bahaya banjir informasi
Jan 02, 2024
395
mengapa informasi dapat sangat berguna dan disisi lain dapat sangat berbahaya
Informasi, seperti layaknya dua sisi mata uang. Ia adalah mata uang baru, emas terpenting yang ada di dunia. Namun ia juga adalah tombol nuklir yang sangat berbahaya, terlebih di era dimana dunia serba diberi kemudahan dalam mengakses informasi. Dahulu, untuk mendapatkan sebuah informasi, apapun itu, baik untuk mencari pengetahuan, memperkuat argumentasi atau sekedar melakukan validasi atas sesuatu, perlu waktu untuk menemukannya. Terdapat beberapa proses yang harus dilakukan dalam menggali informasi. Melalui aktivitas tersebut, otak dan fisik saling bersinergi sehingga memberikan keuntungan lain selama proses mencari informasi tersebut berjalan. Kini, dengan kemajuan dunia teknologi informasi dan komunikasi, seluruh proses mencari informasi dapat dipadatkan, dari yang memerlukan waktu hari, bulan dan bahkan tahun, menjadi hanya dalam hitungan sepersekian detik. Melalui kemudahan tersebut, terdapat potensi bahaya yang perlu diwaspadai, dalam konteks menggunakan informasi tersebut.
Tentu kita dapat bersepakat, bahwa informasi adalah mata uang dan kebutuhan paling pertama di dunia. Manusia, sebagai makhluk sosial, memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dan berkomunikasi diantara mereka. Kebutuhan interaksi dan komunikasi tersebut menghasilkan produk diantaranya. Ia adalah informasi. Informasi adalah basis pengetahuan dasar bagi manusia untuk bertahan hidup, berkembang atau bahkan berevolusi kedepan. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa kebutuhan atas informasi adalah alasan antar manusia, bahkan antara manusia dengan makhluk lainnya, untuk melaksanakan interaksi dan komunikasi. Namun tentu ada pendapat lain bahwa informasi sebaiknya tidak diletakkan sebagai pondasi dasar atau bahkan puncak kebutuhan diantara manusia. Bagaimanapun manusia, sebagai makhluk hidup, melalui insting dan akalnya, telah berhasil mengidentifikasi kebutuhan dasarnya yaitu pangan, sandang dan papan. Diskusi ini tidak akan menjadi topik dalam penulisan kali ini. Tema yang akan diangkat saat ini adalah pada persektif bagaimana sebuah informasi dicari dan diberdayakan potensinya secara optimal hingga pada batasan bahwa terdapat potensi bahaya yang sering disebut pembiasan informasi.
Informasi merupakan sekumpulan pesan atau data atau fakta yang telah diproses dan diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat dipahami serta memberikan manfaat bagi penerimanya. Kata informasi berasal dari Bahasa Perancis kuno yaitu informacion, yang diambil dari Bahasa Latin informationem yang berarti garis besar, konsep, ide (Hanif Sri Yulianto dalam artikel “Pengertian Informasi beserta Jenis dan Fungsinya”. Diakses melalui bola.com). kata pesan, data dan fakta dicetak tebal sebagai penanda, rambu-rambu atau batasan dalam menerjemahkan serta memanfaatkan informasi kedepan. Informasi merupakan kelanjutan proses dari menciptakan, menyusun, mengolah, mencari dan atau menerima data. Data adalah fakta yang masih bersifat mentah atau belum diproses. Maka yang menjadi nilai penting diantara keduanya, baik data maupun informasi, memiliki prasyarat utama yaitu fakta. Selanjutnya akan diuji, dunia yang sedang berjalan saat ini ditopang oleh kemajuan teknologi didalamnya, apakah informasi yang tersedia dan dihasilkan, memenuhi kriteria dasarnya, fakta. Atau terdapat modifikasi yang dimungkinkan terjadi, baik disengaja maupun tidak, sehingga potensi dasar sebuah informasi yaitu fakta, tidak tersedia dan diragukan kebenarannya. Disengaja, diolah oleh manusia sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan penciptaannya untuk mengarahkan persepsi orang lain terhadap sesuatu yang diinginkan. Tidak disengaja, meskipun dengan persentase kecil, terjadi karena data yang terkandung didalamnya terdiri dari lapisan bertingkat hingga pada tahap yang rumit sehingga terjadi pembiasan fakta yang terjadi di dalamnya. Kondisi inilah salah satu indikasi yang menyebabkan adanya potensi bahaya atas informasi, mata uang berharga yang sangat diperlukan dunia pada saat ini.
