article

antara generalis dan spesialis

antara generalis dan spesialis

Jul 03, 2023

450

manakah yang sebaiknya kita punya? atau mana yang paling tepat mengidentifikasikan diri kita? paradoks ditengah disrupsi dunia

images

Sampai saat ini masih saja terjadi diskusi terkait siapa yang lebih unggul atau sebaiknya mengikuti mahzab apa dalam menemukan, meningkatkan dan menjual potensi diri ditengah arus lingkungan kerja. Apakah generalis lebih baik dalam menjaring setip kesempatan yang tersedia, ataukah spesialis lebih tepat dalam menciptakan posisi tawar yang tinggi.

Dalm hal ini kita perlu mereview kembali apa yang dimaksud dengan generalis dan spesialis agar kita tidak tersesat dalam diskusi ini. Secara sederhana, generalis adalah tipe yang mengerti banyak hal tetapi tidak secara spesifik. Sedangkan spesialis, di sisi lain, adalah orang yang mempelajari satu bidang secara mendalam hingga mencapai kepakaran terhadap satu bidang tertentu.

Individu generalis diasumsikan sebagai pribadi yang cenderung memiliki kemampuan di berbagai bidang. Secara umum, terdapat kesimpulan semu bahwa generalis biasanya lebih banyak dibutuhkan dalam dunia pekerjaan sebab memudahkan organisasi memberikan berbagai jenis pekerjaan melalui kemampuan dan wawasan personil yang luas. Hal ini lebih kepada perhitungan matematis dan ekonomis. Diharapkan seseorang yang memiliki penguasaan lebih dari satu bidang, dapat memangkas biaya gaji dan operasional perusahaan, karena lebih sedikit sumber daya manusia yang digunakan. Namun, hal ini juga tidak berarti tanpa resiko, sehingga muncul julukan umum bagi para generalis sebagai jack of all trade, master of none.

Di sisi yang lain, para spesialis biasanya hanya “mau” fokus pada satu bidang spesifik sehingga menghasilkan kemampuan dan penguasaan yang tinggi. Spesialis ini juga tidak luput dari kebutuhna perusahaan, tidak sedikit pula perusahaan yang “hanya” berinvestasi pada mereka yang fokus dan ahli pada satu bidang tertentu. Hal ini biasanya lebih dikarenakan kebutuhan perusahaan atas kemampuan analitis dan membaca data. Para spesialis ini sering dijuluki sebagai master of one, know nothing. Spesialis dikenal sebagai seseorang yang sangat baik dalam memproduksi ulang pekerjaan yang mereka lakukan dengan baik, atas perjungan dan usaha maksimal mereka dalam memetakan wilayah abu-abu dimana aturan tidak dapat didefinisikan dengan baik.

Secara garis besar, para generalis ini mempunyai beberapa keunggulan seperti diantaranya: cenderung mempunyai pengetahuan yang luas sehingga dapat dimanfaatkan untuk membantu memecahkan masalah kompleks dan kondisi dimana harus bekerjasama dengan orang dari beragam latar belakang. Terkadang mereka dianggap lebih mampu berpikir “outside the box” atas wawasan dan pengetahuan dalam menyikapi sebuah permasalahan. Atas kondisi tersebut, karir mereka cenderung lebih fleksibel dan beragam. Dari beragam keunggulan tersebut, terdapat pula kekurangan yang harus diwaspadai seiring dengan pandangan orang atas para generalis tersebut. Generalis dipandang hanya memiliki kemampuan rata-rata saja, sehingga saat dihadapkan pada masalah yang membutuhkan keterampilan khusus cenderung mengalami kesulitan, bahkan disebut sangat mudah tertinggal atau kesulitan mengikuti perkembangan jaman. Hal ini dikarenakan keterbukaan dalam menerima seluruh informasi dan wawasan yang menimbulkan pertanyaan besar atas seberapa dalam penguasaan dan penerimaan atas arus informasi dan wawasan tersebut serta relevansinya dalam menghadapi beberapa situasi spesifik yang dibutuhkan. Diantara penilaian bahwa para generalis ini akan memiliki karir yang fleksibel, terdapat anggapan bahwa justru posisi jabatan mereka cenderung tidak aman, karena kemungkinan untuk digantikan oleh generalis lainnya yang lebih relevan (dapat diartikan sebagai yang lebih tanggap, lebih memberikan solusi atau bahkan lebih “murah”) bahkan digantikan oleh spesialis.

