article

bergunakah lembur kita?

bergunakah lembur kita?

Jan 23, 2024

368

sebuah upaya mencari kerja cerdas dan kinerja tuntas

images

“Dia enak, kerja masih bisa pulang sore. Saya lembur terus”. Apakah ada yang salah dengan pernyataan ini? Begitulah dunia pekerjaan, drama selalu terjadi di setiap organisasi, pada setiap unit. Suatu unit atau seseorang merasa harus menopang bumi dan seisinya, sementara orang lain berpijak diatasnya. Dilemma ini seolah mendapatkan meja perdebatan dewasa ini, tentu saja yang dipersalahkan selalu Gen Z, politik kambing hitam kepada generasi. Politik tidak selalu hanya hal- hal yang bersifat kekuasaan di pemerintahan, di setiap sendi kehidupan bahkan kita secara tidak sadar sedang menjalani politik itu sendiri.

Kembali pada pernyataan diatas, apa yang salah? Menurut saya tidak ada yang salah, kesalahan adalah pada ketidakmampuan membedakan kerja dan kinerja. Hal krusial yang terkadang entah dikaburkan atau bahkan dipertegas sehingga menciptakan drama pekerjaan hingga melahirkan berbagai karakter di lingkungan pekerjaan seperti superior, inferior, manipulatif, gaslighting, dan mereka yang menjadi kambing hitam. Seseorang merasa terbebani atau mendapatkan tugas yang tidak berimbang sehingga merasa sistem berjalan tidak adil untuknya, menciptakan situasi dimana dia merasa yang paling berkinerja, menjadi andalan dan penopang utama organisasi. Sementara personel lainnya merasa sangat diuntungkan, mendapatkan penugasan strategis, beban kerja yang ringan atu bahkan tim yang tepat. Pada akhirnya, sifat naluriah manusia untuk berusaha mendapatkan hasil sebesar-besarnya dengan usaha yang paling minimal. Hal inilah yang melahirkan interaksi antar pegawai dan antar unit, menciptakan perasaan kompetitif atau kolaboratif atau bahkan diantaranya, yang terkadang menimbulkan konflik antar kepentingan. Bagaimanapun konflik juga dbutuhkan dalam interaksi organisasi, kecuali sumber daya yang disiapkan adalah robot dengan workflow monoton, output yang terdeskripsi dengan baik, dan hal-hal yang bersifat operatif lainnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu atau yang dilakukan. Sedangkan kinerja adalah sesuatu yang dicapai atau prestasi yang diperlihatkan dan kemampuan kerja. Kerja dapat diartikan sebagai pengeluaran energi untuk kegiatan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Energi yang dimaksud dapat berupa tenaga dan atau pemikiran. Menurut Hasibuan (2003), kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental yang dilakukan oleh seseorang untuk mengerjakan suatu pekerjaan. Menurut Mangkunegara  (2004), kinerja adalah hasil kerja baik secara kualitas, kuantitas dan kontinuitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugas yang sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Kata kuncinya terletak pada aktivitas dan hasil aktivitas. Berdasarkan hal tersebut perlu adanya intrumen yang disusun untuk dapat memastikan bahwa pernyataan seseorang, baik tentang kerja dan kinerja, apakah mengandung unsur aktivitas dan atau hasil aktivitas. Barangkali hasil aktivitas diciptakan oleh aktivitas yang dilakukan dengan skala intensitas minimal atau ringan. Atau disisi lain, walaupun banyak aktivitas yang dilaksanakan, seseorang gagal menterjemahkan hasil yang dicapai dari aktivitas dimaksud. Hal inilah yang melahirkan istilah ”terlihat bekerja, namun tidak berkinerja”.

