membuka pintu bagi lahirnya pengaplikasian AI yang lebih canggih dan luas sebagaimana Chat Generative Pre-Trained Transformer atau yang kita kenal sebagai CHAT-GPT yang mampu menghasilkan teks yang mirip dengan gaya dan konteks yang diberikan.
Sejak saat itu, seluruh manusia di bumi mengalami FOMO atas kehadiran CHAT-GPT. Kita semua mencoba menemukan manfaat dan menggunakan pengaplikasian tersebut untuk menjawab setiap haus pengetahuan dan lapar informasi yang kita alami. Pada akhirnya, sebagaimana Yin dan Yang, dua sisi mata uang, di balik keunggulan program AI dengan seketika muncul kelemahan bahkan ancaman darinya. Barangkali hal tersebut tidak sepenuhnya terjadi secara autonomous atau dengan sendirinya oleh kemampuan belajar program tersebut, namun juga akibat perintah yang dimasukkan oleh manusia itu sendiri dalam pengalamannya mencari pengetahuan dan informasi yang menjadi ke-ingintahuan-nya.
Beberapa kejadian kegagalan AI dapat dengan mudah kita telusuri sebagai gambaran atas dampak dan akibat negatif dari AI itu sendiri. Pada demo program AI Bernama Bing oleh Microsoft pada tahun 2023, Bing gagal membedakan vakum dengan dan tanpa kabel. Ia pun juga gagap menyajikan laporan keuangan Q3 Tahun 2022 merk pakaian GAP dengan banyak kesalahan. Pada tahun 2016, sebuah mobil Listrik Tesla model S bertabrakan dengan sebuah truk yang sedang berbelok di depannya di Florida Utara, Amerika Serikat. Di sektor akademis, selain menghasilkan potensi, AI juga memberikan kekhawatiran dan kekecewaan para akademisi. Sebuah program kecerdasan buatan yang dikembangkan oleh Anthropic dilaporkan lulus dalam ujian hukum dan ekonomi tingkat universitas pada periode sekitar tahun 2022-2023. Pada kesempatan lain, program kecerdasan tersebut lulus dalam ujian kedokteran dengan persentase jawaban benar lebih dari 50%, mendekati ambang kelulusan Unites States Medical Licensing Examination ESMLE) sekitar 60%. Bahkan Phillip Dawson, seorang peneliti integritas akademis dari Universitas Deakin menyatakan ketakutannya apabila AI dapat benar-benar melakukan seluruh yang dinyatakannya. Sejalan dengan perkembangannya, beberapa universitas mengeluarkan larangan penggunaan program AI seperti CHAT-GPT dan program sejenis lainnya, sebagai alat bantu dalam menyelesaikan seluruh tugas akademisnya. Namun hal ini menimbulkan bias, bahwa pada akhirnya AI adalah program yang “selalu belajar” setiap waktu hingga akhirnya tidak dapat dibedakan mana informasi dan pengetahuan yang dihasilkan oleh pengalaman manusia dengan yang dihasilkan oleh AI.
Bagaimana dengan situasi yang membutuhkan pengambilan kebijakan, terutama kebijakan publik, perlukah melarang penggunaan AI? Sebelum membahas tersebut, perlu diingatkan kembali tentang kelebihan dan kekurangan program kecerdasan buatan sebagaimana AI. Melalui pemanfaatan yang benar, AI dapat membantu menghasilkan peningkatan produktivitas dan efisiensi, meningkatkan akurasi dan konsistensi, meningkatkan dan merangsang inovasi serta mengurangi resiko. Namun AI juga menghasilkan beberapa kekurangan seperti potensi kehilangan pekerjaan manusia, isu privasi, bias dan beberapa resiko lainnya seperti keamanan, bahkan hingga dilema etika.
