article

aaron nikita

aaron nikita

Apr 04, 2025

201

seluruh kejadian, nama tokoh, tempat dan alur dalam cerita ini adalah karangan belaka. apabila terdapat kesaamaan atau kemiripan adalah hal yang tidak disengaja. selamat membaca

images

“Aaron... mau kemana buru-buru?” Tegur Pram melihat gelagat rekan kerjanya yang telah mengemasi alat kerjanya lalu bergegas keluar ruangan sembari membawa tas dan mengenajakan hoodie MLB-nya. Sebuah pemandangan janggal bagi pemuda yang terbiasa pulang larut, meskipun di bulan puasa seperti saat ini. Rekan kerja lainnya pun bersahutan menimpali. Sore ini baru pukul setengah empat, matahari masih gagah bersinar dengan terangnya. Aaron menjawab sekenanya sembari berlaluNgejar berkah ramadhan...”. Mendengar jawaban janggal itu, rekan kerjanya hanya bisa membisu sembari menggeleng kepala. 

Aaron, pria pengejar karir umur 28 tahun, berkacamata dan berkepala plontos. Sudah 5 tahun ia merantau di Ibukota setelah lulus dari perguruan tinggi di kota asalnya, Palembang. Dalam perantauannya itu, tidak pernah ada kisah percintaan didalamnya. Sesungguhnya ia bukan tidak mau, semesta saja yang belum berpihak padanya. Mengagumi orang ia pernah, berandai seolah ia bisa menambatkan hati, jiwa dan waktunya pada sesosok gadis cantik. Kekagumannya tidak pernah menyeberang berupa tindakan. Aaron terlalu pemalu, dengan banyak ketidakpercayaan diri yang entah terbangun dari hutan mana tempat mana ia disihir. Yang menjadi masalah adalah ketidakpercayaan diri itu justru ditutup dengan tingkat konyol dan gaya bercandanya yang “cringekepada semua orang. Ia sengaja menjelma menjadi orang lain, tangguh, riang, dan tanpa beban namun rapuh dan hancur didalamnya. 

Hari ini Aaron ada janji untuk bertemu dengan seseorang di cafe di dalam sebuah mall. Bukan Aaron yang menginisiasi pertemuan itu, bukan pula orang yang akan ditemuinya, yang kebetulan seorang gadis. Adalah orang tua gadis itu yang membuatkan appointment diantara mereka, secara sengaja dan bukan suatu kebetulan. Diantara mereka tidak ada clue sama sekali bahwa sebenarnya hanya mereka berdua yang akan bertemu, ngabuburit dan buka puasa berdua saja. Sebuah jebakan baik” di bulan baik. Bagi Aaron, pertemuan hari ini adalah sebuah kejadian janggal ke 1.625 baginya. Berbuka puasa dengan orang lain, keluarga lain. Semacam ia menumpang bahagia di kendaraan berbuka keluarga orang, dimana hampir bisa dipastikan ia tidak akan diminta patungan ongkos bensin. Sumringah sekaligus getir. Maklum, Aaron yang pendiam mempunyai kriteria etika dan prinsip hidup yang tinggi. Ia tidak ingin terperangkap dalam cengkeraman hutang budi. Biarlah orang lain yang mengganggap telah berutang budi kepadanya, namun jangan sampai sebaliknya. Sebuah prinsip naif yang menjadi senjata makan tuan, selalu, membuat ia mudah diperdaya dan dimanfaatkan 

Aaron sengaja pulang cepat, ia ingin bersiap terlebih dahulu. Tidak mungkin ia menerima ajakan berbuka bersama dengan keadaan kucel dan berkeringat seperti itu, meskipun sebenarnya ia hanya duduk saja di ruangan kerja ber-AC tanpa banyak bicara dan hanya fokus pada layar komputer serta keyboarnya saja, seperti itu selalu dan berulang setiap  hari. Toh Enchanted Cafe tempat ia menuju sejurus dengan kos-nya. Akan cukup waktu baginya untuk pulang kos, mandi dan berbenah diri sebelum menuju cafe tersebut. Dan seluruh rangkaian proses itu butuh waktu maksimal satu setengah jam. Aaron terbiasa tiba sebelum waktunya saat pergi janjian dengan orang lain. Baginya lebih baik ia menunggu daripada ia ditunggu. 