Tanpa bermaksud meringankan atau menciptakan definisi baru yang menentang pendefinisian yang telah ada, dapat disederhanakan kalimat yang meringkas dari berbagai sumber mengenai teori tentang organisasi dan performa. Bahwa organisasi dibentuk berdasarkan kesadaran masing-masing individu bahwa mereka memiliki garis besar kepentingan dan tujuan yang sama, sehingga akhirnya bermufakat bergabung dalam sebuah wadah yang bernama organisasi, dengan tujuan yang sama serta mengidentifikasi pencapaian tujuan melalui produk yang disebut sebagai kinerja oleh aktivitas yang dijalankan dengan mengoptimalkan berbagai sumber daya yang ada, manusia, mesin dan modal. Kinerja, merupakan indikator hasil yang disusun dan dibangun untuk mengukur pencapaian tujuan organisasi. Keseluruhannya dilaksanakan melalui aktivitas organisasi yang disebut kinerja. Oleh karenanya mari kita introspeksi diri masing-masing, apakah kita telah dapat menemukan perbedaan diantara kerja dan kinerja, antara aktivitas dan hasil aktivitasnya. Kinerja, kecuali dalam bentuk produk fisik, tidak dapat dinyatakan atau bergantung oleh besaran dan banyaknya frekuensi aktivitas yang dikerjakan. Usulan, ide, gagasan, komentar, saran dan masukan yang disampaikan juga bukan merupakan kinerja, dan bahkan juga tidak dapat dikategorikan sebagai kerja jika tidak dieksekusi atau diterjemahkan menjadi sebuah aktivitas. Kecuali bagi mereka yang kinerjanya teridentifikasi melalui usulan, saran dan gagasan. Tentunya keistimewaan tersebut bukan milik semua orang, predikat tersebut disematkan kepada seseorang melalui pernyataan, pengakuan dari banyak orang dan atau organsiasi atas serangkaian aktivitas yang telah dikerjakan selama bertahun-tahun dan dianggap berdampak.

Dari serangkaian penjelasan tersebut, pada akhirnya mana yang paling penting? Kinerja tentu menjadi senjata utama organisasi. Kembali pada fenomena bahwa semakin banyak dan semakin berat aktivitas, hal tersebut hanya dapat diidentifikasi sebagai kerja, butuh serangkaian indikator lainnya untuk memastikan bahwa hal tersebut akan memberikan hasil dan bahkan dampak bagi organisasi dan pencapaian tujuan organisasi. Jika dikaitkan kembali pada sifat alamiah seseorang, bahwa masing-masing akan mengeluarkan upaya seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang semaksimal mungkin, maka hal itu disebut efektif dan efisien. Efektif adalah sebuah keadaan bahwa aktivitas yang dilaksanakan dapat dengan tepat mencapai hasil atau sasaran yang telah ditentukan. Sedangkan efisien dapat diartikan sebagai upaya optimal (jika tidak dapat didefinisikan sebagai minimal) yang dikeluarkan untuk mencapai hasilnya. Kerja, kinerja, efektif dan efisien adalah kombinasi yang telah dan selalu diformulasikan pada berbagai teori tentang organisasi dan performa yang lahir dan berkembang sampai saat ini. Keempatnya masuk dalam diagram X dan Y yang saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Selayaknya manusia pada umumnya, masing-masing individu akan melaksanakan kerja yang paling efektif dan paling efisien untuk menghasilkan kinerja paling optimal. Inilah garis besar dari Performa.

Bagaimana menciptakan dan memastikan bahwa individu dan organisasi berpedoman serta menghasilkan Performa? Maka hal ini memerlukan beberapa upaya serta serangkaian tindakan yang secara sederhana disebut sebagai manajemen. Keseluruhan aktivitasnya dapat disimpulkan menjadi 3 aktivitas atau aksi utama, yaitu: Identifikasi, Aksi dan Revisi. Identifikasi diartikan sebagai upaya mencari, mempelajari dan menemukan persoalan, kendala, hambatan dan kesulitan yang telah, sedang dan akan dikerjakan, disandingkan dengan kekuatan, kemampuan dan sumber daya yang ada. Identifikasi akan menghasilkan indikasi perencanaan dan atau perbaikan yang diperlukan untuk menjalani rangkaian aktivitas selanjutnya. Aksi merupakan kelanjutan tahapan aktivitas setelah dilaksanakannya identifikasi. Melalui identifikasi, tercipta rencana kerja, indikasi pentahapan dalam mewujudkan hasil, ataupun instruksi yang akan dijalankan. Pengejawantahan dari berbagai hal tersebut adalah Aksi. Aksi mencakup serangkaian upaya fisik dan pikiran, kolaborasi dan komunikasi, diskusi dan implementasi. Barangkali beberapa individu terbiasa dan atau dibentuk untuk bekerja sendiri, namun upaya mencapai atau menyatakan hasil akan selalu bergantung dan berhubungan dengan individu lainnya. Dari sanalah teori sosial dan komunikasi terbentuk dan berevolusi. Maka setelah identifikasi dan aksi, setiap individu pada akhirnya selalu ingin menunjukkan sisi terbaik mereka. Hal ini diupayakan melalui serangkaian perbaikan dan penyempurnaan. Revisi dilakukan setelah melihat adanya gap atau jarak diantara identifikasi dan aksi, serta didukung oleh berbagi informasi tambahan lainnya yang terjalin pada proses komunikasi diantara individu dan organisasi. Melalui revisi, setiap individu dan organisasi selalu berusaha menampilkan sisi terbaik dan sempurna mereka terhadap yang lainnya. Inilah yang memunculkan kompetisi dan peringkat, baik yang terjadi secara alamiah dan organik ataupun yang dibuat secara sengaja.