Pada salah satu kesempatan, saya pernah menguji kepercayaan dan integritas AI dengan mengajukan pertanyaan kunci kepada Gemini, sebuah AI yang dikembangkan oleh Google. Pertanyaan seperti “how can i trust you, for making me a solution?” dengan mengejutkan dijawab melalui sebuah pernyataan yang menarik. Bahwa ia adalah sebuah program yang dapat dipercaya dengan kelebihan seperti transparansi dan keterbukaan, pembelajaran berkelanjutan termasuk berdasarkan dari umpan balik terakhir, dan terbuka atas validasi manusia. Namun pada pernyataan terakhir Gemini juga mengingatkan kita untuk tetap melakukan verifikasi informasi dari berbagai sumber terutama pada masalah tertentu. Ketika hal tersebut kemudian diuji lebih lanjut melalui pertanyaan “in percentage, how many policy option that people take from you?”, Gemini memberikan jawaban disclaimer yang barangkali dikembangkan sebagai “pagar” atau pengingat atas kemungkinan ketergantungan mendalam yang dilakukan oleh manusia. Pada jawabannya, Gemini menyatakan bahwa ia tidak mempunyai akses atas data spesifik mengenai siapa dan berapa orang yang mengambil keputusan langsung dari opsi yang diberikan oleh AI. Sebagai model bahasa AI, ia hanya memberikan informasi dan bantuan serta tidak dapat melacak atau mengukur aksi nyata yang diambil manusia berdasarkan respon AI yang diberikan. Hal ini barangkali dapat dipahami sebagai peringatan kepada kita, bahwa perlu kebijaksanaan dalam menggunakan AI. Disisi lain, barangkali saat ini AI masih dalam posisi belajar untuk kemudian ia semakin meningkatkan kemampuan dan melengkapi basis pengetahuannya untuk kemudian dapat membangun instrumen yang mengukur persentase aksi nyata yang diambil oleh manusia berdasarkan informasi yang diberikan. Sebuah kondisi yang mengkhawatikan, terlebih jika AI dapat dengan meyakinkan bahwa solusi atau kebijakan yang ditawarkan adalah pilihan terbaik dengan akurasi 100 persen dan tidak adanya kemungkinan kita untuk mencari pilihan lain.
Temuan ini tentu perlu didalami dan dipelajari lebih lanjut, dengan variasi penggunaan bahasa AI lainnya untuk dapat memberikan Gambaran utuh mengenai potensi dan bahaya ketergantungan atas AI. Setidaknya Gemini dapat dengan meyakinkan memberikan catatan bahwa ia hanya memberikan informasi dan dukungan, bukan mendikte atau memaksakan pilihan keputusan yang diberikan. Apapun keputusan yang akan diambil atau tidak diambil sepenuhnya bergantung pada manusia itu sendiri. Sebuah pernyataan penafian yang cukup bijak diberikan oleh AI pada saat program tersebut ditulis atau dibangun.
Pada akhirnya, AI dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi adalah sebuah kondisi yang tidak dapat dielakkan. Pilihannya kembali kepada kita, apakah akan ikut didalamnya atau tertinggal dibelakangnya. Konteks kebermanfaatan atau potensi ancaman dari AI, untuk saat ini, masih bergantung pada ketikan jari kita pada keyboard. Sebaiknya tetap begitu. Dengan kemampuan pembelajaran berkelanjutan melalui algoritma dan model matematika rumit yang dimilikinya, ia dapat menelusuri seluruh sumber informasi dan pengetahuan dan kemudian menyajikan dengan bahasa yang diperintahkan kepadanya. Artinya, kebijaksanaan kembali kepada kita, manusia itu sendiri. Pilihan solusi dan kebijakan yang diberikan oleh AI berada pada posisi maksimal sebagai gambaran dan panduan, bukan satu-satunya keputusan yang akan diambil. Ketika akurasi dan konsistensi adalah senjata sebuah mesin pembelajaran, maka kebijaksanaan dan moralitas adalah keunggulan manusia. Selamat menjelajah!
Quotes.
"partisipasi adalah income untuk membiayai prestasi."- azrul ananda
"hujan terdiri dari air, sendu dan rindu."- myself
"hidup dalam bahaya jika semua yang dipikirkan dan dibicarakan hanya tentang angka."- abdel achrian
"dunia tempat meninggal, bukan tempat tinggal."- habib husein jafar
"don't just work hard or even work smart, but work hard in smart way."- helmi yahya
loading ...