Setelah selesai berbenah, tanpa waktu lama Aaron bergegas menuju tempat janjian yang dituju. Taksi datang tidak lama setelah ia memakai sepatu kets kebanggaannya. Sore itu ia berbeda total dari Aaron yang dikenal orang selama ini, lugu, kaku dan tidak menarik dengan gaya dandanan khas pegawai jaman dulu. Taksi segera melaju, sedikit ramai sore itu, mungkin semua orang sedang terburu2, entah untuk segera pulang atau untuk berbuka  bersama di tempat yang sudah disepakati, sama sepertinya. Tanpa disadarinya, Aaron meracau, seolah sedang berbicara dengan orang lain, teman maya mungkin. Sopir taksi menyadari keanehan tersebut. “Mas, lagi ada masalah ya?” ucap sopir mencoba memulai diskusi. Mendengar pertanyaan tersebut, Aaron kebingungan segera menjawab “Hah? Ehm nggak sih, kenapa pak?”.Enggak kenapa-kenapa sih mas, cuma kok mas kayak ngomong sendiri gitu. Apa lagi ada masalah apa gimana. Maaf ya mas kalau saya ga sopanburu-buru sopir itu mengklarifikasi, khawatir si penumpang merasa tidak nyaman. Menyadari bahwa tingkah anehnya di-notice, Aaron pun juga mengeluarkan jurus klarifikasi. “Ahh nggak kok pak. Sorry kalau keliatan aneh, cuma saya kelepasan kalau lagi grogi, suka ngomong sendiri”. Dilihatnya jam tangan di pergelangan tangan kanan-nya, setengah jam lagi kira-kira ia sampai menuju Enchanted Cafe. Entah karena sama-sama merasa awkward, keduanya tenggelam dalam obrolan sekenanya dalam perjalanan, obrolan tentang bagaimana menguatkan hati dan menekan ekspektasi. Sebuah pemandangan janggal melihat Aaron seakrab itu, tidak terlalu aneh bagi yang telah mengenalnya lebiih dalam. Ia sedang grogi tingkat tinggi, level 2.875 