Kecuali kita adalah makhluk individualis yang hanya peduli dan memperjuangkan serta mewujudkan kepentingan pribadi tanpa campur tangan dan ketergantungan terhadap individu lainnya, maka sebagai makhluk sosial kita memerlukan orang lain. Implementasi dari Identifikasi, Aksi dan Revisi, yang dilaksanakan dalam formulasi kerja, kinerja, efektif dan efisien, perlu adanya interaksi dan komunikasi. Interaksi dan komunikasi terjalin karena dan atau menghasilkan kesadaran peran diantara mereka. Ada individu yang berperan sebagai pengarah, pemberi contoh dan pendorong bagi individu lain, diartikan sebagai pimpinan. Terdapat pula individu yang berperan sebagai yang diarahkan, membutuhkan contoh dan perlu didorong, diartikan sebagai bawahan. Ada pula yang berbagi peran diantara satu sama lain, diartikan sebagai rekan. Sebagaimana roda berputar dari bawah ke atas, setiap individu memiliki harapan dan mimpi untuk menjadi lebih baik dan berkembang setiap waktu. Namun melihat kenyataan bahwa roda juga berputar dari atas ke bawah, maka setiap individu juga harus bersiap apabila terjadi perubahan peran diantara mereka. Dan apabila yang ingin dipastikan adalah agar kondisi dimana roda harus selalu berputar dari bawah ke atas, maka upaya yang dikeluarkan juga seharusnya semakin besar. Setiap hasil bergantung dari usaha yang dilakukan. Semakin tinggi hasil yang diinginkan, semakin berat upaya yang dikerjakan. Namun tidak sedikit pula yang tahu dan sadar akan batasan. Bahwa setiap garis awal selalu menuju pada garis akhir diujungnya, pasang akan surut, terbit akan tenggelam, hal ini yang disebut dengan pendewasaan. Terkadang diperlukan jeda, istirahat sejenak untuk melanjutkan harapan dan mimpi. Terkadang pula diperlukan upaya turun gunung untuk menaiki gunung yang lebih tinggi. Bahkan sebuah mesin mempunyai batas maksimal untuk dioperasikan, dan jika dipaksakan akan mengalami kerusakan dan bahkan kehancuran.

Maka perlu dipastikan kembali, apakah lembur kita benar, apakah lembur kita berguna dan berhasil guna, apakah lembur kita diperlukan. Jika setelah diidentifikasi dan dipelajari, hasilnya adalah tetap, maka semoga hal tersebut memang sesuai keyakinan. Manusia selalu berusaha menemukan cara termudah dan teringan untuk menghadapi sesuatu, manusia tidak ada yang mau selalu berada dalam kesulitan dan hambatan, namun secara alamiah juga akan mengejar tantangan. Maka semuanya kembali pada kesadaran diri dan upaya menemukan potensi diri. Semoga yang terbaik selalu berada di sisi kita.

Quotes.

"kamu tidak dapat mengubah dunia seperti yang kamu mau, tapi kamu bisa mengubah dirimu seperti yang dunia mau."- dani aditya- komika

"kesuksesan terbesar adalah saat kita mampu membesarkan orang lain."- alitt susanto

"kalau punya hutang tunda senang-senang, kalau mau senang-senang jangan punya/pakai hutang."- dani rachmat (financial nfluencer)

"tuhan tidak akan membawaku sejauh ini hanya untuk melepaskanku."- davi sumbing

"kebutuhan dibatasi oleh langit-langit. keinginan mengambil tempat di langit."- myself

images

loading ...