Wikipedia menuliskan ciri-ciri dari informasi yaitu: berhubungan dengan kebenaran atau kesalahan terhadap kenyataan, benar-benar baru bagi penerima, dapat memperbarui atau memberikan tambahan perubahan terhadap informasi yang sudah ada, dapat digunakan untuk melakukan koreksi terhadap informasi yang telah ada sebelumnya yang salah atau kurang benar, serta sebagai penegasan atas informasi yang telah ada sehingga meningkatkan keyakinan atas informasi tersebut. Dikarenakan informasi bersumber dari data, maka pemaknaan atas konteks informasi bergantung pada data itu sendiri dan siapa yang menciptakan serta memberikan konteks. Oleh karenanya sebuah informasi dapat bermanfaat atau berbahaya, dilihat pada pemberian makna atau konteks dari data serta aktor yang menggunakannya. Informasi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk, baik secara cetak maupun digital. Mengutip dari berbagai artikel yang bersumber pada satu jurnal dari Arkansas State University, terdapat beragam jenis informasi yang dapat kita temui, yaitu informasi nyata, analisis, subyektif dan obyektif. Informasi nyata adalah informasi yang hanya berhubungan dengan fakta, biasanya jarang memberikan latar belakang mendalam tentang suatu topik tertentu. Informasi analisis biasanya dihasilkan oleh akademisi dalam suatu topik penelitian tertentu. Informasi subyektif hanya dapat dilihat dari satu sudut pandang tertentu, biasanya berupa pendapat atau argumentasi personal atas topik tertentu. Sedangkan informasi obyektif dapat dipahami dari berbagai sudut pandang, setelah menjalani serangkaian proses validasi yang menghasilkan kesepakatan bersama atas pendefinisian topik tersebut.
Jumlah informasi yang tersedia sampai saat ini sangat banyak dan beragam. Ia hadir dan berkembang seiring dengan proses evolusi manusia selama ini. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, informasi dapat berasal dari sumber cetak maupun digital. Yang menarik, jika membahas informasi pada format digital, berbagai capaian atas statistik data dan informasi dapat memberikan gambaran seberapa besar informasi itu sendiri. Mengutip dari sebuah artikel pada laman republika.co.id, berdasarkan cloverdx.com pada tahun 2020 setiap pengguna internet didunia rata-rata menciptakan 1,7 Megabyte data digital setiap detik. Hingga tahun 2021, menurut laman Statista, telah ada 74 Zetabyte data dunia saat ini di dunia maya. Zeta adalah satuan angka yang menunjukkan satu miliar Tera, dimana satu tera adalah penyebutan untuk satu juta byte. Mungkin terdengar memusingkan atau menggelegar, namun ini semata hanya untuk menggambarkan seberapa besar data dan informasi itu tersedia. Sementara itu berdasarkan laporan We Are Social dan Hootsuite, jumlah pengguna internet di seluruh dunia mencapai lebih dari 5 miliar orang pada Januari 2023, atau 65 persen dari total populasi dunia sebanyak 8 miliar orang. Masih mendasarkan pada laporan dari sumber yang sama, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 213 juta jiwa atau sekitar 77 persen dari populasi Indonesia pada Januari 2023. Berdasarkan data Dewan Pers, sampai dengan Januari 2023 terdapat 1. 711 perusahaan media terverifikasi ada di Indonesia, dimana 902 diantaranya adalah media digital. Mengapa statistik tersebut hanya didasarkan pada sumber digital, hal ini dikarenakan ketersediaan dan kemudahan akses data dan informasi dibandingkan dengan cetak atau konvensional sehingga mempermudah penyajian statistiknya. Data dan informasi digital dapat dicari dan diterima seketika secara real time dibandingkan dengan non digital. Hal ini menyangkut pengarsipan data dan informasi tersebut serta sarana aksesnya.
Ledakan data dan informasi yang terjadi saat ini tidak terlepas dari adanya femomena transformasi digital yang dilaksanakan oleh berbagai pihak di seluruh negara. Transformasi ini lebih ditingkatkan lagi selama masa pandemi Covid-19 tiga tahun kebelakang. Hal ini didasari oleh kebutuhan atas kemudahan akses data dan informasi yang tersedia serta didukung oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Dunia saat ini pada segala aspeknya bergantung pada informasi. Informasi yang menentukan arah pertumbuhan dan kemajuan manusia. Kepadatan arus pertukaran informasi terjadi di segala bidang, baik manual maupun digital. Terlebih digital, kepadatannya melebihi puncak arus mudik jelang lebaran ataupun lautan manusia yang menyeberang di persimpangan jalan paling terkenal di Jepang, Shibuya Crossing. Hal ini menandakan pentingnya sebuah informasi yang akan digunakan dan diolah menjadi bagian dari informasi bahkan pengetahuan berikutnya. Begitu seterusnya, siklus yang tidak pernah berhenti. Saat ini trend pengambilan setiap keputusan bergantung pada basis data dan informasi yang kuat. Basis data yang akurat, real time dan berkualitas adalah prasyarat mutlak. Oleh karena itu tantangan kedepan adalah bagaimana memilih dan memilah serta mengolah data dan informasi.