Taksi berhenti di lobby mall, Aaron bergegas keluar. “Semangat ya mas, semoga sukses”. Begitulah sang sopir mengucapkan salam perpisahannya. “Oke pak, terima kasih banget petuahnya.”jawab Aaron sambil berlalu menuju pintu mall yang akan mengarahkannya menuju level 3A. Aaron segera berlalu menuju eskalator, sembari melihat kiri kanan, berpikir tentang apa yang harus dibawanya. Ini bukan kali kesekian ia mendapat undangan, namun undangan berbuka puasa dengan keluarga atasannya, butuh keberuntungan 200 tahun reinkarnasi untuk mencapai hal tersebut, bagi Aaron. Sekilas dari ujung kiri matanya, ia melihat stall cookie dengan warna sage bertumpuk. Baiklah, itu saja, pikirnya, yang simple dan entah saldo m-banking nya akan sanggup menjawab dering kasir nota pembayarannya. 2 kaleng kecil piped cookie telah ada di genggaman jemari kirinya, percaya dirinya semakin meningkat. “Ibu...aaron sudah sampai di cafe yapesan itu dikirimkan ke atasannya, menginfokan bahwa ia telah sampai di kafe, 10 menit lebih awal, khawatir mereka saling menunggu. Bahwa Aaron sedang bingung, ini kalli pertama ia ke kafe tersebut, ia tidak tau harus apa dan menunggu dimana. Aaron berdiri mematung di sebelah kanan jalur masuk kafe tersebut. Sambil scrolling aplikasi social media, tiba-tiba dering membuyarkan konsentrasi berdirinya. “Ok, masuk aja tunggu di dalam, bilang aja reservasi dari saya. Bentar lagi kok”. Melihat pesan tersebut, Arron masuk ke kafe, mencari waiter untuk ditunjukkan dimana ia harus duduk. Kafe itu lumayan besar untuk ukuran sebuah kafe di dalam mall di level 3A. Bernuansa Retro Classic American, sore itu pengunjung kafe tidak terlalu ramai. Aaron bertanya dalam hati, bukankah seharusnya kafe ini penuh oleh pengunjung yang akan berbuka?. Aaron semakin masuk ke dalam kafe , dengan diantar waiter, ia ditunjukkan sebuah dome kecil di sisi luar kafe, berada di area semacam balkon mall tersebut, dengan sisi kiri kanannya berlatar kebun anggur yang disusun secara hidroponik. Sebuah pemandangan yang ganjil untuk sebuah kafe. Keganjilan berikutnya menanti, Aaron terkejut ketika memasuki dome kecil itu hanya ada sofa melingkar kecil dengan sebuah meja di tengahnya, mungkin hanya cukup untuk 3 orang besar, atau 2 orang besar dan 2 anak kecil. Yakin buka bersama disini?cukupkah? Aaron tidak berani bertanya kepada waiter untuk memastikan. Ia menengok kiri dan kanan, Dome-dome serupa tersaji  disekitarnya, dan hanya ada 2 meja kecil lainnya diluar dome. Dimana ia akan menghabiskan makan bersama keluarga atasannya? Pikirannya berkeliaran di kepala melihat pemandangan itu tanpa ia sadari di kejauhan matahari mulai bergerak turun bersembunyi di balik gedung-gedung berlatar temaram senja berwarna jingga. Aaron duduk di dalam dome menenggelamkan dirinya di layar handphone. 

Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 17:30 saat tiba2 sesosok berbaju casual dan berkerudung menyapaM..mas Aaron”. Mendengar suara itu Aaron menengadahkan kepala sambil menjawabIya..”.Nikita mas...Anak Ibu Paula...” kembali gadis itu bersuara. “Oh..iya...Ibu mana?” seketika Aaron membenarkan posisi duduknya sembari memberikan sinyal mempersilahkan duduk. “Hmm...itu dia . Aku ga tau mama dimana..katanya disuruh temuin dulu mas Aaron..Dari tadi aku chat blm balasjawab Niki, panggilan gadis itu. “Duduk ya mas.” “Hah....gimana? Kok terlalu sinetron sekali iniuntung ini hanya suara hati Aaron. Ia merasa skenario ini terlalu janggal untuk mirip dengan cerita-cerita sinetron yang sama sekali ia belum pernah tonton. Saat pikirannya masih bertarung untuk entah apa, getaran Hp menyadarkannya. Saya sudah bantu kamu sejauh ini. Tunjukkan perjuanganmu. Pokoknya saya ga ingin Niki pulang sedih. Enjoy berbukanya, saya sudah handle semua.” Eh apa ini, ini bukan chat yang tepat di momen canggung seperti sekarang ini. Terlalu banyak kata ini disini. “Aneh ya aku udah WA sama telpon mama tapi ga direspon.”Nki membubarkan kebingungan dan keheranan Aaron. Ia tersadar kemana ini arahnya dan mengapa harus di table yang ini. Tuh kata ini keluar lagi, Aaron benar2 berputar di pusaran yang ia jarang kenal, ombak kasmaran. “Emm...Tadi kamu bilang udah berapa kali kesini? Tiba-tiba Aaron bertanya. “Hah, aku kan baru datang. Kita belum ngobrol loh ini.” Niki menjawab kebingungan. Buru-buru Aaron meralat “Oh maksudku, kamu sudah pernah kesini sebelumnya? Jujur ini baru pertama aku kesini, dan aku ga tau harus ngapain ini.” “Dan kayaknya, kita memang cuma disuruh berbuka berdua aja deh. Maaf yakalimat Aaron barusan membuat Niki mengernyitkan dahi. “Ibu chat aku, beliau titip pesan jaga dan temani kamu, jangan sampai kamu pulang dengan aneh. Sepertinya ini semua disiapkan untuk kita, dan udah dibayarnya.” Tiba2 Aaron mempunyai kekuatan super level 3.744 untuk mengaku kepada Nikita. Sebelum Niki sempat berucap, Aaron menyodorkan tangannya tanda ia ingin berjabat. “Namaku Aaron. Nikita yang kebingungan entah karena alasan apa menyambut ajakan Aaron untuk berjabat. “Hah, oh iya aku Nikita”. Dan akhirnya mereka coba memecahkan kebingunan dan kecanggungan diantara mereka dengan saling bertukar cerita hidup masing-masing. Dimulai dari Aaron yang kini telah 5 tahun merantau dan sedang meniti karir namun tanpa pernah meniti asmara sekalipun, hingga akhirnya sampai di situasi ini, dibantu oleh atasannya, Mama Nikita. Sejurus kemudian Nikita gantian menceritakan kisahnya, bahwa ia baru saja mendapat gelar sarjana kedokterannya dan sedang bersiap melaksanakan co-assistance untuk menyempurnakan gelarnya kelak, sebuah perjalanan akademis yang membuat ia terlupa bahwa ia juga perlu cinta, hal yang diingatkan secara janggal oleh ibunya, di situasi aneh seperti ini. Lama-lama mereka akhirnya mereda, dengan perlahan mengakrabkan diri dan membuka kemungkinan atas cerita mereka, selain kakir dan pendidikan. Tiba-tiba suara piring dan gelas saling berada di hadapan mereka, sebentar lagi akan berbuka,  ternyata obrolan mereka seasyik itu tanpa sadara bahwa waktu berbuka tinggal beberapa menit lagi. Dan akhirnya tiba waktu berbuka, mereka menyantap makanan yang ada dihadapan masing-masing, nikmat sekalli, dengan tetap diiringi obrolan hangat berikutnya. 