Para spesialis, pada kesempatan yang lain juga tidak kurang potensi kelebihannya dibanding generalis. Dikenal atas kemampuan yang tinggi atas suatu bidang membuat mereka sangat dibutuhkan oleh perusahaan karena dapat membantu memecahkan permasalahan dan mencari solusi spesifik yang sulit ditemukan pada generalis. Atas kemampuannya tersebut, para spesialis cenderung memiliki posisi tawar yang tinggi baik atas penghasilan maupun posisi karir, bahkan mereka dianggap lebih terbuka kesempatan untuk menjadi pemimpin sesuai keahlian mereka. Atas berbagai keunggulan dan kemudahan yang tersedia, tidak berarti hal tersebut tanpa menimbulkan kekurangan dan kelemahan. Salah satu konsekuensi menjadi spesialis adalah terbatasnya pilihan atas lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal ini dikarenakan masing-masing perusahaan meiliki kebutuhan, core business serta cara pandang dan posisi yang berbeda. Ini tentu menyulitkan bagi spesialis, mereka harus pintar menemukan ceruk dan celah kebutuhan yang spesifik dan “niche” sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki. Keahlian dan kemampuan spesifik yang dimilikinya, membutuhkan waktu yang tidak sebentar baik dari sisi pengetahuan maupun pengalaman. Tidak seluruh perusahaan mau dan mampu berinvestasi kepada SDM untuk mencapai tingkatan tersebut. Kebanyakan perusahaan akan mengambil jalan pintas dengan mencari spesialis yang telah matang tersedia di bursa. Hal ini menimbulkan dampak, meskipun posisi tawarnya bisa saja tinggi, namun akan sering dibenturkan dengan realita bahwa secara statistic ketersediaan para spesialis ini juga tidak sedikit. Karena pilihan lapangan pekerjaan yang lebih sedikit, maka pilihan karir yang dapat diambil juga relatif lebih terbatas, dan atas ancaman bahwa mereka lebih mudah tergerus dan digantikan oleh teknologi yang setiap hari semakin berkembang dan mampu memberikan solusi atas kebutuhan spesifik dari perusahaan. Terlebih atas perkembangan artificial intelligence, semakin mewarnai kerumitan bergerak dan fleksibilitas spesialis itu sendiri.

Melihat data tersebut, di posisi manakah kita diidentifikasikan? Atau bahkan lebih jauh, posisi apakah yang sebaiknya kita ambil dalam menghadapi arus lingkungan kerja dan mimpi karir kita? Studi menunjukkan, masing-masing akan menjadi simpulan yang unggul. Hal ini melibatkan pertimbangan personal pembuat studi tersebut, ataupun sudut pandang dan kebutuhan dari pembaca studi dimaksud. Tidak ada jawaban yang sempurna dan menjadi satu-satunya hasil. Bahwa generalis lebih baik dari spesialis. Bahwa spesialis menjadi satu-satunya jalan keluar bagi setiap permasalahan. Bahwa apakah kita tidak pula mempertimbangkan perkembangan dewasa ini, perlu adanya Upaya untuk menydahi dikotomi dimaksud dengan menciptakan jalan baru, kolaborasi diantara keduanya.

Selama ini dikotomi diantara generalis dan spesialis, meunculkan banyak batasan dan kekhawatiran, baik dari personil yang dimaksud ataupun perusahaan yang membutuhkan. Saat ini telah berkembang pula aliran baru, generalis-spesialis dan spesialis-generalis. Solusi ini diambil sebagai jembatan atas pertentangan,diskusi dan kegelisahan atas kemungkinan salah mengambil peran dan posisi diantara generalis dan spesialis tersebut. Merujuk pada studi Patrick Roberts dari Max Planck Institute dan Brian Stewart dari University of Michigan, dalam era perubahan teknologi yang begitu cepat hari ini serta pertimbangan situasi yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, peran manusia yang adaptif dalam berbagai kondisi yang ekstrim menjadi kuncinya. Menjadi seorang generalis sekaligus spesialis disaat yang bersamaan barangkali menjadi solusi bertahan pada era disrupsi inovasi dan digitalisasi ini.

Secara harafiah generalizing-specialist dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu, namun di sisi lain mempunyai pengetahuan luas tentang ilmu lainnya. Sementara specializing-generalist adalah individu yang memulai karir sebagai seorang generalis, akan tetapi memiliki pengetahuan mendalam di suatu bidang. Saat ini, banyak perusahaan tidak terlalu kaku dalam hal pemilihan generalis atau spesialis. Sudut pandang dalam mencari tenaga kerja saat ini cenderung bergeser pada kemudahan untuk menentukan dan mempertemukan para generalis-spesialis dan spesialis-generalis dalam menjangkau kebutuhan dan strategi masing-masing perusahaan. Disisi lain para pekerja perlu cermat dalam mempelajari dan memperhitungkan kemampuan pribadi dan kebutuhan perusahaan, sehingga dapat mengambil kesempatan dan celah posisi bagi dirinya ditengah pusaran dunia kerja. Mulai dengan simulasi dan pemetaan potensi dan batas diri, hindari kemudahan untuk menentukan batasan dan limit pribadi, ciptakan kemudahan untuk bergeser baik diantara generalis-spesialis atau bahkan gabungan keduanya. Ini bukan tentng idealisme yang harus dipertaruhkan dan dipertahankan ditengah disrupsi dewasa ini.

Pada akhirnya, setiap orang berhak bermimpi untuk menjadi Superman bagi orang lain. Ketahui bahwa Superman juga memiliki kelemahan. Batu krypton yang justru berasal dari dunia dia sendiri dapat menjadi senjata makan tuan yang menggerogoti. Namun bukan berarti kita berhenti berusaha dan belajar. Semangat para Superman dunia!!

 

Quotes.

"damaikan diri tanpa bergantung pada kepedulian dan penilaian orang lain."- noname

"uang, semakin dicari akan semakin kurang."- dzawin nur

"selalu ada berkah di setiap masalah, untuk kita ambil hikmah."- roy ricardo

"your are the best on what you are believe, not the article tells."- myself

"selalu orang ingin diterima dengan cara yang salah, memaksakan keyakinan diri kepada mereka."- myself

images

loading ...