Di era arus informasi yang serba cepat, dengan didukung oleh kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, pemanfaatan informasi menghasilkan tantangan tersendiri yang bahkan berpotensi menjadi bahaya kedepannya. Semakin cepat kita mencari dan mengakses informasi serta mendapatkan hasilnya, maka semakin informasi akan menjadi dua sisi mata uang, bermanfaat atau berbahaya. Kecepatan internet dalam memberikan hasil, dengan beragam varian, menciptakan fenomena “banjir informasi atau information overload”. Media sosial digital saat ini justru memberikan tambahan amunisi atas kondisi dimaksud. Aplikasi video pendek yang menjadi kegemaran dewasa ini, membuat para pembuat konten (content creator) berlomba untuk menyajikan informasi dipadatkan (pressed information) atas keseluruhan data yang diwakili pada video pendek dengan durasi satu menit, yang dimaksudkan untuk memberikan basis pengetahuan serta analisis data yang dibutuhkan oleh pengakses konten. Hal ini belum tentu sepenuhnya negatif. Namun atas pertimbangan kecepatan akses dan kepraktisan serta kesederhanaan penyajian, informasi terkadang diolah dan dimodifikasi melenceng dari tujuannya, menciptakan pembiasan. Data terkadang tidak disajikan utuh atau dipotong sesuai konteks dan makna yang diarahkan oleh pembuat informasi. Fakta terkadang diabaikan atau baragkali sedang kehabisan waktu dan tenaga untuk melakukan verifikasi dan validasi atas keabsahan data dimaksud. Hal inilah yang menimbulkan potensi bahaya. Mispersepsi, disorientasi pandangan hingga kesalahan pengambilan keputusan kerap menjadi hasil dari penciptaan ataupun penggunaan informasi yang tidak tepat.
Merujuk indeed.com serta dikutip dari TechTarget, banjir informasi adalah sebuah kondisi dimana seseorang mencerna terlalu banyak informasi dalam satu waktu. Akibatnya, kita harus memproses banyak hal secara bersamaan dalam satu waktu serts mengambil keputusan dengan cepat saat menikmati informasi. Hal ini mengakibatkan kapasitas bekerja secara efektif menjadi semakin berkurang, kemudahan dan ketepatan pengambilan keputusan menjadi semakin memudar. Apabila dibiarkan, resiko terkena burnout akan semakin besar, dan ini memberikan dampak atas kondisi fisik dan psikis manusia menuju pada fase yang berbahaya.
Kemajuan era dan perangkat digital yang semakin canggih berakibat pada makin tingginya resiko mengalami information overload. Banjir informasi adalah fenomena yang silit untuk dihindari, namun bukan tidak mungkin untuk dilakukan mitigasi. Hal ini semata untuk menjaga agar kita tetap dapat fokus memahami konteks dan mengambil keputusan dengan tepat. Terdapat beragam cara dalam melakukan mitigasi dimaksud. Hal paling sederhana adalah tetapkan batasan dalam menerima informasi. Tidak seluruh informasi yang disajikan harus dinikmati satu per satu, fokus pada kata kunci yang telah dibutuhkan pada saat awal mencari dan mengakses informasi. Pelajari teknologi internet dengan sedikit lebih mendalam. Fitur filter ataupun block dapat dimanfaatkan untuk membatasi kita agar tidak dibanjiri dan tersesat dalam arus informasi. Hindari bias yang mungkin terjadi pada saat merasa kebanjiran informasi. Beberapa artikel menyarankan kita untuk mematikan notifikasi untuk menghindari banjir informasi. Berikan batasan bagi diri, bahwa kita mengakses informasi pada saat dibutuhkan saja , bukan yang ditawarkan oleh media yang bersangkutan. Mematikan fitur notifikasi menciptakan suasana kerja yang lebih kondusif.
Informasi adalah sumber pengetahuan dunia dan menjadi kebutuhan dasar di kehidupan manusia. Kemajuan dan kecanggihan teknologi membuat informasi mudah dicari dan didapatkan, namun juga menimbulkan potensi tersesat atau banjir informasi. Pada akhirnya, kendali ada di pikiran dan tangan kita sendiri, kapan waktu yang tepat untuk mencari informasi dan sejauhmana kita akan mengaksesnya. Informasi sebagai alat bantu pengambilan keputusan, bukan justru mengendalikan keputusan itu sendiri. Semoga kita tidak tersesat.
Quotes.
"if life were predictable it would cease to be life, and be without flavor."- eleanor roosevelt
"teman dekat bukan mereka yang bisa diandalkan ketika butuh uang, tetapi yang memberikan bahu dan waktu untuk membantu dan menghiburmu."- myself
"problem hari ini: terlalu banyak orang pintar berbicara, semakin sedikit yang pintar mendengar."- myself
"orang besar membicarakan ide, orang kecil membicarakan orang lain."- habib husein jafar
"kesuksesan terbesar adalah saat kita mampu membesarkan orang lain."- alitt susanto
loading ...