Aaron terbangun dari tidurnya, tanpa sengaja ia tertidur di kursi teras rumahnya. Ia menengok jam di pergelangan tangannya dan kemudian ia juga menengok layar Hpnya, pukul 17:30. Sekilas ia memandang sekeliling. Ia merasa mengenal situasi ini, di waktu yang ini, namun dengan pemandangan yang lain. Aaron teringat situasi itu, berbeda dengan saat itu, hangatnya sama namun rasanya lain. Sejak pagi ia keluar rumah dengan baju koko nya, bertandang ke rumah paman, bibi dan nenek kakeknya lama ia tidak jumpa, bertukar cerita, situasi yang meskipun ia introvert dan jarang berkomunikasi dengan orang lain namun ia mau berkorban apabila situasi tersebut adalah dengan keluarga tercintanya. Akhirnya, Aaron pulang dengan kelelahan, mengeluarkan seluruh tenaga dan cadangannya untuk berkumpul dengan keluarga di hari lebaran. Ia sengaja duduk dengan malas di kursi teras rumahnya dengan tws terpasang ditelinganya, dan perlahan matanya tertutup. Dan kini saat ia terbangun, masih terdengar lantunan lagu di telinganya, sebuah Reff lagu dari Sheila on7 dengan judul Alasanku, mengantarnya menyaksikan matahaari tenggelam dalam senja. 

Kau alasanku untuk dewasa, dan aku tak ingin kau terluka, segenap jiwa akan kujaga....keindahanmu 

Quotes.

"the greatest glory ini living lies not in never falling, but in rising everytime we fall."- nelson mandela

"to improve is to change, to be perfect is to change often."- winston churchill

"menghakimi cenderung hanya untuk membuat diri merasa lebih baik atas beberapa hal yang tidak dialami dalam hidupnya."- coki pardede

"kalau bisa, hindari berutang budi. di tangan yang salah utang budimu bisa jadi tagihan tanpa batas."- js khairen

"setiap upaya menghindari takdir adalah jalan menjemput takdir."- sujiwo tedjo

images

loading ...